Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi
Part 39


__ADS_3

Sudah 1 bulan Ceisya dirawat di rumah sakit, kini gadis itu sudah diperbolehkan pulang asal rutin menjalani segala pengobatan dari dokter dan tidak lupa juga meminum obatnya secara teratur. Luka di tubuhnya juga sudah membaik walau sedikit ada lebam-lebam. Beruntung itu di tempat tertutup.


Hari ini juga keberangkatannya ke luar kota, tepatnya di kota S. Ayah Faisal setia mendampinginya sedangkan sang Bunda tidak ikut karena takut meninggalkan Rizki sendirian di rumah. Lagi pula Ayah Faisal hanya sebentar menemaninya sekitar 2 hari lalu setelah itu kembali pulang.


"Baik-baik ya nanti di sana. Ayah hanya menemani sekitar 2 hari." ujar Ayah Faisal yang saat mereka di bandara, duduk di kursi selagi menunggu waktu keberangkatan.


"Iya, Ayah." jawab Ceisya seadanya.


Tidak lama terdengar pemberitahuan bahwa pesawat akan segera lepas landas. Ayah dan anak itu segera meninggalkan bandara.


4 jam sudah berlalu, kini mereka telah tiba di bandara kota S. Ayah Zaki sempat menghubungi Aryo, mengatakan mereka akan segera sampai dan saat itu sedang berada di bandara.


Mereka berangkat ke tempat kediaman Aryo menggunakan taksi. Ceisya yang lelah akhirnya tertidur lelap. Akhir-akhir ini dia sering mengantuk membuatnya sering tertidur. Mungkin itu efek obat yag dia minum ataukah efek suntikan obat penenang yang selalu dia terima saat di rumah sakit?


Tidak lama kemudian taksi itu berhenti tepat di depan sebuah pesantren. Ayah Zaki lekas membangunkan Ceisya yang masih tertidur pulas. Pria itu menepuk pelan pipi sang anak hingga membuat gadis itu membuka matanya.


"Udah sampai, Yah?" tanya Ceisya sembari menyesuaikan penglihatannya.


"Udah. Bangun yuk!"


Ceisya mengangguk lalu keluar dari taksi, Ayah Zaki menunggu supir taksi mengeluarkan barang-barangnya. Setelah itu Ayah Zaki mengeluarkan selembar uang berwarna merah lalu mengunjukkannya pada supir taksi.


Ayah dan anak itu masih berdiri di depan pesantren. Lalu Ayah Zaki menuntun Ceisya untuk memasuki sebuah jalan kecil di samping pesantren itu. Rupanya kediaman Aryo tepat di belakang pesantren.


Jarak antara jalan kecil itu menuju kediaman Aryo sekitar 200 meter.


"Tok... tok... tok... assalamu'alikum."


Ayah Zaki terdiam sambil menunggu jawaban. Tidak lama pintu terbuka menampakkan seorang wanita yang memakai pakaian tertutup. Ayah Zaki langsung mengatupkan kedua tangannya, beda dengan Ceisya gadis itu langsung menyalami tangan Hanum.


"Umi, Ceisya kangen." rengek Ceisya manja membuat wanita itu menatap Ayah Zaki bingung.


"Nanti aku jelaskan." ujar Ayah Zaki. Karena sebelumnya dia hanya menjelaskan perihal kecelakaan Ceisya saja dan mengenai traumanya. Sedangkan perihal hilang ingatan, Ayah Zaki belum menjelaskannya.


"Yasudah. Mari, masuk!" ucap Hanum sambil merangkul pundak Ceisya mengajaknya masuk ke dalam.


"Aryo mana?" tanya Ayah Zaki saat telah duduk di sofa ruang tamu. Sangat adem, sunyi dari hiruk piruk kendaraan bermotor.

__ADS_1


"Lagi di pesantren, mengajar santri putra sebentar sembari menunggu kedatangan kalian. Paling tidak lama dia sudah datang." jelas Hanum.


Benar saja, tidak lama Aryo masuk ke rumah sambil mengucapkan salam. Pria itu cukup terkejut dengan keberadaan Ayah Zaki dan juga Ceisya. Ternyata dia cukup terlambat karena urusannya tadi sebentar di pesantren.


"Sudah lama? Maaf, tadi ada urusan sebentar." sahut Aryo melirik tidak nyaman ke arah temannya.


"Tidak apa-apa, Ar. Kami paham."


"Oh ya. Anak kamu, gimana?"


"Seperti yang kamu lihat. Dia sudah membaik. Apa kita bisa mengobrol sebentar?" ujar Ayah Zaki mengkode. Aryo lekas mengerti, dia melirik istrinya mengkode agar membawa Ceisya jauh dari mereka.


