
"Satu lagi. Temanku ini namanya Zafran. 'Zafran. Ingat itu ya? Jangan memanggilnya Om. Aku takut nanti akan keluar tanduk dari kepalanya kalau kau terus membangkang." bisik Daniel yang nyatanya masih terdengar.
"Begitu ya, Kak?" Ceisya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Iya, begitu."
"Baiklah."
Ceisya memiringkan sedikit tubuhnya menghadap Zafran. "Om. Benar apa yang di katakan oleh Kak Daniel kalau nanti tanduk akan muncul dari kepala Om?"
"Daniel sialan!" umpat Zafran.
"Bukankah tadi Kakak sudah menyuruhmu supaya tidak memanggil Om kepada sahabat Kakak?"
Ceisya kembali duduk normal. "Itu kan tadi, Kak. Bukan sekarang."
"Astaga! Kau!" Daniel menghirup banyak udara di sekitarnya.
"Reva, bisa tidak tolong pesankan aku es kelapa seperti minumanmu tadi? Rasanya tenggorokanku kering seperti dompetku yang hanya tersisa KTP saja."
"Baiklah, Kak. Aku pesankan sekarang." Reva yang sudah lupa kejadian tadi akhirnya bisa berbicara lancar.
"Jangan terlalu lama, Reva." pinta Daniel sambil mengadahkan kepalanya ke atas memandangi dahan-dahan pepohonan.
"Iya, Kak, iya."
Reva bangkit dari duduknya dan berjalan menuju gerobak si Mamang.
"Om, Kak Daniel kenapa?" tanya Ceisya.
"Mana ku tahu. Kau tanya saja ke orangnya langsung." sungut Zafran entah kenapa setiap dia berbicara dengan Ceisya emosinya menjadi tidak stabil.
"Begitu saja sudah marah, Om."
Zafran mendelikkan matanya ke arah Ceisya. "Kau begitu lancarnya memanggil Daniel dengan sebutan Kakak. Sedangkan aku?"
"Kau dan Kak Daniel berbeda, Om." jawab Ceisya sambil memandang ke arah Daniel yang tidak sabaran menunggu Reva.
"Berbeda dari mananya?" Zafran mencoba bertanya.
"Ya. Berbeda saja, Om. Kau begitu menyebalkan di mataku. Sedangkan Kak Daniel begitu baik, lembut. Tapi, mudah marah kalau bicara denganku." sahut Ceisya terkikik di akhir kalimatnya.
"Maksudmu aku jahat, begitu?" tanya Zafran sambil menahan gejolak amarah.
"Yang bilang Om jahat itu siapa? Aku kan hanya bilang kalau Om itu menyebalkan!"
Zafran tergelak. Memang benar apa yang di bilang Ceisya!
"Om, kenapa diam?" tanya Ceisya saat melihat Zafran hanya diam setelah obrolan mereka.
Zafran menoleh sebentar ke arah Ceisya. Seulas senyuman tidak biasa tercetak di bibirnya.
Zafran mendekatkan wajahnya dengan Ceisya. "O-om, jangan dekat-dekat!" ujar Ceisya terbata. Jarang berdekatan dengan seorang pria membuatnya menjadi takut.
"Memangnya kenapa, hem?" tanya Zafran tanpa rasa bersalah dan memajukan wajahnya hingga jarak diantara keduanya hanya tersisa beberapa centi saja.
"Om." panggil Ceisya berusaha keluar dari zona yang menjeratnya.
__ADS_1
"Hemmm, ya...?" tanya Zafran. Hembusan nafasnya bahkan terasa di wajah Ceisya.
"O-om tidak mau pesan? A-aku traktir deh." tawar Ceisya langsung mendapat penolakan dari Zafran.
"Om?" Zafran berbisik tepat di depan telinga Ceisya yang membuat gadis itu merinding. Entahlah. Tiba-tiba pasokan oksigen terasa habis.
"Y-ya...?"
"Janji mau traktir?"
Ceisya langsung mengangguk cepat.
Zafran menjauhkan wajahnya dari Ceisya dan duduk normal. "Kalau begitu pesankan aku makanan." pinta Zafran tanpa sadar tersenyum manis.
Byurr
Air yang masih belum tertelan di dalam mulut Daniel langsung tersembur. Posisinya yang berhadapan dengan Reva membuatnya tanpa sengaja menyembur wajah cantik Reva.
"Kak, kau tega!" Reva mengusap kedua matanya.
"Ah...ya. Maafkan Kakak, Reva." Daniel yang kebetulan meliha tisu di meja sebelahnya langsung menyambar tisu tersebut.
"Sini! Kakak bersihin dulu."
Reva pasrah saat wajahnya dibersihkan perlahan-lahan menggunakan tisu oleh Daniel.
"Sudah." ujar Daniel tersenyum puas melihat wajahnya Reva yang sudah bersih dari cipratan es kelapa.
Melihat wajah kesal yang masih bersemayam di wajah Reva, Daniel pun meminta maaf sekali lagi.
"Reva."
"Mau kan maafin Kakak, Reva?" tanya Daniel sambil memasang wajah memelas.
"Iya, Kak."
"Sungguh?"
