
Sudah satu minggu ini mereka jalani dengan lancar. Keduanya sama-sama saling disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Ceisya dengan segala tugasnya, begitu juga dengan Zafran. Namun, komunikasi di antara keduanya saling terjalin lancar.
Tepat hari ini, Zafran mengajak Ceisya ke rumahnya untuk menemui keluarganya. Selain itu, pria itu juga mengimi-imingi dengan mengatakan bahwa ada bayi mungul di rumahnya. Mendengar itu justru membuat Ceisya senang, karena apa? Karena dirinya senang dengan anak kecil terutama bayi.
Tujuan Zafran mengajak Ceisya ke rumahnya juga sekaligus untuk mengenalkan gadis itu kepada Papanya. Papa? Ngomong soal Papanya Zafran, Ceisya bahkan sekalipun belum pernah bertemu. Ya, memang karena Papa Zafran itu termasuk orang yang sibuk. Persis seperti anaknya, berkecimpungan dengan angkatan militer. Sangat wow bukan. Selain itu juga Papa Zafran memiliki bisnis di bidang kuliner.
Dengan berbekal buah tangan, Ceisya begitu gugup saat dalam perjalanan. Bukannya apa, dirinya itu hanya takut. Di pikirannya Papa dari Zafran itu adalah sosok orang yang garang dan bahkan tidak bisa dibantah.
"Kamu kenapa dari tadi diam?" tanya Zafran membelokkan mobilnya menepi. Dirinya memutuskan untuk menepi sebentar karena takut tidak fokus.
"Hehe, nggak kok, Om. Laper aja." cicit Ceisya pelan memberi alasan.
"Laper? Hmmm... kasian. Ya udah, kita mampir aja dulu ya?"
"Eh! Jangan. Nanti malah kelamaan. Lagian ini udah siang, nanti keburu malam." tolak Ceisya menggelengkan kepalanya. Alibinya saja mengatakan kalau dirinya lapar. Padahal aslinya itu gerogi.
"Tapi, kan kamu lapar. Pokoknya kita mampir bentar cari makan." tutur Zafran tanpa bantahan. Ceisya pun hanya mendengkus pelan dan akhirnya menurut saja.
Zafran kembali menjalankan mobilnya membelah jalanan lenggang. Tiba-tiba pria itu membelokkan mobilnya ke sebuah warung makan lesehan. Ceisya melihat warung makan itu yang bertuliskan "Warung makan Bu Saiton" melihat spanduk bertulisan itu sudah membuat Ceisya meringis seketika. Ada ya warung makan namanya Bu Saiton. Ceisya malahan baru dengar itu.
"Ayo, turun!" ajak Zafran sambil membuka seatbeltnya sendiri.
Pria itu bergegas keluar dan membukakan pintu untuk gadisnya. Ceisya yang diperlakukan seperti itu hanya bisa menutup mulut malu dengan rona merah di pipinya.
"Di sini?" tanya Ceisya meyakinkan.
"Iya, ada apa?" tanya Zafran sambil menautkan kedua telapak tangan mereka.
__ADS_1
"Nama warungnya aneh, pake ada nama setan segala." bisik Ceisya pelan karena takut terdengar.
Zafran yang mendengarnya pun mengadahkan kepala, melihat spanduk nama warung itu yang terpampang di depan pintu masuk warung makan itu. Pria itu mengulum bibirnya tersenyum, dirinya bahkan sampai tidak sadar karena setahunya makanan di warung makan itu memiliki rasa yang khas. Dan Zafran pun baru dua kali ke warung makan itu.
"Di belakang kamu ada setan." gertak Zafran tanpa rasa bersalah langsung berjalan mendahului. Alhasil Ceisya langsung berjalan cepat mengejarnya.
"Om, ini beneran di sini? Siapa tau tuh pake penglaris." tuduh gadis itu seenaknya.
Tuk
Telunjuk Zafran langsung mendarat di dahinya.
"Ihhh, Om! Apaan sih?!" Ceisya langsung memegang tangan Zafran berusaha untuk menjauhkan.
"Ini otak jangan negatif thingking." tutur Zafran yang hanya dibalas cengiran khas dari gadis itu.
Zafran tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menatap mimik gadis itu yang menunjukkan raut wajah tanpa bersalah.
"Jangan coba berbohong, bocah ingusan!"
Bibir Ceisya langsung mengerucut sebal. Ia berjalan cepat, meninggalkan pria itu yang kini hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
"Bicih ingisin!" cibir Ceisya pelan namun masih terdengar di telinga tajam Zafran.
"Aku mendengarnya."
"Ya iya kedengeran, orang itu telinga tajam banget." celetuk Ceisya pelan. Zafran yang melihat bibir gadis itu komat-kamit karena mengomel pun hanya menahan senyum sambil geleng-geleng kepala. Tingkah gadis itu kini bahkan sangat berbeda jauh dengan umurnya.
__ADS_1
🌼🌼🌼
"Hei, kenapa mukanya pucat?" Zafran meneliti raut wajah gadis yang kini duduk di jok sampingnya.
"Hiii, serem, Om."
"Apa yang serem?" tanya Zafran dengan alis menyatu sempurna.
"Papa kamu. Pasti galak, nanti kalau diunjukin senapan gimana? Mati dong akunya." seru Ceisya sambil membayangkan perawakan Papa Zafran yang tengah memegang senapan.
"Pft! Mana ada kayak gitu. Ngarang kamu mah. Papa orangnya baik kok, ya kalau kamunya nakal... gak yakin sih." ucap Zafran ragu untuk menakut-nakuti Ceisya.
"Eh! Bentar, bentar. Tadi kamu bilang apa? Kamu? Tumben banget, biasanya manggil Om." sela pria itu cepat saat baru menyadari Ceisya memanggil dirinya kamu. Ya memang, gadis itu memanggil Zafran "kamu" dan itu pun hanya bisa dihitung menggunakan lima jari. Ya bisa dikatakan sangat jarang.
"Nggak tuh." ketus Ceisya membuat pria itu gemash sekali.
"Gadis ingusan, bikin gemesh!" ujar Zafran lalu mengapit ujung hidung Ceisya menggunakan jari telunjuk dan jari jempolnya.
"Dasar pedofil!!"
.
.
.
hayo gess 🤪🤪akhirnya novel ini bisa aku lanjutkan wkwk. Karna konflik utama udah selesai, sisanya kita santai-santai aja ya🤗🤗
__ADS_1
ayo yg bisa nebak, papanya Zafran itu galak apa baik🤣🤣