
"Akhirnya ini selesai juga." Daniel merentangkan tangannya ke atas sambil menghirup udara segar. Namun, tidak sesegar di wilayah perdesaan.
Siang tadi, tim mereka menangani jalanan yang macet akibat kecelakaan besar yang terjadi di persimpangan. Alhasil macet melanda. Dan sekarang masalah tersebut sudah teratasi.
"Zaf."
Zafran yang tengah asik memandangi jalanan menoleh seolah-olah bertanya "Ada apa?"
"Cari makan yuk!"
"Di mana?"
Daniel berpikir. Sesaat kemudian dia langsung tersenyum.
"Izin dulu sama komandan." ujar Zafran saat mendengar tempat yang akan jadi tujuan mereka.
Daniel terkesiap langsung menegakkan tubuhnya dan langsung berdiri hormat di depan sahabatnya itu. "Siap! Laksanakan." ujarnya langsung berbalik dengan senyum sumringah menemui komandan.
"Ck!" Zafran hanya berdecak sambil tersenyum simpul.
Sebahagia itu kah Daniel.
Setelah mendapatkan izin, mereka langsung pergi ke tempat tujuan rekomendasi dari Daniel.
Sesampainya di sana mereka langsung memarkirkan motornya tepat di samping dua motor lainnya.
Sebelum turun, Zafran terlebih dahulu melihat sekitar. "Bagus juga." lirih Zafran sambil menghirup dalam udara segar.
"Zaf, ayok!"
Zafran segera turun begitu Daniel memanggilnya. Tanpa melepas kaca mata hitamnya mereka berjalan beriringan.
Netra mata Zafran terhenti kala melihat sosok gadis yang tidak asing di matanya. Rupanya Daniel juga menyadarinya.
"Zaf, gadis itu bukannya...?" ucap Daniel terjeda.
"Sepertinya." seulas senyum smirk muncul di bibir Zafran.
"Hei, gadis bar-bar!" teriak Daniel.
Dua orang gadis yang duduk berhadapan sontak melihat ke arah mereka.
"Hei, kalian!" teriak Daniel sekali lagi saat teriakan pertamanya tidak direspon.
"Kami?" tanya sesosok gadis yang tidak asing di matanya dengan menunjukkan dirinya.
"Ya, kalian." jawab Daniel. Sementara Zafran hanya terdiam seribu bahasa.
"Ada apa?" tanyanya.
"Astaga! Kau gadis bar-bar." ujar Daniel frustasi karena si gadis bar-bar belum juga mengetahui dirinya. Daniel kemudian membuat kaca matanya dan menyimpannya di saku seragamnya.
"BAPAK!"
Daniel meringis mendengar teriakan yang menyebut dirinya dengan panggilan Bapak.
"Aku bukan Bapakmu. Memangnya aku menikahi Ibumu!?" amuk Daniel.
Daniel langsung memijat pangkal hidungnya. Frustasi, tentu saja.
"Kau, gadis bar-bar. Siapa namamu?" tanya Daniel.
__ADS_1
"Namaku?"
"Astaga! Memangnya di sini aku bertanya kepada siapa selain dirimu?" Daniel tidak habis pikir dengan pikiran gadis itu.
Tampak dia menunjukkan sahabatnya yang duduk berhadapan dengannya. "Itu."
"Astaga!"
"Itu di samping Bapak siapa?"
"Hei, tidak baik tidak menjawab pertanyaan seseorang terlebih dahulu!" ucap Daniel.
"Bapak juga tidak menjawab pertanyaan saya? Jadi, kenapa saya harus menjawab pertanyaan Bapak? Adil bukan?"
Zafran tampak mengulum bibirnya menahan tawa saat melihat sahabatnya tengah frustasi menghadapi seorang gadis berusia 19 tahun.
Daniel menghela nafasnya panjang. "Begini ya gadis bar-bar. Aku tanya namamu siapa. Kalau sudah kau jawab baru aku akan menjawab pertanyaanmu itu." ujar Daniel pelan sambil menahan emosinya yang sudah berada di ubun-ubun.
"Begitu. Namaku Ceisya."
"Kenapa tidak dari tadi kau bilang gadis bar-bar. Tahu begini darahku tidak naik saat berhadapan denganmu." batin Daniel.
"Oke. Baiklah, Ceisya. Sekarang aku akan menjawab pertanyaanmu." jawab Daniel lega karena persoalan nama sudah terselesaikan. "Di sampingku ini."
Daniel menyenggol lengan sahabatnya mengkode agar membuka kaca mata hitamnya itu.
Dengan malas Zafran membuka kaca mata hitamnya itu. Seketika dia menutup kupingnya saat mendengar pekikan Ceisya.
"OM!"
Zafran menatap tajam ke arah Ceisya yang memasang wajah polosnya. "Bisa tidak jangan berteriak sembarangan. Dan satu lagi, aku bukan Om mu. Sejak kapan aku menikahi Tantemu!?" ujar Zafran jengah.
