Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi
Part 63


__ADS_3

Sesuai janji, paginya Zafran sudah berada di dalam kost-an Ceisya. Pria itu datang membawa sarapan dan beberapa cemilan. Sudah beberapa jam terlewati, kini hanya mereka berdua di dalam duduk di ruang tamu. Sementara Reva sudah berangkat kuliah karena jadwal mereka berbeda.


"Ini gini?" tanya Zafran menunjukkan hasil pekerjaannya.


"Wuih! Kok pinter ya?" puji Ceisya ikut senang.


"Iya dong. Meskipun aku gak masuk kuliah tapi pinter juga kan? Iyalah pinter, nilai rapor aja semua A." ujarnya memuji diri sendiri. Menepuk dadanya dengan begitu bangga.


"Dih narsis! Bisa ya pakpol yang dingin judes ketus gitu pedenya selangit?"


Zafran kembali membetulkan duduknya. "Ekhem... bisa dong. Kan cuman di hadapan kamu aja---Sayang." ucapnya tanpa ragu memanggil sayang. Tidak melihat saja ekspresi Ceisya yang saat ini sudah berubah menjadi tomat.


"Hayooo... malu ya? Itu pipinya merah gitu?" goda Zafran memasang wajah jahilnya.


"Ish! Apaan sih! Tuh lanjutin kerjaannya. Katanya mau bantuin." ucap Ceisya memalingkan wajahnya.


"Iya. Ini bantuin kok. Mana tadi materinya yang pengen diketik?"


"Itu tuh, cari aja di situ." tunjuk Ceisya di atas meja.


Lama mereka berkutat, jam pun sudah menunjukkan pukul satu siang. Zafran meregangkan otot-ototnya yang terasa pegal, begitu juga dengan Ceisya.


"Udah jam segini? Kamu siap-siap aja dulu. Kita cari makan bentar."


"Huummm iya bentar." jawab Ceisya lalu bangkit dan berjalan menuju kamarnya.


Zafran kembali melanjutkan pekerjaannya sembari menunggu Ceisya bersiap-siap. Tidak butuh waktu lama akhirnya gadis itu sudah rapi dengan pakaiannya. Ia merapikan buku-bukunya lalu memasukkannya ke dalam tas sesuai jadwalnya.


"Udah siap? Jalan sekarang ya?" tanya Zafran yang diangguki oleh Ceisya. Keduanya keluar dari kost-an Ceisya bersama-sama.

__ADS_1


Zafran melajukan mobilnya menuju salah satu restoran. Karena mereka belum makan siang.


"Nanti pulang jam berapa?" tanya Zafran kebetulan makanan pesanan mereka datang.


Ceisya meneguk sebentar minumannya lalu kembali meletakkan gelasnya. "Belum tau sih."


"Nanti kalau udah pulang kabarin ya? Biar aku jemput."


"Eh! Nggak usah, nanti aku pulang naik taksi atau gak ojek aja." ujar Ceisya dengan cepat menolak.


"No penolakan, Sayang. Jangan membantah. Makan makanannya sekarang, abis itu langsung ke kampus."


Ceisya hanya mengangguk menurut. Toh percuma saja dia kalau menolak pasti diserang balik.


Saat telah selesai, keduanya kembali melanjutkan perjalanannya. Zafran pun ikut turun, mengikuti langkah Ceisya yang ingin masuk ke dalam.


"Eh! Eh! Mau ke mana?" sontak Ceisya menahan pria itu.


"Ih! Jangan, jangan. Sampai di sini aja udah cukup. Makasih banget loh ya?"


"Udah, gak pa-pa. Lha wong aku cuman mau anterin aja kok, bukannya mau ikut kamu masuk ke kelas." ujar Zafran kekeh.


Sepanjang perjalanan Ceisya berulang kali menutup matanya malu. Semua orang memperhatikan mereka lebih tepatnya memperhatikan Zafran yang dengan gagahnya berjalan beriringan di samping Ceisya.


Ceisya mendongak saat merasakan dinginnya telapak tangan pria itu. Ia kembali melotot melihat tangan mereka sudah bertaut indah.


Ingin protes, tapi ia sudah dikode agar tetap diam dan menurut. Alhasil gadis itu benar-benar diam sampai suara pria itu mengagetkan.


"Kelasnya sebelah mana?" tanya Zafran berhenti sejenak.

__ADS_1


Ceisya menunjuk dengan jari telunjuknya. Lalu ia kembali di seret oleh pria itu. Sampailah mereka di depan kelas yang ditunjukkan Ceisya. Sontak mahasiswa-mahasiswi yang nongkrong di luar memperhatikan mereka berdua begitu juga dengan teman sekelasnya.


"Udah ya? Pulang sana." bisik Ceisya mengusir.


Zafran hanya tersenyum melihat Ceisya yang malu-malu kucing. "Iya, ini mau pulang kok. Semangat bekajarnya, nanti pulang aku kasih permen." bisik pria itu di ujung kalimatnya.


"Eh apaan! Aku bukan bocil ya yang disogok pake permen." protes Ceisya tidak terima.


"Tapi kamu bocilku!"


"Dasar pedofil." umpat gadis itu pelan.


"No problem." tangannya terarah ke arah kepala Ceisya membuat gadis itu segera menghindar.


"Udah, jangan di sini. Tuh liat! Mereka pada ngeliatin." bisik Ceisya lagi.


"Mungkin aku ganteng kali, makanya mereka ngeliat mulu?" tebaknya pede sekali.


"Hahaha, iya iya. Kalau gitu, SEKARANG PULANG!" tekannya memasang wajah horor yang ditahan oleh senyuman paksanya.


"Yang ikhlas dong." pinta pria itu menuntut.


"Ini udah ikhlas kok. Nih liat! Ikhlas kan?" tanya Ceisya memberikan senyuman tulus sebisa mungkin. Sedikit merutuki pria itu yang malah memintanya senyum di keramaian.


"Itu baru ikhlas. Yaudah, kamu masuk. Aku pulang dulu."


"Hati-hati!" peringat Ceisya seraya menikmati elusan tangan di kepalanya.


"Siap!"

__ADS_1


Selepas kepergian pria itu, Ceisya menghela nafas lega. Sedikit aman mungkin. Tidak memperdulikan lagi tatapan-tatapan aneh dari orang-orang.


__ADS_2