Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi
Part 20


__ADS_3

Ceisya menepuk tangannya pelan berulang kali saat mendengar lagu yang dinyanyikan oleh Amel. Ceisya berdiri menghadap panggung yang tidak terlalu tinggi.


Ceisya menyikut lengan Rizki yang berada di sebelahnya menggunakan sikunya. "Bagus bukan?" puji Ceisya tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Amel yang berdiri di panggung sambil memegang mikrofon.


"Sangat." jawab Rizki yang juga memandang Amel.


"Aku rasa dia tidak buruk untuk dijadikan teman." lagi-lagi Rizki menganggukkan kepalanya.


"Dia cantik bukan?"


"Hmmm..." Rizki tidak merespon melainkan hanya berdehem mengabaikan pertanyaan Kakaknya.


"Ki."


Rizki terperanjat saat bahunya di tepuk oleh seseorang. Dia membalikkan badannya dan menemukan Rizal yang tengah menyengir dan Reinhard di sebelahnya.


"Apakah sudah selesai semuanya?" tanya Rizki kepada dua temannya.


"Sudah. Dan aku rasa ini perlombaan yang terakhir bukan?"


"Kau benar. Ini perlombaan yang terakhir. Dan setelahnya juri akan menentukan siapa pemenang dari masing-masing perlombaan ini." balas Rizki.


"Kalian? Dimana Abangmu Zal, dan Reinhard, Papamu?" tanya Rizki.


"Oh iya. Papaku sudah pulang karena ada urusan kantor katanya." jawab Reinhard.


"Kau, Zal?"


"Ada. Heumm...dimana yah? Perasaan tadi di belakang." Rizal menoleh ke belakang dan tidak menemukan orang yang dia cari. Yang ada malahan orang lain.


"Mungkin tersesat." sahut Reinhard asal.


Rizal ikut mengangguk. "Iya juga ya. Secara kan dia baru pertama kali di sini. Tadi saja aku harus menelfonnya."


Ceisya sempat melangkah lebih dekat mendekati panggung. Dia baru menyadari bahwa Adiknya masih di belakangnya. Saat akan membalikkan badannya untuk mendekati adiknya...


Brukkk


"Aish!"


Ceisya mengelus dahinya pelan sambil mendumel tiada henti. Dia mulai mengangkat kepalanya lurus. Tapi, yang dilihatnya hanyalah sebuah dada bidang yang berlapiskan kemeja hitam polos. Ceisya berpikir orang tersebut memiliki badan yang menjulang ke atas dan benar saja saat Ceisya mendongakkan kepalanya ke atas dia sudah melihat sesosok manusia itu tengah menatapnya.


Bibirnya mengerucut sebal kala melihat seorang pria yang sangat dia kenali tengah menatapnya datar.


Ceisya mengangkat jari telunjuknya dan menusuk-nusuk dada bidang itu. "Kau rupanya mengikuti ku bukan...? Om." ujar Ceisya dengan nada centilnya.


Zafran mengerutkan alisnya heran melihat tingkah laku Ceisya yang terbalik.

__ADS_1


"Siapa juga yang mau mengikuti bocah sepertimu!" balas Zafran ketus.


"Ah, masa?" goda Ceisya sekali lagi dan bedanya sekarang dia mengedipkan matanya sebelah membuat kedua bola mata Zafran melebar sempurna.


"Tidak ada gunanya mengikutimu!" ujar Zafran mengalihkan pandangannya ke arah depan melihat seorang gadis tengah membawakan lagu Tulus yang berjudul Hati-hati di jalan.


"Lalu...kenapa bisa kau ada di sini?" tanya Ceisya menatap Zafran intens.


"Kepo."


"Ish!" Ceisya menghentakkan kakinya kesal kemudian membalikkan badannya lagi menghadap panggung.


"Hey." Zafran menoel bahu Ceisya pelan menggunakan jari telunjuk.


Ceisya hanya diam, dia menggeserkan sedikit tubuhnya ke depan untuk menghindar.


Kedua kalinya bahunya di toel, bedanya sekarang di tepuk pelan. Ceisya abai.


Sampai ketiga kalinya itu terus terulang. Ceisya yang kesal akhirnya membalikkan badannya dan bersiap-siap menyemprot si pelaku.


"Om, jangan mengacauku!" teriak Ceisya tanpa melihat si pelaku.


"Maaf, Mbak. Saya cuma mau ngasih tau kalau Mbak di cari oleh cowok itu." tunjuknya ke arah belakang dimana Rizki tengah mencarinya.


Ceisya menggaruk kepalanya tidak gatal. Ternyata dia salah orang. "Eh! Maaf, Kak. Saya kira tadi seseorang yang saya kenal sedang menjahili saya." balas Ceisya kikuk.


