Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi
Part 71


__ADS_3

7 tahun kemudian...


Tampak seorang wanita dewasa melangkahkan kakinya melewati orang-orang yang berlaku lalang di koridor bernuansa putih itu. Setiap ia melangkah dan berpapasan dengan orang-orang, saat itu juga senyumnya terbit. Menundukkan kepalanya sopan dan tetap melangkahkan kakinya yang jenjang.


Hari yang cukup terik tidak membuat dirinya patah semangat. Jas putih kebesaran yang tersampir di lengannya adalah bukti bahwa perjuangannya selama ini tidak sia-sia.


"Selamat siang, Dokter. Sudah mah pulang?"


Langkah kakinya berhenti saat rekan kerjanya memberikannya pertanyaan. "Iya, Dokter. Hari ini saya sudah ada janji. Jadi, izin pulang lebih awal. Lagi pula saya hari ini tidak ada praktek." jawabnya sambil tersenyum.


"Baiklah. Kalau begitu, hati-hati, Dok."


"Iya, Dokter."


Ini adalah bukan kali pertama pulang saat bukan jam berakhir. Alasannya cukup simpel, lagi pula ia tidak ada jadwal praktek. Kehadirannya di rumah sakit itu sangat jarang, karena ia lebih betah berada di rumah.


Wanita itu kembali melangkah, meninggalkan kawasan rumah sakit menggunakan kendaraan roda empatnya yang terparkir rapi di parkiran.


Mobil sedan berwarna merah itu mulai melaju dengan kecepatan rata-rata. Di perjalanan, mobil itu berbelok ke arah sebuah toko kue. Wanita itu turun sambil membawa dompet di dalam genggamannya.


"Mbak, saya ambil yang ini ya. Dua, Mbak." tunjuknya pada salah satu kue brownis.


"Baik. Tunggu sebentar ya, Kak."


Selang beberapa menit, pegawai tersebut datang sambil membawa paper bag yang di dalamnya pastilah kue yang ia beli tadi.


Setelah mengambil kuenya, ia langsung mengunjukkan uang pas yang langsung diterima oleh pegawai itu.


"Terimakasih sudah berbelanja di sini, Kak. Selamat menikmati kue di toko kami."


Sang wanita hanya mengangguk dengan senyumannya. Setelahnya ia langsung beranjak dari sana. Menaruh dua paper bag itu di jok belakang.


Ia kembali membawa laju mobilnya menembus jalanan perkotaan yang lumayan padat. Setengah jam ia lalui akhirnya ia sampai di depan rumah minimalis dua lantai. Mobilnya perlahan masuk ke halaman luas itu.


Sebelum turun, ia terlebih dahulu mengambil jas putih kebesarannya dan dua paper bag miliknya itu.


"Assalamu'alaikum." ucapnya begitu masuk ke dalam rumah, lalu berjalan hingga ke ruang tengah.


"Wa'alaikumsalam."


Wanita tersebut tersenyum lalu menaruh jasnya di sandaran sofa lalu menaruh paper bag itu di atas meja.


"Zafri rewel?" tanyanya kepada seorang pria kisaran 25 tahun.


"Enggak. Saking enggaknya, dia sampai manjat. Untung aja tadi TV di rumah gak jatuh." jawab pria itu.


"Heh! Bukannya keponakan yang dikhawatirin, malah TV di rumah. TV mah bisa dibeli di mana aja. Kalau keponakanmu itu mau dibeli di mana?!!"


"Tinggal bikin lagi satu apa susahnya sih."


"Enak banget ngomongnya!! Aku aduin kamu ke Abangmu ya!" ancam wanita itu.


"Eh, eh! Jangan lah. Cuma becanda doang. Gitu aja sensi." cibir pria itu kesal.

__ADS_1


"Zafri mana?" yup benar. Yang pertama kali ia lihat saat masuk rumah hanya ada pria itu saja yang duduk sendirian di sofa ruang tengah.


"Ada, lagi sama Bunda di atas."


Mendengar jawaban pria itu, sang wanita langsung beranjak dari sana. Sebelumnya ia sempat menoleh sambil menunjukkan paper bag di atas meja. "Itu jangan dimakan. Awas aja kamu buka!"


"Astaga, belum juga aku pegang." pria itu hanya bisa sabar menghadapi sifat wanita itu yang satu tahun ini sangat sensi. Kadang dirinya sampai bingung, di mana letak kesalahannya.


