
Suasana di luar ruangan itu sangat ramai. Banyak orang berlalu lalang baik pasien, pengunjung, perawat, suster, maupun dokter. 5 jam yang lalu gadis itu sudah berada di kota kelahirannya. Suasana kini kian mencekam.
Sepasang suami istri itu terlihat sangat amat terpukul melihat anak gadisnya terbaring lemah di ranjang rumah sakit untuk kedua kalinya.
Umi Hanum dan suaminya Aryo juga turut ikut serta menemani, ditambah kehadiran Azril. Mereka juga ikut terpukul melihat itu semua. Terutama Umi Hanum dan Azrik yang berada di tempat kejadian.
Sementara Zafran, pria itu tengah mengurus pelakunya. Tidak membutuhkan waktu yang lama akhirnya pelaku ditangkap. Zafran bernafas lega, di sisi lain ingin sekali dia ikut menemani Ceisya. Pertama mereka membawa ke rumah sakit terdekat, lalu pihak rumah sakit langsung mengajukannya ke rumah sakit pusat karena di rumah sakit itu perlengkapannya tidak lengkap yang membuat pihak dari rumah sakit harus mengajukan surat rujukan ke rumah sakit pusat.
Zafran menetap di kota S untuk sementara. Lagi pula besok adalah jadwal keberangkatan pulang bersama rombongan. Sedikit bersyukur memang, tapi, pria itu terlihat tidak sabaran.
Berkali-kali dia melihat jarum jam, terlihat seperti berhenti di pukul itu. Matanya meneliti gusar. Tidur tak nyenyak, alhasil pria itu bergadang sambil menunggu hari esok.
Lama pria itu menunggu akhirnya ia beserta rombongan telah sampai di kota kelahiran. Kota yang sudah 2 bulan ini ia tinggalkan demi tugas yang diemban. Sedikit bangga karena telah melewati semua. Letih itu adalah hal yang cukup wajar.
Separoh rombongan diberikan cuti selama seminggu demi beristirahat sementara separohnya lagi tetap akan menjalani tugasnya. Zafran termasuk ke dalam rombongan yang diberikan cuti selama seminggu itu. Sambil memejamkan matanya sejenak, pria itu menarik nafas dalam. Menyerapi udara yang selama dua bulan ini tidak ia hirup. Eh... maksudnya menyerapi udara di kota kelahirannya.
Pria itu beristirahat barangsejenak sebelum ia berangkat ke rumah sakit. Sehari ia berada di kota S. Azril, selalu memberi kabar kepadanya.
"Zafran, kamu mau ke mana, Sayang? Bukannya istirahat kok malah mau keluar lagi." tegur Mama Tina begitu mendapati sang anak begitu rapi. Baru saja pagi ini pria itu mendarat eh siangnya sudah mau melarat.
"Ke rumah sakit, Ma. Kenapa?" tanya Zafran balik.
"Loh.. loh. Siapa yang sakit? Kamu sakit?" tanya perempuan itu khawatir seraya mendekat mengecek suhu badan pria itu.
"Nggak, Ma. Aku gak sakit. Ini mau jenguk seseorang dulu." balas pria itu seketika membuat Mama Tina tenang.
"Siapa?"
"Seseorang, Ma."
__ADS_1
"Kamu punya pacar?"
Eh!
"Bukan pacar, Ma. Aih! Mama tuh kepo deh. Udah ah, aku mau berangkat dulu. Dahh Mama." pria itu langsung mengambil tangan sang Mama untuk ia salami.
Mama Tina hanya menggeleng. Sesaat kemudian raut wajahnya langsung terlihat cemas begitu mendengar jeritan yang berasal dari dalam kamar. Perempuan itu segera berlari, sesaat kemudian dia keluar lagi berlari menunu pintu utama. Berteriak memanggil putranya meminta untuk berhenti.
Zafran yang saat itu baru saja menancapkan mobilnya pelan langsung berhenti. Keluar lalu bertanya. "Kenapa, Ma?" tanya pria itu heran.
"Kakak kamu mau lahiran. Tolong bawa dia ke mobil."
Zafran ikut panik. Aih! Kenapa jadi dirinya yang dibuat repot. Lagian Abang iparnya malah sibuk kerja. Dia yang buat eh malah Zafran yang bertanggung jawab membawanya ke rumah sakit.