"Memangnya Om mau menikah dengan Tanteku? Aku saranin jangan deh, Om." Zafran memicingkan matanya sebelah. "Soalnya Tanteku sudah menikah, Om. Dan ya, suaminya itu galak seperti berUANG. Dan tentunya banyak uang." ujar Ceisya tanpa sadar tertawa saat mengingat kalau bertemu dengan suami Tantenya pasti akan meminta uang.
"Aku mendengarnya, Om!"
"Cih, telinga batu!"
"Telingaku bukan batu, Om."
"Gadis bar-bar." ucap Zafran tanpa sadar mengikut Daniel yang memanggil Ceisya gadis bar-bar.
"Hei, kalian! Sampai kapan akan bertengkar?!" teriak Reva yang sudah jengah melihat pertengkaran mereka.
"Jangan berteriak!"
Reva langsung kicep saat mendengar perkataan Ceisya dan Zafran secara bersamaan.
Zafran melirik sampingnya dan tidak menemukan Daniel. Di mana Daniel? Batinnya.
"Zaf, ayok duduk!" ujar Daniel yang entah sejak kapan sudah duduk di samping Reva sambil menikmati minumannya. "Hummm...air kelapa memang segar." celetuknya sambil menghisap air kelapa menggunakan sedotan.
Zafran melangkahkan kakinya mendekat meja mereka. Zafran terpaksa duduk di samping Ceisya karena hanya di sana kursi yang kosong. Sedangkan Daniel sudah nangkring di samping Reva.
Desain kursi terbuat dari kayu memanjang dan minimal dua orang yang bisa mendudukinya.
"Bukankah kita belum memesan apapun, Niel?" Zafran memicingkan matanya menatap Daniel yang duduk berhadapan dengannya.
Sontak saja Reva melihat gelas di depannya yang sudah hilang entah kemana. Karena hanya dirinya saja yang memesan es kelapa. Sedangkan Ceisya hanya memesan es teh manis.
Reva menatap Daniel dengan mulut ternganga dan mata melotot. Bagaimana tidak, gelasnya sudah di embat oleh Daniel.
__ADS_1
"Ahh...segarnya." tanpa rasa bersalah Daniel meletakkan gelas yang sudah kosong di atas meja tepatnya di depan Reva.
"M-minuman-ku..." ucap Reva terbata hanya melihat gelasnya yang sudah kosong.
"Tenang, cantik. Nanti pasti aku ganti." ujar Daniel tanpa rasa bersalah sedikitpun.
'Bukan itu permasalahannya. Astaga! Ya Allah. Batin Reva meringis.
"T-tapi..."
"Sudah, sudah. Oh, iya. Kita belum berkenalan bukan?"
"Namaku Daniel. Kalian bisa memanggilku Dani atau apa lah itu terserah saja. Asal jangan BAPAK!" ujar Daniel dengan nada terkesan menyindir. Takut-takut nanti ada yang memanggilnya Bapak selain gadis bar-bar itu.
Daniel menyodorkan tangannya ke arah Ceisya dan Reva dan di sambut oleh mereka.
"Bapak sudah tau namaku, bukan?" ucap Ceisya melepaskan jabatan tangannya.
"Ya."
"R-reva, Pa-"
Belum sempat Reva melanjutkan perkataannya sudah di potong oleh Daniel. "Daniel, Reva? Bukan Pak atau Bapak." ralat Daniel.
"Tapi, Bapak kan seorang Polisi. Apakah sopan memanggil seorang Posisi hanya dengan sebutan nama. Apakah sopan memanggil seseorang yang lebih tua dari kita hanya dengan sebutan nama?" sahut Ceisya panjang lebar.
Yang dilakukan Daniel hanya memijit pelipisnya. "Bukankah kita sekarang seorang TEMAN?" tanya Daniel.
"Teman?" beo Ceisya.
"Ya. Teman. Kalian berdua mau kan berteman dengan kami?"
"Memangnya boleh?"
"Boleh! Siapa bilang tidak boleh."
"Aku." sahut Zafran tiba-tiba.
"Kau kenapa sih, Zaf?" tanya Daniel sambil menatap Zafran heran.
"Aku tidak mau berteman dengan bocah ingusan ini!" tolaknya.
"Ya. Itu dirimu bukan aku."
Zafran menatap tajam ke arah Daniel. "Kau sudah berani membantah perkataanku, Daniel Wilton?"
"B-bukan begitu, Zaf. T-tapi apa salahnya kita berteman dengan para gadis ini?" ujar Daniel terbata. Bergidik ngeri saat Zafran sudah menyebutkan nama lengkapnya.
Zafran hanya menghela nafasnya panjang.
"Kak, kenapa kau takut dengan Om itu?" tanya Ceisya melerai perdebatan mereka.
"Kak?"
"Iya, Kak. Kami berdua akan memanggilmu dengan sebutan Kakak. Boleh kan?"
"Tidak begitu buruk." jawab Daniel setuju.
"Satu lagi. Temanku ini namanya Zafran. 'Zafran. Ingat itu ya? Jangan memanggilnya Om. Aku takut nanti akan keluar tanduk dari kepalanya kalau kau terus membangkang." bisik Daniel yang nyatanya masih terdengar.
"Begitu ya, Kak?" Ceisya mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Iya, begitu."
"Baiklah."