Ceisya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Malu? Tentu saja. "Astaga! Aku sampai salah orang. Malunya!" batin Ceisya tanpa membuka kedua telapak tangannya.


"Ciee...malu nih?" ledek Zafran yang langsung mendekati Ceisya, berdiri di sampingnya.


"Kenapa kau tidak memberi tahuku, Om. Aku kan malu." lirih Ceisya yang nyatanya masih terdengar. Dia masih enggan untuk membuka telapak tangannya di wajahnya.


Zafran terkekeh pelan. "Kau juga salah. Kenapa tidak melihat orangnya terlebih dahulu. Begini kan jadinya."


Ceisya mulai melepaskan telapak tangan dan menatap Zafran kesal. "Kau juga ikut andil, Om."


"Aku?"


"Iya. Kau sangat jahil."


"Sungguh?" Ceisya menganggukkan kepalanya.


Ceisya meringis pelan saat tiba-tiba telinganya ditarik pelan. "Aduhh...aduhh..." keluhnya meringis pelan.


Zafran hanya memandang bingung saat seorang pemuda yang memakai seragam putih abu tiba-tiba menarik telinganya gadis itu.


"Kau kemana, hah!?" tanya Rizki sambil menatap tajam ke arah Kakaknya. Sebenarnya dia tidak terlalu khawatir kalau Kayaknya pergi menyusuri area sekolah. Tapi, yang dia khawatirkan adalah sang Kakak akan diculik. Tapi, kalau dipikir-pikir mana ada penculikan di siang bolong begini. Dan juga, mana ada penculik di tempat keramaian. Apalagi di sekolah. Kalau di luar tentunya hal yang wajar.

__ADS_1


Ceisya menatap adiknya yang menunjukkan raut wajah khawatir. "Oh ayolah. Aku hanya berpindah tempat sedikit saja. Kau jangan berpikiran yang macam-macam."


Zafran mulai berpikir siapa pemuda itu. Apakah adiknya ataukah pacar? Ternyata selera gadis itu cukup rendah, berondong. Begitulah pemikiran Zafran.


"Seharusnya kau memberi tahuku terlebih dahulu. Tahu begini aku tidak khawatir kepadamu." ujar Rizki yang mulai melepaskan jewerannya.


"Ya, maaf."


"Huft! Sudahlah." ucap Rizki pasrah.


"Jangan marah. Bukankah tadi kau janji akan membelikanku seblak?" rayu Ceisya.


"Seblak tidak jadi!" Rizki mengulum senyumnya saat melihat wajah kesal Ceisya.


"Ingkar janji adalah salah satu perbuatan yang di larang oleh agama. Jadi, apakah kau mau menambah dosa-dosamu itu?"


"Tidak mau." jawab Rizki.


"Yasudah. Berarti kau harus menepati janjimu tadi."


"Iya iya."


"Ekhem..." Zafran yang tadinya diam kini bersuara.


"Butuh aqua, Om?" tanya Ceisya.


"Tidak."


Rizki melirik Zafran dari atas hingga ke ujung kaki. Bingung saat melihat Kakaknya ini berinteraksi dengan Zafran.


"Jangan melihatnya seperti itu. Apakah kau tertarik padanya? Oh, tidak ku sangka kau menyukai sesama jenis. Ups..." ujar Ceisya menutup mulutnya dengan tangan kanan.


Rizki melotot begitu juga dengan Zafran. Tidak percaya Ceisya akan mengatakan hal itu dengan mudahnya.


"Sudah. Jangan marah-marah tidak baik untuk tekanan darah kalian." ujar Ceisya lagi.


"Aku pusing." Rizki memijat pelipisnya pelan kemudian berbalik dan berjalan menjauhi Ceisya.


"Aneh." lirih Ceisya pelan.


"Asal kau tau...aku ini pria normal. Jangan membuat opini seperti itu." sahut Zafran tanpa melihat Ceisya.


"Aku kan tidak bicara padamu, Om." balas Ceisya tanpa tahu ekspresi Zafran sekarang yang sedang menahan emosi.


"Kau!" Zafran tidak bisa berkata-kata. Dia lebih memilih pergi menemui Rizal yang rupanya sedang berkumpul dengan teman-temannya.


"Yah...aku ditinggal. Yasudah deh, lebih baik menunggu Amel selesai bernyanyi. Tidak enak kalau berkumpul dengan laki-laki." gumam Ceisya mengalihkan pandangannya ke arah panggung lagi. Mengabaikan para lelaki tadi.

__ADS_1


__ADS_2