"Sayang, ikut Umi yuk! Umi tunjukin kamarnya sekalian bawa barang-barang kamu."


"Iya, Umi." jawab Ceisya lalu menyeret kopernya itu.


Ayah Zaki melirik. "Mau Ayah bawakan?" tawarnya langsung mendapat tolakan.


"Tidak, Yah. Lagi pula ini tidak terlalu berat kok." jawab Ceisya membuat semuanya tersenyum.


"Iya, Ayah."


Dua orang pria yang melihat itu tersenyum. Lalu mereka mengobrol menanyakan kabar satu sama lain.


"Ada hal penting yang harus aku katakan, Ar." ujar Ayah Zaki tiba-tiba serius.


Aryo tak kalah serius menanggapinya. "Apa itu?" tanya Aryo penasaran.


"Ceisya, dia hilang ingatan." Ayah Zaki menjeda sedangkan Aryo dengan ekspresi terkejutnya. Walau terkejut, dia tidak mau memotong pembicaraan seseorang. Tidak sopan namanya.


"Waktu lalu aku hanya bilang kalau dia kecelakaan dan traumanya, kan?"


"Maaf, aku bisa kasih tau sekarang."


"Tidak apa, Ki. Aku maklum. Lagi pula sangat tidak enak kalau memberi kabar melalui telfon." balas Aryo.


"Aku mau minta tolong. Tolong bimbing Ceisya selagi aku menitipkannya di sini. Dia butuh ketenangan. Tolong juga jangan paksakan dia untuk mengingat sesuatu hal yang dia lupa. Ingatannya hilang di waktu 3 tahun yang lalu. Jadi, dia merasa masih bersekolah di bangku SMA. Dan aku rasa... dia akan sedikit lengket pada kalian mengingat dulu dia sangat dekat saat setiap berkunjung ke sini." jelas Ayah Zaki panjang lebar.

__ADS_1


"Tenang saja. Aku pasti akan memperlakukan Ceisya seperti anak kandungku sendiri. Aku janji itu."


"Terima kasih, Ar. Kamu sahabatku yang paling baik."


"Sama-sama."


"Oh, ya! Aku baru ingat. Soal perjodohan yang aku tawarkan dulu?"


"Ah, iya. Baru saja aku mau membahasnya tapi sudah keduluan."


"Jadi, bagaimana?"


"Aku rasa bagus juga. Tapi, jangan beri tahu Ceisya dulu soal ini. Berikan waktu untuk mereka melakukan pendekatan terlebih dahulu. Oh ya. Anakmu mana?" tanya Ayah Zaki.


"Dia menghadiri undangan acara pengajian. Paling malam nanti dia pulang."


"Tumben rumah kamu sepi? Anak-anak yang lain pada ke mana?"


"Lagi berkunjung ke rumah suaminya masing-masing. Dari kemarin mereka belum pulang. Mungkin besok pagi pulangnya."


"Perjalanan panjang kalian pasti capek. Istirahat dulu ya. Atau mau bersih-bersih?"


"Boleh. Pinggangku rasanya sedikit sakit. Maklum faktor usia tidak lagi muda." dua pria itu saling tertawa.


Aryo langsung mengantarkan Ayah Zaki ke kamar tamu. Sedangkan Ceisya, gadis itu sementara akan menempati kamar anaknya di lantai atas teratas.


Tidak terasa malama menyambut, langit yang terang bertukar menjadi gelap dengan gemerlip bintang di langit, bertebaran membentuk pola-pola di langit. Cahaya bulan menerangi.


"Obatnya, Sayang." Hanum memberikan obat pada Ceisya yang sebelumnya sudah dititipkan oleh Ayah Zaki kepadanya.


Gadis itu sudah berada di kamar sehabis makan malam. Malam ini dia diminta beristirahat lebih awal karena efek perjalanan yang mungkin membuatnya capek.


Jam 9 kurang lima menit gadis itu bahkan sudah tertidur dengan lelapnya. Hanum dengan sentiasa menemani gadis itu sampai tertidur lelap. Wanita itu menaikkan selimut ke badan Ceisya hingga sebatas da da.


Kemudian wanita itu keluar, menutup pintu dengan pelan. Setelahnya dia turun ke bawah menemani para lelaki yang asik mengobrol. Tiba-tiba obrolan mereka terhenti saat sebuah suara masuk ke telinga mereka. Menatap penuh tanya.


"Assalamu'alaikum, Umi, Abi... Azril pulang." sahut seorang pria yang baru saja masuk.

__ADS_1


__ADS_2