Celekk


Pintu yang didominasi berwarna coklat polos itu dibuka. Karena keasikan dengan aktivitasnya, orang yang berada di dalam pun sampai tidak menyadari.


"Ekhemm... halo jagoan Mama. Mama pulang nih."


Reflek dua orang generasi berbeda gender itu menoleh.


"Eh, udah pulang ya? Bunda kira gak jadi pulang awal."


"Jadi dong, Bun. Ini juga mau langsung siap-siap. Zafri udah mandi, Bun?"


"Udah kok barusan. Tuh bedaknya masih belepotan."


"Ya udah. Aku bersih-bersih dulu ya, Bun. Tolong titip Zafri lagi."


"Siap."


Saat akan beranjak dari sana, tiba-tiba celananya ditarik. Membuat sang wanita reflek melihat ke bawah. Senyumnya langsung terukir kala melihat tangan kecil itu menarik ujung celananya.


"Mamaa..."


Sang wanita langsung berjongkok di hadapan anak kecil itu. Memberikan satu kecupan sayang di dahinya.


"Tunggu ya? Mama bentar kok mandinya. Zafri duduk di sini dulu, main sama Oma. Mau ya?"


Anak kecil itu mengangguk kecil.


"Anak jagoan Mama pinter."


Lantas anak kecil itu langsung bertepuk tangan. Membuat wanita itu gemas dan ingin sekali mencium anaknya. Namun, ia tahan karena belum bersih-bersih.


Sepuluh menit kemudian mereka sudah rapi. Pakaian khas dari ibu bhayangkari lengkap dengan jilbabnya melekat di tubuhnya. Padahal sudah pernah melahirkan, namun, lekuk tubuhnya masih sama saat masih muda dulu.


"Kita berangkat?" tanya wanita itu kepada anaknya yang berada di dalam gendongannya.


"Ayokkk!" seru anak kecil itu begitu semangat karena sudah menantikan momen berharga itu.


"Bunda, kalau begitu aku sama Zafri pamit dulu ya? Sekalian nanti langsung pulang ke rumah." ujarnya kepada wanita paruh baya yang berada di dekatnya.


"Oke, Sayang. Walau Bunda masih pengen main sama Zafri. Tapi, gak apa-apa deh. Sering-sering main ke rumah walaupun suami kamu sudah pulang."


"In Sya Allah, Bun. Seperti biasanya juga mungkin aku selalu membuat Bunda repot karena selalu menitipkan Zafri."


"Gak masalah. Malahan Bunda seneng. Kamu gak usah khawatir kalau soal Zafri siapa yang jaga. Di sini masih ada Bunda."

__ADS_1


"Ceisya sayang sama Bunda."


"Bunda juga sayang sama kamu, nak." balas sang Bunda seraya mengelus sebelah lengannya yang terbebas.


"Ekhem... giliran aku aja gak disayang." sahut seorang pria yang sedari tadi diabaikan. Hanya berdiri seperti orang gila sambil melirik dua wanita yang selalu hadir di kehidupannya.


"Heh! Sudah ku bilang. Kau itu cuma anak pungut yang Bunda temukan di samping pohon pisang."


"Kau juga! Kau sebenarnya anak alien yang mengaku-ngaku sebagai anak Bunda. Aku yang sebagai anak kesayangan Bunda."


"Kau mana tau! Aku lahir lebih dulu."


"Sudah, sudah. Rizki, cepat antar kakakmu." lerai Bunda Nai saat melihat kedua anaknya menjadi tom dan Jerry.


"Sebenarnya tuh yang manja aku, bukan kakak. Malah ini kebalikannya."


"Wlekk!" Ceisya menjulurkan ujung lidahnya, memandang sang adik dengan tatapan meledek.


Ya, waktu tidak terasa berjalan dengan cepat. Menikah dan mempunyai pasangan yang baik jelas tentu menjadi incaran setiap manusia.


Selama 4 tahun menjalin hubungan yang bisa dibilang sangat aneh. Ya, karena statusnya tidak pacaran. Hanya berkomitmen. Berawal bertemu seperti tom dan Jerry dan berakhir indah.


Ditahun ke-lima Ceisya dilamar saat dirinya masih menempuh pendidikan S2. 1 tahun mereka hidup hanya berdua, menghabiskan masa-masa indah tanpa adanya kehadiran sang buah hati. Dan tahun ke-dua akhirnya mereka diberikan kepercayaan untuk menjadi orang tua. Menjalani pendidikan dengan status sebagai istri bukanlah mudah. Apalagi tugasnya sangat berat.


