
Netra mata Ceisya terus bergerak ke sana ke mari sambil melangkahkan kakinya. Melihat banyaknya lomba-lomba yang diadakan oleh sekolah antar sekolah. Banyak juga sebagian murid dari sekolah lain datang ke sekolah itu untuk mengikuti lomba atau memberi support untuk teman-temannya.
Langkah kaki Ceisya terhenti saat melihat ke atas panggung yang sedang ramai memainkan alat musik. Entah itu gitar, piano, biola, dan masih banyak lagi.
Sedikit tertarik, Ceisya semakin mendekatkan dirinya mendekati panggung. Dia berdiri tepat di depan panggung yang berjarak belasan meter dari posisinya.
Sudah lebih 30 menit Ceisya berdiri di situ membuat dirinya jenuh dan sedikit letih.
Jam masih menunjukkan pukul 10.00 pagi. Mungkin lomba akan selesai sekitar pukul 1 siang. Mungkin. Itu hanya prediksinya saja mengingat Ceisya sudah pernah mengikuti acara tersebut.
Berdiri terlalu lama membuat tenggorokannya kering. Ceisya memilih untuk pergi ke Kantin.
Ceisya berjalan sambil matanya terus memandangi ponsel di tangannya. Ceisya bukanlah termasuk orang yang ceroboh. Tapi, entahlah. Untuk waktu saat ini dia begitu lalai.
Brukkk
"Aaaaaaa...ponselku."
Ceisya menundukkan kepalanya melihat ponselnya yang sudah tergeletak di tanah.
Baru saja Ceisya akan mengambilnya tapi sudah didahului oleh seseorang yang baru saja dia tabrak.
Ceisya mendongakkan kepalanya melihat siapa orang yang telah dia tabrak. Seketika mulutnya ternganga lebar dan juga bola matanya membesar.
"O-om, Om kenapa bisa a-ada di sini?" gagap Ceisya sambil memperhatikan raut wajah Zafran yang tanpa ekspresi.
Sekian lama Ceisya baru bertemu dengan Zafran. Rupanya bukan Ceisya juga yang merasakannya.
"Ponselku, O-om." Ceisya berjinjit untuk mengambil ponselnya yang berada di tangan Zafran. Sebenarnya itu adalah hal yang mudah. Tapi, Zafran mengangkat tangannya tinggi-tinggi yang membuat Ceisya kesusahan untuk mengambilnya.
Zafran terdiam memandang Ceisya tanpa ekspresi membuat gadis itu menelan ludahnya kasar.
Pov Author
Zafran menghentikan mobilnya tepat di area parkiran mobil.
"Sudah sampai." ujar Zafran sambil melepas seatbeltnya.
"Iya, Bang." sahut Rizal kemudian keluar diikuti oleh Zafran.
Rizal memberhentikan langkahnya saat sudah berada di pinggir lapangan.
"Bang, tidak apa-apa kan kalau aku tinggal? Soalnya harus ada yang mau aku urus mengingat aku anggota Osis." ujar Rizal.
"Ya. Pergilah! Aku akan berkeliling dulu."
__ADS_1
Sebelum Rizal beranjak, dia terlebih dahulu memberitahukan sudut-sudut sekolah.
"Kalau Abang mau ke Kantin. Abang ke arah sana. Dan kalau ke toilet di sebelah sana. Oke, Bang?"
"Iya."
Zafran melangkahkan kakinya melihat aneka lomba lainnya. Tidak sengaja Zafran bertemu dengan teman lamanya semasa SMA dulu.
Mereka pun sempat mengobrol, saling bertukar kabar dan bertukar nomor ponsel. Tidak disangka Zafran bisa juga bertemu dengan teman lamanya.
"Than, aku ke sana dulu ya? Kau tidak apa-apa kan aku tinggal? Soalnya adikku sudah menunggu kehadiranku untuk melihatnya mengikuti lomba." pamit Edo pada Zafran teman lamanya.
"Baiklah, Do. Bersenang-senanglah. Aku titip salam sama adikmu itu ya. Tidak terasa dia sudah dewasa mengingat dulu sangat cerewet." balas Zafran.
"Hahahaha...baiklah, Than. Sampai bertemu kembali. Jangan sampai lupa ya kalau kita itu sudah saling bertukar nomor ponsel." goda Edo membuat mereka berdua tertawa.
"Tidak akan. Yasudah, kalau begitu aku juga mau pamit mau ke Kantin dulu."
Zafran langsung menuju Kantin. Sesekali dia bertawa kepada orang dimana area Kantin. Lihatlah! Baru saja Rizal memberitahunya, tapi, Zafran sudah lupa terlebih dahulu.