Pria itu segera berlari memasuki rumah. Lalu tidak lama kemudian ia keluar sambil menggendong tubuh Emi lalu disusul oleh Mama Tina di belakang sambil membawa tas ransel berisi perlengkapan untuk Emi nanti lahiran.
"Awwwssss... Ma, s-sakit."
Mama Tina dengan setia mengusap keringat yang membasahi dahi Emi.
"Sabar ya, Sayang. Tahan sebentar, tarik nafasnya lalu keluarkan perlahan. Tetap tenang agar nanti tenaganya tidak terkuras." titah perempuan itu dengan terus mengucapkan kata-kata semangat. Ini adalah kelahiran cucu pertamanya.
Mama Tina sebetulnya sudah tidak sabar, perkiraan dokter, Emi akan melahirkan dua hari yang lalu. Tapi, dua hari telah dilewati namun belum ada tanda-tanda. Eh... taunya sekarang. Mungkin si calon bayi menunggu Pamanya datang.
"S-sakit, Ma... huuuhhhh huuuuuhhh..." wanita itu menuruti saran sang Mama. Menarik nafas dalam lalu dikeluarkan perlahan. Sesaat kemudian dia terlihat lebih tenang. Namun, itu berlaku hanya sementara. Sepertinya si bayi sudah tidak sabar untuk melihat dunia barunya.
"Zafran, bisa tolong kamu cepat sedikit?" pinta Mama Tina.
"Ini sudah cepat, Ma. Aku usahain deh." balas pria itu bergumam.
__ADS_1
35 menit mereka berkendara, kini akhirnya sampai juga. Zafran langsung memanggil perawat untuk membawakan kursi roda.
Pria itu terlihat gusar. Ia terlihat bolak-balik berjalan di depan ruang persalinan sambil sesekali melihat ponselnya. Pria itu menghubungi Panji, suami Kakaknya yang bernama Emi sekaligus Abang iparnya.
"Gimana? Apa sudah diangkat?" tanya Mama Tina yang saat itu duduk di kursi.
"Belum, Ma. Eh... nah ini dipanggil balik, bentar, Ma." pria itu bergegas mengangkat telfon balik itu. Zafran langsung to the point dan langsung menshare loc keberadaan mereka.
Tidak lama Abang iparnya itu datang dengan langkah yang tergopoh-gopoh. Secercah raut wajahnya bersinar.
"Langsung masuk aja, Mas." pria itu mempersilahkan takut-takut nanti Kakaknya membutuhkan.
Sedikit pria itu lupa tujuannya yang pertama, karena ikut panik makanya pikirannya hanya tertuju pada Kakaknya saja. Sesaat pria itu tersadar. Bukankah ini rumah sakit yang Azril share loc waktu itu? Ah ya... kebetulan sekali. Pria itu tidak bersusah payah untuk mencari rumah sakit Ceisya dirawat.
"Ma, aku tinggal sebentar ya?"
"Mau ke mana?"
"Sebentar aja kok, Ma. Nggak lama. Kalau lama tinggal Mama telfon aku aja." pria itu membujuk.
"Baiklah. Jangan lama-lama ya? Oh ya. Mama sampai lupa, nanti sekalian urus administrasinya ya?"
Zafran mengangguk lalu pria itu berpamitan. Sebelum mencari ruangan tempat Ceisya dirawat, Zafran terlebih dahulu mengurusi administrasi baru setelah itu ia bisa sedikit lega.
"Di mana ya? Apa arahnya ke sini?" gumam pria itu bingung sendiri. Kemudian ia mengirim pesan pada Azril. Tidak lama suara notif ponselnya berbunyi membuktikan bahwa pesannya tadi sudah dibalas.
Cukup lama pria itu mencari akhirnya ketemu juga. Azril melambaikan tangannya ke atah pria itu membuat Umi Hanum dan Abi Aryo yang melihat itu menjadi heran. Mereka ikut melihat arah lambaian Azril. Sementara Bunda Nai dan Ayah Faisal sibuk sendiri, mereka bahkan tidak memperhatikan sekitar.
"Eh, nak Zafran kapan sampainya di sini?" tanya Umi Hanum heran.
__ADS_1