Setelah melewati perdebatan singkat itu akhirnya mereka berangkat. Di dalam mobil suasananya lumayan sunyi karena si kecil Zafri sangat pendiam. Bukan, lebih tepatnya malah mengeluarkan suara. Ia hanya bereksplorasi melalui tindakan. Banyak yang bilang si kecil Zafri itu anak yang kalem dan pendiam. Buktinya salah! Zafri hanya pendiam dibagian suara, karena segala tindakannya tidak bisa dibilang sebagai anak pendiam. Selama hampir dua tahun ini, Ceisya selalu dibuat pusing dengan tingkah anak sulungnya. Sangat aktif. Tapi, Ceisya membiarkan karena pendapatnya, biarlah sang sangat aktif bereksplorasi. Karena itu sangat berpengaruh untuk pertumbuhan anak untuk kedepannya asal peran kedua orang tua tidak lupa.


Begitu sampai di tempat tujuan, Ceisya langsung meminta sang adik agar meninggalkannya karena nantinya ia akan langsung pulang ke rumahnya. Rizki sebagai adiknya hanya manut saja.


Ceisya masuk ke kawasan kantor polri bersamaan dengan istri anggota lainnya yang ikut menyambut kedatangan para suami. Ada yang menggendong anaknya dan ada yang juga tengah hamil muda. Begitu sakitnya mereka menahan rindu terhadap pasangannya. Begitulah yang Ceisya rasakan. Ditinggalkan selama sembilan bulan membuat rindunya bertumpuk-tumpuk.


Mereka berjalan bersama menuju lapangan upacara. Ternyata di lapangan tersebut upacara penyambutan akan segera dimulai. Anggota polri berdiri dengan gagahnya sembari memegang senapan di depan tubuh mereka. Ceisya sempat pangling lantaran begitu terharu karena setelah sekian lamanya berpisah akhirnya mereka dipertemukan lagi.


Selang beberapa waktu akhirnya upacara penyambutannya selesai. Anggota polri masih berdiam diri di depan, berdiri tegak dengan pandangan lurus ke depan. Menunggu pasangan mereka menghampiri.


Para istri anggota yang lainnya yang sempat mengikuti upacara itu juga langsung bergerak mencari pasangan mereka. Begitu pula dengan ceisya yang ditemani si kecil Zafri. Lihatlah namanya sangat mirip dengan laki-laki yang pernah hadir di hidupnya. Mengingat itu membuat Ceisya segera menepis pikirannya yang melayang-layang. Apakah Ceisya harus bahagia saat putranya ia namai yang namanya hampir sama dengan nama laki-laki di kehidupannya dulu?


"Ayo, kira cari Papa, Sayang." bisik Ceisya mencium pipi gembul Zafri. Ia gemas melihat penampilan Zafri yang hampir mirip dengan polisi kecil. Apakah akan menjadi calon-calon?


"Oke." jawab Zafri pendek. Di umurnya yang hampir memasuki usia dua tahun, Zafri sudah pandai berbicara walaupun sedikit belepotan.


Dengan tetap menggendong Zafri, Ceisya melangkah maju. Mencari pasangannya, tidak sulit karena Ceisya sangat hafal perawakan suaminya. Ia berjalan melewati para anggota polri yang lainnya.


Netra matanya langsung menemukan sosok laki-laki yang begitu berarti di kehidupan. Sosok yang selama tiga tahun ini sudah menjadi suaminya. Ceisya hanya diam, mencoba mengetes ikatan batin sang anak dengan papanya. Rupanya si kecil Zafri itu langsung peka. Buktinya setelah Ceisya membatin, Zafri langsung menunjukkan ke arah pria dengan pakaian khasnya sedang menggendong tas punggungnya dan senapannya masih nangkring di depan tubuhnya.


"Papaa!!" teriak Zafri antusias. Tangannya terentang lebar ke arah pria itu. Ceisya yang melihatnya pun tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya ke arah pria itu. Kedua mata mereka langsung bertemu. Bola mata Ceisya langsung berkaca-kaca.


.


.


.


maaf ges, alurnya dipercepat. seharusnya itu pas awal Ceisya nikah. Cuman, aku gak tau gimana tuh konsepnya anggota polri nikah. Apalagi pedang pora tuh, nyerah deh akunya. Jadi, langsung kita percepat aja ya. Hampir end nih, kerahkan jempol kalian🥰

__ADS_1


__ADS_2