"Iya, Kak, iya."
"Terima kasih, Reva. Kau begitu manis kalau cemberut begitu." ujar Daniel jujur.
Reva hanya memutar kedua bola matanya jengah. Sudah ribuan banyaknya pria di muka bumi yang selalu memujinya. "Ya ya ya. Terima kasih atas pujian anda, Tuan Daniel."
Daniel hanya menyengir menanggapi perkataan Reva.
"Oh, iya. Kau kenapa sampai menyemburkan air di wajahku ini, Kak?" tanya Reva melupakan kekesalannya.
"Oh, itu." Daniel menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sembari melirik Zafran yang sudah memasang wajah datarnya.
"Kau kenapa, Niel?" tanya Zafran dingin. Sebenarnya sudah tahu. Tapi, Zafran hanya mengetes kepekaan sahabatnya itu.
"Tidak apa-apa, Zaf. Hanya tersedak serangga kecil saja." kilah Daniel yang sudah mengetahui di balik sorot mata dingin itu.
"Woah! Benarkah itu, Kak?" tanya Ceisya sambil memasang wajah kagetnya. "Serangga mana yang sudah berani membuat Kakak tersedak? Akan ku musnahkan!" ujarnya dengan tekat yang menggebu.
"Sudahlah, gadis bar-bar. Tidak baik menyimpan dendam." balas Daniel.
__ADS_1
"Memangnya aku ada bilang dendam, Kak?"
Zafran tersenyum penuh ejekan memandang wajah Daniel.
"Tidak sih." Daniel menggaruk kepalanya tidak gatal. "Oh, iya. Bukankah kita belum memesan makanan, Zaf?" tanya Daniel mengalihkan pembicaraan.
Segera Zafran mengubah ekspresinya kemudian memandang Ceisya penuh harap. "Bukankah tadi kau mau mentraktirku makan?"
"Semoga saja gadis ini tidak lupa dan semoga saja dia tidak berkata itu kan tadi, Om"
"Beruntung kau ingatkan, Om. Baiklah, hari ini aku akan mentraktir kalian berdua."
"Aku?" tunjuk Reva ke arah dirinya sendiri.
"Kau kan sudah makan. Apakah masih lapar?"
Reva menganggukan kepalanya. Tidak menyia-nyiakan kebaikan sahabatnya itu. Meskipun dia tahu bahwa Ceisya selalu baik kepadanya dan selalu yang terbaik.
"Mamang!" teriak Ceisya.
"Iya, Neng?" jawab si Mamang juga ikut berteriak.
"Buatkan mie ayamnya empat porsi ya, Mang!"
"Siap, Neng! Di tunggu ya!"
"Oke, Mang. Oh, iya. Plus batagor satu ya, Mang."
"Siap atuh, Neng!"
Zafran dan Daniel hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah lucu Ceisya. Sedangkan Reva, dia sudah terbiasa dengan segala tingkah laku Ceisya yang di luar nalar. Kadang dia dibuat terheran-heran.
Tidak lama datanglah si Mamang dengan empat porsi mie ayam dan juga batagor spesial pesanan Ceisya.
Tidak menunggu lama, mereka sudah menyantap mie ayam tersebut dengan lahap. Sesekali tertawa karena obrolan Ceisya dan Daniel. Ceisya yang polos menjawab obrolan Daniel yang selalu di buat darah tinggi olehnya. Sedangkan Zafran, pria tersebut merasa telah di asingkan oleh makhluk bumi tersebut.
"Kalian berdua langsung pulang saja. Hari sudah sore. Tidak baik untuk gadis ingusan seperti kalian!" perintah Zafran. Sayangnya baik Ceisya maupun Reva tidak tersulut emosi saat Zafran mengolok mereka dengan memanggil gadis ingusan.
"Benar apa yang di bilang oleh Zafran. Kalian langsung pulang. Jangan berkeliaran lagi. Tidak baik!" sambung Daniel.
"Iya, Kak, iya. Kau itu cerewet sekali sih. Seperti mak lampir saja." balas Ceisya membuat mata Daniel melotot sempurna.
"Jangan melotot begitu, Kak. Ini kami mau pulang kok." ucap Ceisya. "Yuk, kita pulang Reva!" Ceisya menarik pelan tangan Reva menuju motor mereka yang terparkir.
"Kami pulang dulu, Kak Daniel."
"Kami pulang dulu ya, Kak Daniel dan Kak Zafran. Kalian juga hati-hati di jalan." pamit Reva sambil melambaikan tangannya.
Nah, bahkan Ceisya saja tidak mengucapkan selamat perpisahan kepada Zafran.
Zafran dan Daniel hanya memandangi kepergian Ceisya dan Reva. Hari ini mereka senang seperti mendapat warna baru di hidupnya.
"Zaf."
"Hmm?"
"Jangan sampai oleng! Hati-hati termakan omongan sendiri."
__ADS_1
Daniel menepuk pelan bahu Zafran sebelum melangkahkan kakinya menuju motor mereka.
"Zafran. Ayok pulang! Kita harus ke kantor terlebih dahulu." teriak Daniel yang sudah bertengger manis di atas motor kebanggaannya.