Saat sedang berjalan, Zafran tiba-tiba ditabrak oleh seorang gadis yang tengah asik dengan ponselnya. Zafran tidak tahu siapa itu karena posisi gadis tersebut menunduk.
Zafran menatapnya tanpa ekspresi. Segera dia mengambil ponsel gadis itu yang tergeletak di tanah. Saat gadis itu mendongakkan kepalanya, Zafran sedikit terkejut tapi secepat mungkin dia menutupi rasa terkejutnya.
Segera Zafran mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi saat Ceisya mau mengambil ponselnya. Enak saja mau mengambilnya sedangkan Zafran menjadi korban.
"Kau mau ini?" tanya Zafran dengan nada dingin. Serasa suasana di sana sangat mencekam.
"I-iya, Om." jawab Ceisya gagap tidak berani menatap Zafran.
"Ck! Kau tau apa kesalahan yang baru saja kau lakukan?" ujar Zafran tanpa menurunkan tangannya.
"Iya, Om. Aku minta maaf. Sekarang kembalikan ponselku!" pinta Ceisya mulai menatap manik mata Zafran.
"Maaf? Begitu mudahnya kau meminta maaf?"
Oh, ayolah. Sebenarnya Zafran tidak mempermasalahkan hal itu. Zafran mau sedikit bermain saja mengingat dia sudah lama tidak bertemu dengan gadis bar-bar ini. Sedikit mungkin?
"Terus...aku harus bagaimana, Om. Apa aku harus berlutut di hadapanmu sekarang? Aku rasa itu sedikit berlebihan. Kau terlalu mempermasalahkannya, Om. Aku hanya tidak sengaja menabrakmu. Tubuhmu juga tidak lecet kan? Kau lihatlah! Ponselku lah yang menjadi korban. Sekarang juga kembalikan ponselku, Om. Kenapa kau begitu suka mencari masalah denganku sih? Beruntung aku ini gadis yang baik serta rajin mena...hmptttt..." mulut Ceisya dibekap oleh Zafran menggunakan tangannya.
Telinga Zafran serasa terbakar mendengar ocehan panjang Ceisya. Tapi, itu yang dia inginkan bukan?
"Kau terlalu berisik untuk ukuran tubuhmu yang mungil ini. Mulutmu sudah seperti burung yang sedang mengikuti lomba kicauan." ujar Zafran.
"Lepas, Om!" sekira itulah yang Ceisya gumamkan dibalik telapak tangan Zafran.
__ADS_1
"Aduhhh! Jangan menggigit tanganku bo doh!" maki Zafran sambil melepas tangannya dan meniup-niupnya.
"Salah siapa menutup mukutku!" ujar Ceisya sambil menghirup pasokan oksigen.
"Cih!" Zafran hanya berdecih kesal kemudian berjalan memasuki Kantin dan duduk di salah satu kursi di sana diikuti oleh Ceisya.
"Om, kembalikan ponselku." pinta Ceisya penuh harap.
"Nanti." jawab Zafran sambil memasukkan ponsel Ceisya ke dalam saku celananya.
"Ish!" Ceisya menunjukkan raut wajah cemberut, tidak lupa dia melipat kedua tangannya di da danya.
Bibir Zafran berkedut berusaha untuk tidak tersenyum melihat tingkah Ceisya.
Zafran bangkit dari duduknya meninggalkan Ceisya yang tengah duduk dengan cemberut.
Tidak lama Zafran datang dengan kedua tangannya membawa nampan. Dia meletakkan dua mangkuk bakso dan dua gelas minuman di atas meja.
Ceisya tersadar, dia memandangi Zafran yang tengah menyusun makanan di atas meja. Kemudian Zafran duduk di hadapannya.
Zafran menyodorkan mangkuk ke arah Ceisya. "Makanlah dulu." ucapnya dibalas anggukan oleh Ceisya.
"Ponselmu." Zafran memberikan ponsel Ceisya saat sesi makan mereka telah selesai.
Ceisya mengambil itu. Wajahnya masih terlihat kesal. Hal itu malah membuatnya menjadi semakin lucu.
"Kau kenapa bisa ada di sini?" tanya Zafran membuka pembicaraan.
"Namanya juga manusia. Ya, bisalah kemana-mana." balas Ceisya.
"Jawablah dengan serius."
"Itu sudah serius, Om."
"Cih!"
Tring
Satu pesan masuk berhasil membuat keduanya saling pandang.
Segera Ceisya merogoh ponselnya dari dalam tas.
"Aku harus pergi, Om. Makanannya gratis kan?"
"Mau kemana kau?" tanya Zafran penasaran.
__ADS_1
"Rahasia. Yasudah, aku pergi dulu. Terima kasih atas traktirannya, Om." ujar Ceisya melenggang pergi.