Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi
Part 44


__ADS_3

Di dalam mobil, dalam perjalanan pulang, Zafran menangis dalam diam. Hatinya sungguh sakit, sesak. Ingin dia meraung keras, berteriak, tapi apalah daya.


"Pasti begitu berat hari-hari yang kamu lalui, Sa. Maafkan aku, maaf, maaf... maaf, aku tidak ada di sampingmu saat kamu terpuruk. Aku pria bo doh, pria tidak berguna."


Lelehan air matanya terus mengalir. Seorang pria yang tangguh menangis begitu mengetahui fakta bahwa gadis pujaan hatinya lupa ingatan karena sebuah kecelakaan malam itu. Sungguh! Dia merasa menjadi pria tidak berguna.


Apalagi mendengar berita perjodohan Ceisya yang diceritakan Umi Hanum tadi. Seketika membuatnya ingin menyerah, pasrah dengan keadaan. Pria itu pasrah dengan apa yang sudah diatur oleh Tuhan.


Menyerah? Zafran seketika sadar. Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Seorang Zafran tidak boleh menyerah. Harus maju melawan rintangan!" gumam pria itu lalu menyeka air matanya.


Pria itu baru ingat, lusa tugasnya di kota ini sudah berakhir. Tapi, diberi kebebasan selama tiga hari untuk menikmati keindahan kota S. Pria itu bersyukur, karena masih ada setitik harapan untuknya. Dia harus kembali membawa gadisnya itu ke dalam pelukannya.


Hari pun berlalu tidak terasa waktu Zafran bertugas telah habis, kini pria itu tengah menikmati sisa-sisa hatinya berada di kota itu.


Bukan menikmati yang berarti jalan-jalan mengelilingi kota itu, tapi, menikmati baginya adalah tengah berusaha mendekati Ceisya lagi. Berjuang untuk mengembalikan ingatan gadis itu.


Sungguh, pria itu tidak rela apabila melihat Ceisya bersama pria lain.


Ini kedua kalinya Zafran mendatangi kediaman Ceisya saat ini. Pria itu membawa paper bag, satu paper bag yang dulu tidak diberikannya dan satunya lagi sebagai tanda buah tangan.


Pria itu mengetuk pintu lalu mengucap salam. Tidak lama pintu terbuka menampakkan seorang pria yang sebaya dengannya.


"Ada apa?" tanya Azril, kebetulan siang itu dia berada di rumah karena hari ini jadwalnya kosong.

__ADS_1


"Umi ada?" tanya pria itu memanggil Hanum dengan sebutan Umi, itu adalah permintaan Hanum sendiri pas saat pertama kalinya Zafran ke sini tepatnya saat Umi Hanum menceritakan tentang Ceisya.


"Ada. Silahkan masuk!" balas Azril sopan lalu mempersilahkan pria seumurannya itu masuk ke dalam.


Kedua pria itu duduk berhadapan, tidak lama Umi Hanum datang karena dipanggil Azril. Perempuan itu cukup terkejut dengan kedatangan Zafran.


"Loh! Sudah lama, Nak?" tanya Hanum.


Zafran bangkit lalu menyambar tangan Hanum kemudian salam dengan takzim.


"Baru saja kok, Umi. Ceisya ada?" tanya Zafran.


"Ada kok. Tuh lagi di kamar. Sebentar ya? Umi panggilin dia dulu." Hanum langsung berlalu menuju kamar Ceisya yang berada di lantai bawah.


"Maaf, Bang. Apa Abang kenal dengan Ceisya?" seru Azril memecah keheningan mereka.


"Tidak juga, Bang. Ya begitu lah." Azril yang plin plan menjawan membuat Zafran resah.


"Apa kamu menyukai Ceisya?"


Sunyi


Azrik memilih untuk diam. Menunggu pria itu berucap, entah mengapa Azril sangat penasaran.


"Jika iya, aku cuma meminta kamu untuk menjaga dia. Jagalah dia, sayangi dia, dan cintai dia. Seandainya kalian menikah, aku ikhlas, aku rela. Biarlah Ceisya bahagia bersama orang yang tepat. Itu juga bisa membuatku bahagia."

__ADS_1


"Aku bukan pria yang sempurna, aku tau kamu pasti bisa membuat Ceisya bahagia. Biarlah aku dilupakan." sesungguhnya pria itu tidak tela bila harus mengucapkan kata-kata itu. Kalimat yang membuatnya lemah, lemes.


Azril hanya tersenyum menanggapi, dugaannya benar bahwa ada pria yang tengah menunggu ingatan Ceisya pulih kembali. Dia pria baik-baik, pria yang tidak memaksa kehendak-Nya. Apapun itu dan siapapun itu pasti sudah ada yang mengatur.


"Aku hanya menyukainya belum mencintainya. Jika Abang ingin mendapatkannya, maka... berjuanglah. Kalau Abang mundur maka aku akan maju. Aku serius, Bang. Jika kamu ingin menyerah sekarang silahkan, sekarang juga aku akan langsung maju."


Zafran ketar-ketir dibuatnya. Pria itu terlihat kelabakan.


"Buktikan bahwa kamu bisa berada di sampingnya, Bang. Buktikan kalau kamu itu pria yang tepat untuknya. Sesungguhnya tidak ada seseorang yang sempurna di muka bumi ini terkecuali Dia."


"Apa aku bisa? Aku bukan pria yang baik. Kamu lah pria yang baik."


"Tidak semuanya manusia itu baik, Bang. Ada kalanya orang itu berbuat jahat."


"Tapi, kalian sudah dijodohkan. Apa itu bisa dibatalkan. Itu membuatku takut."


"Insya Allah, Bang. Perlahan-lahan, Abang ngomong dulu sama Umi dan Abah beserta kedua orang tua Ceisya. Sampaikan niat baik Abang sebelum Ceisya-nya diembat olehku." pancing Azril.


Zafran seperti tertantang dibuatnya. Seakan-akan ada tangan yang mendorongnya untuk maju, melangkah ke depan.


.


.


.

__ADS_1


Mas Azril beneran suka sama Ceisya 🤔👀


__ADS_2