
Tubuh Ceisya membeku melihat pemandangan di depan matanya. Pria semalam yang mengajaknya berkomitmen sedang bermesraan dengan seorang wanita yang lebih cantik dan dewasa dari dirinya.
"Om..."
Zafran cepat melepaskan rangkulannya. Dia gelagapan melihat gadis itu.
"Dia siapa?" tanya Ceisya dengan raut wajah dingin.
"D-dia... dia t-teman..."
"Sayang, bocah itu siapa? Apa kau mengenalnya?" potong wanita itu saat sebelum Zafran menyelesaikan perkataannya. Wanita itu dengan santainya memeluk erat lengan Ceisya seolah-olah mengatakan bahwa Zafran adalah miliknya.
"Sayang?" Ceisya tersenyum pahit. Oh, dia baru ingat kalau pria di depannya itu bukan siapa-siapanya bukan?
"D-dia hanya s-sepupu jauh-ku..." gagap Zafran dengan wajah yang pucat pasi. Apakah rahasianya selama ini akan terbongkar begitu saja.
"Sepupu? Ck! Kau mengatakan sedang bertugas. Lalu sekarang...?? Ini yang namanya bertugas?"
"Lepaskan!" bisik Zafran pada wanita di sebelahnya.
"Kenapa dilepas, Sayang? Aku tidak mau!" tolak wanita itu kekeh.
"Tolong, lepaskan dulu!" sekali lagi Zafran meminta.
"Ck! Kau menyebalkan. Baiklah, aku tunggu di mobil saja."
"Iya, cepatlah sedikit!"
"Jangan terlalu lama! Aku menunggumu." wanita itu dengan santainya mencium Zafran tepat di bibir.
Oh God. Seketika mata Ceisya membola melihat itu.
"Itu yang dinamakan sepupu?" Ceisya memecahkan keheningan.
Zafran lekas mengusap bibirnya kasar. Dia begitu kaget dengan serangan mendadak wanita tadi.
"B-bukan begitu, S-sa."
"Cukup!" Ceisya lekas menyembunyikan tangannya saat pria itu mencoba meraihnya.
"Bodohnya aku begitu percaya dengan ucapan manismu. Ck!" Ceisya tersenyum pahit.
"Itu memang benar. Aku tak pernah berbohong. Aku mencintaimu."
"Stop!"
"Aku tak akan percaya lagi." Ceisya menunduk melihat jari manisnya. Terselip sebuah cincin indah di sana.
Ceisya melepaskan cincin itu dari jari manisnya. Melihatnya sambil tersenyum pahit.
"Mau kau apakan, Sayang?"
Sekali lagi Ceisya mengangkat sebelah tanganya. Seolah mengatakan agar pria itu berhenti bicara.
"Lihat ini! Cincin ini, apakah kau ingat? Lihatlah!"
Ceisya melemparkan cincin itu ke jalanan. Saat ini mereka tengah berbicara di luar restoran.
"JANGAN!!" Zafran berteriak, wajahnya terlihat frustasi.
"Bukankah itu yang kau mau?"
"Sebenarnya maumu apa, hah!!?" pertama kalinya Zafran membentak Ceisya. Mata gadis itu terlihat berkaca-kaca.
"Kau baru saja membentakku?" lirih Ceisya.
Zafran mengusap wajahnya kasar. Dia mengacak-acak rambutnya hingga berantakan. "Maaf." satu kata terucap dengan penuh penyesalan.
"Seharusnya aku yang meminta maaf kepadamu." ujar Ceisya.
"Kau tidak salah, Sayang. Aku-lah... aku lah yang salah di sini."
"Andai kau bisa membagi sedikit waktumu untukku...aku tak akan pernah mau berbuat seperti ini." ujar Zafran putus asa.
Ceisya tersadar. Di sini dirinya juga ikut andil.
"Maafkan aku, Sayang. Aku tidak akan berbuat seperti itu lagi."
__ADS_1
"Baiklah. Kalau kau mau permintaan maafmu diterima... carilah cincin itu dan dapatkan sebelum hari esok."
"Benarkah?" Ceisya menganggukkan kepalanya.
"Baiklah. Aku akan mendapatkan cincin itu sekarang juga."
Zafran merengkuh tubuh Ceisya masuk ke dalam pelukannya. Ceisya meneteskan air mata tidak tahu alasannya apa.
"Kau tunggu di sini, oke? Aku akan mencarikannya untukmu. Kita akan bersama lagi... selamanya."
Sebelum pria itu beranjak, dia terlebih dahulu mengecup kening gadis itu lama dan mencium bibir itu sekilas. Sekali lagi Ceisya meneteskan air matanya.
Terlihat Zafran mencari cincin itu. Zafran berniat untuk menyeberang ke seberang sana karena dia tidak mendapatkannya di seberang itu.
Brakkk!!!
Terdengar suara dentuman keras dari arah jalanan.
Ceisya tersadar. Penasaran suara apa itu. Dia berlari cepat mendekati jalanan dan melihat seseorang terkapar di tengah jalan dengan kondisi mengenaskan.
Baju itu?
"TIDAK!!!"
"HAAAAHHHHHH..." Ceisya terlonjak dari kasurnya dengan keringat bercucuran.
Apakah itu mimpi? Ya, itu mimpi. Tapi, terasa sangat nyata bahkan sudut mata Ceisya terlihat basah oleh air matanya.
