
Suasana pagi yang cukup mendukung, Ceisya bangun tepat pada pukul tujuh pagi bersamaan dengan Reva. Kedua sahabat itu masih berguling-guling di kasurnya.
"Gak ngampus, Re?" tanya Ceisya.
"Ngampus kok. Masuk siang sama kayak kamu. Barengan lah."
"Owh, oke. Lagian motorku juga masih di bengkel."
Ceisya mengangkat kedua tangannya meregangkan sambil menguap. "Mandi dulu lah, cari sarapan." gadis itu mulai bangkit dari kasur lalu berjalan keluar kamar.
Selesai bersiap-siap, keduanya memutuskan untuk mencari sarapan di sekitar kost-an.
"Tok... tok... tok..." keduanya yang kebetulan sudah dekat dengan ambang pintu langsung membukanya.
"Ada apa, Mas?" tanya Reva saat melihat tukang ojol di depan sambil menenteng dua kresek.
"Benar dengan Mbak Ceisya?"
"Saya, Mas." sela Ceisya mendekat.
"Ini, Mbak." unjuknya memberikan dua kantong kresek itu, jika ditebak sudah dipastikan isinya makanan.
"Ini apa, Mas? Saya gak pesan apa-apa."
"Maaf, saya hanya mengantarkan saja. Kalau begitu saya permisi, Mbak." tukang ojol itu pamit meninggalkan Ceisya dan Reva yang saling pandang.
"Siapa, Sya?" tanya Reva.
Ceisya mengedikkan bahunya bingung. Ia juga tidak tau. Keduanya memutuskan untuk kembali masuk ke dalam.
"Wah!! Sarapan." ujar Reva girang saat baru saja membuka salah satu dari kantong kresek itu.
"Mana mana?" tanya Ceisya ikut mengintip.
"Dari siapa ya kira-kira?"
"Gak tau. Mending kita makan ini aja, gratis kan gak perlu nyari-nyari sarapan lagi."
"Ish! Jangan dulu, Re. Siapa tau di dalamnya ada racun atau semacamnya gitu?"
"Lah lah... coba dulu ngapa."
"Jangan, Re!" larang Ceisya.
__ADS_1
"Ish ish ish... liat dulu nih ya? Kalau aku mati berarti ini ada racunnya, kalau engga ya yaudah makan aja mumpung gratis."
Ceisya mendelik mendengar ucapan sembrono Reva.
"Becanda." lanjut Reva seakan tau.
Setelah memastikan tidak ada apa-apa di dalam makanan itu, akhirnya Ceisya memakannya juga. Mumpung gratis?
.
.
.
Kelas berlangsung sekitar 90 menit lamanya. Tidak banyak teman-teman kuliahnya bertanya. Ceisya hanya menjawab seperlunya saja.
Gadis itu sempat meminjam buku salah satu temannya, sambil menunggu Reva, Ceisya masuk ke dalam perpustakaan.
Saat Reva sudah keluar kelas, mereka langsung pulang ke kost-an. Ceisya harus merampungkan tugas-tugasnya yang tertinggal.
Ckittt
Reva langsung mengerem mendadak laju motornya. Sontak hal itu membuat kepala Ceisya terbentur helm sahabatnya.
"Maaf, bestie. Tadi ada kuceng."
"Beneran? Mana?"
"Gak tau. Udah ngilang."
"Yaudah, jalan!"
"Siap!"
Reva kembali memacu motornya yang sempat terhenti karena ada kucing yang tiba-tiba melintas.
"Mampir bentar cari makan?"
"Hmmm... boleh. Sekalian ngebakso ya? Pengen banget makannya."
"Iya. Tapi jangan pedes-pedes, baru juga sembuh."
"Ish! Iya, iya."
__ADS_1
Keduanya sedikit berkeliling untuk mencari warung makan. Saat sudah sampai di tujuan keduanya langsung mengambil duduk di tempat pojokan, menghindari ramainya pengunjung.
Dua mangkuk bakso tersedia dalam waktu 5 menit mereka menunggu. Sesuai janji, Ceisya tidak banyak menambahkan saus.
"Gimana tugasnya? Banyak ya?" tanya Reva.
"Pasti. Untung tadi ada Rangga jadi bisa minjam buku catatannya."
"Baguslah. Seenggaknya ada yang bantuin dikit. Oh ya, malam ini aku ijin keluar. Kamu mau ikut?"
"Hmmhh... enggak deh. Aku di kost-an aja, nanti pulang jam berapa?"
"Belum tau sih. Mungkin sekitar jam setengah 10 mungkin. Kamu mau nitip sesuatu?"
"Boleh. Nitip makanan ya? Sama flashdisk deh."
"Owh, oke. Nanti aku beliin."
"Makasih, Re."
"Sama-sama, beb."
Selesai mengisi perut, mereka langsung pulang setelah membayar makanannya. Malam harinya sekitar jam setengah 7, Reva meninggalkan Ceisya sendirian di kost-an.
Sementara Ceisya sudah mulai berkutat di depan laptopnya. Sedikit mengeluh, tapi tetap menyuarakan semangat untuk dirinya sendiri. Mulai mengerjakan tugas-tugasnya ditemani dengan secangkir teh hangat. Mungkin saja malam ini ia begadang.
Tok tok tok
Gadis itu menghentikan jari-jarinya yang sibuk dengan papan ketik, mengernyitkan dahinya bingung.
Ceisya abai, mungkin saja itu suara ketukan di samping kamar kostnya. Namun, sekali lagi suara itu terdengar jelas membuat Ceisya mau tidak mau harus membukakan pintu.
Mulutnya terus mendumel. Langkah kakinya semakin dekat dengan pintu. Dan ceklek...
"Siapa?" Ceisya menyembulkan kepalanya sedikit, menemukan seseorang di depan berbalik badan membelakanginya.
"Paket." ujar seseorang itu sembari membalikkan badan. Membuat Ceisya menutup mulutnya terkejut.
"Hati-hati, nanti kemasuk laler mulutnya." tegurnya membuat Ceisya segera mengatupkan mulutnya.
"Boleh masuk?" serunya langsung menyingkirkan Ceisya yang berdiri di ambang pintu, masuk ke dalam tanpa mau mendengar izin dari tuan rumah.
"Kebiasaan. Oh 'ya ampun. Bahaya kalau digrebek. Mana Reva lagi di luar. Astaghfirullah!"
__ADS_1