Ceisya memukul-mukul kepalanya pelan. Bisa-biasanya dia bermimpi dan juga mimpi yang sangat aneh.
Lamunannya buyar kala suara ponsel berbunyi di dekatnya. Ceisya meraba-raba kasurnya dan menemukan ponselnya itu tersembunyi di balik bantal. Dia mengangkat telfonnya tanpa melihat namanya.
"Siapa?" tanya Ceisya tanpa melihat nama si pemanggil.
"Hallo, Sayang. Baru bangun?"
"Sayang? Ini siapa ya?"
"Kau lupa? Sungguh?"
Ceisya melihat layar ponselnya. Sesaat kemudian dia memekik.
"T-tidak." jawab Ceisya sedikit gugup.
"Benarkah?"
"Iya."
"Coba buka pintu kost-annya!"
Ceisya mendelik. Dengan cepat dia berlari menuju pintu dan membukanya.
"Aaaaaaakkkkkkkhhhh!!!"
Brakkk
Pintu itu tertutup kasar.
"Ada apa? Kenapa ditutup?"
Eh! Ternyata panggilan telfonnya belum terputus.
"Pulang sana, Om! Ngapain pagi-pagi ke sini? Tidak kerja apa?" usir Ceisya.
"Tidak mau!" tolak Zafran dengan sabar menunggu di balik pintu. "Lagi pula bukankah ini weekend?"
"Kemarin weekend, sekarang weekend." omel Ceisya membuat Zafran tersenyum di sana.
"Kemarin sabtu bukan? Nah sekarang minggu. Benar, kan?"
"Haa? Iya kah?" Ceisya melihat tanggal di layar depan ponselnya. Dia menepuk pelan dahinya.
"Masih tidak percaya?"
"Iya, iya, percaya." jawab Ceisya dengan malas.
"Sekarang mandi. Aku tunggu di luar."
__ADS_1
Tutt
Panggilan diputuskan sepihak oleh Zafran. Sedangkan Ceisya, gadis itu langsung berlari menuju kamarnya, menyambar handuk lalu mandi.
15 menit berlalu, Ceisya sudah selesai mandi. Dia keluar dari kost-annya dengan memakai pakaian cukup sederhana.
"Mau ke mana emangnya, Om?" tanya Ceisya sembari duduk di kursi luar.
"Nyari sarapan. Kenapa?"
Ceisya menggelengkan kepalanya.
"Yaudah, yuk berangkat!" ajak Zafran.
"Mau sarapan apa?" tanya Zafran di dalam perjalanan.
"Apa aja, Om."
"Bubur ayam mau? Di daerah sini kalau tidak salah ada."
"Iya, terserah Om saja."
Ceisya memakai celana jeans longgar, baju kaos berlengan pendek yang dia balut dengan cardigan lengan panjang. Sedangkan Zafran seperti biasa dia memakai celana bahan kain bedanya sekarang dia memakai baju kaos hitam polos.
Mereka keluar dari mobil secara bersamaan saat telah sampai di tempat tujuan. Tempatnya warung makan biasa dipinggir jalan. Tempatnya terbuka.
"Duduk di sini ya? Biar aku yang mesannya." semenjak kejadian semalam, Zafran begitu perhatian pada Ceisya. Hal itu membuat gadis itu senang bukan main. Tapi, satu hal yang dia rindui yaitu sikap menyebalkan dari pria itu.
Tidak lama kemudian Zafran kembali lagi setelah memesan bubur ayam. Alhamdulillah, pembelinya lumayan ramai. Jadi, dipastikan mereka berdua akan sedikit menunggu pesanan siap datang.
"Om."
"Hemmm?" Zafran berdehem pelan dengan nada bertanya.
"Tadi malam..." Ceisya ragu untuk menceritakan mimpinya itu atau tidak.
"Kenapa? Ada pencuri?" tebak Zafran.
"Bukan."
"Lalu?"
"Semalam aku bermimpi."
"Oh ya? Mimpi apa?" tanya Zafran penasaran.
"Mimpinya sangat jelek, Om."
"Ayo, cerita." pinta Zafran.
Ceisya masih ragu. Lebih baik tidak diceritakan saja. "Itu, Om. Semalam aku bermimpi cicak buang kotoran tepat di kepalaku."
Krikk krikk
"Bau ya? Sini coba nyium rambutnya dulu apakah masih bau kotoran cicak atau tidak." Zafran memegang sedikit ujung rambut Ceisya lalu menciumnya.
"Ihhh! Apaan sih, Om." protes Ceisya.
"Katanya habis kena kotoran."
"Tapi, tidak segitunya juga kali, Om. Aku sudah keramas mana mungkin bau."
"Iya, iya. Tidak bau lagi. Wangi kok seperti wangi bunga."
Obrolan mereka terhenti saat pesanan bubur ayam mereka sampai. Tidak lupa juga minuman teh hangatnya.
"Hati-hati! Buburnya masih panas." peringkat Zafran perhatian.
Saat sarapan mereka telah selesai, mereka belum beranjak dari duduknya. Memilih mengobrol sebentar.
"Oh, iya. Aku mau bilang... kalau minggu depan aku ditugaskan ke luar kota." ucap Zafran seketika ingat.
"Hmmm... berapa lama, Om?" tanya Ceisya.
"2 bulan."
…
__ADS_1
hayo loh ceisya 😂ditinggal nih 2 bulan 🙈kacian mamat cih 🙈😅😅