
Keesokan harinya Zafran datang lagi menjenguk Ceisya. Gadis itu rupanya tampak baru saja bersih-bersih dibantu oleh Bunda Nai. Raut wajahnya terlihat lebih segar, bibirnya juga sudah tidak pucat pasi.
Bunda Nai hanya tersenyum melihat kedatangan pria itu. Zafran membawa kresek di tangannya.
"Bawa apa kamu, Nak?" tanya Bunda Nai sembari membantu Ceisya menaiki ranjang.
"Oh, hehe. Ini cuman bawa bubur ayam, Tante. Barang kali Tante belum sarapan?" tebak pria itu yang ternyata benar adanya.
"Tau aja." balas Bunda Nai tertawa.
"Yaudah, nih makan, Tante. Kebetulan aku bawa dua kok." ucap Zafran meletakkan kresek itu di atas meja lalu membukanya.
Setelah membantu Ceisya, Bunda Nai langsung mendekati Zafran. Perempuan itu mengambil duduk di sofa berhadapan dengannya.
"Makasih ya, Nak."
"Sama-sama, Tante." balas Zafran tersenyum. Lalu ia terheran-heran saat melihat Bunda Nai yang bangkit dari duduknya lalu mendekati Ceisya.
"Tante, mau ke mana kok pindah?" tanya pria itu heran.
"Ceisya belum sarapan. Tante mau bagi dua."
"Eh... eh. Gak usah, Tante. Ini akun bawa dua kok. Yang satunya buat Tante trus yang satunya lagi buat Ceisya."
"Kamu gak sarapan?"
"Tadi udah kok, Tante, pas aku beli bubur ayamnya, aku udah sarapan di sana. Tante duduk diam aja di sini biar aku yang bantuin Ceisya sarapan. Boleh, Tante?" jelas pria itu meminta izin.
"Kamu gak repot memangnya?"
"Enggak kok, Tan. Aman aman aja kok. Tante gak perlu khawatir."
__ADS_1
Bunda Nai pasrah, perempuan itu kembali duduk di sofa tadi. Membiarkan Zafran membantu Ceisya sarapan pagi. Lagi pula Ceisya sering mengeluh lantaran masakan rumah sakit itu tawar lah hambar lah, macam-macam pokoknya.
Pria itu mengambil wadah bubur ayam itu lalu bangkit berjalan menuju ranjang. Duduk di kursi di yang berada tepat di ranjang rumah sakit itu.
"Makan yah?" ujar pria itu lembut sembari menatap wajah teduh gadis pujaannya.
"Kalau aku nggak mau gimana, Om?" pancing gadis itu sedikit jahil.
"Kalau kamu gak mau makan, biar aku aja yang makan kamu. Gimana?"
"Hehe, yaudah sini biar aku sendiri aja." gadis itu merebut wadah bubur ayam di tangan Zafran.
"Ehh ehh. Gak boleh. Kamu duduk manis aja di sini biar aku yang suapin." pria itu merebut kembali wadah di tangan Ceisya.
"Om, kamu bandel banget ya ternyata."
"Aku bandel, tapi kamu lebih bandel lagi. Udah pro ya, Neng?" goda pria itu tersenyum.
"Oh, ya ya. Sini Aaaa dulu."
"Aaaaaa..."
"Pinter. Lagi-lagi..."
Setengah porsi bubur itu telah berpindah ke dalam perut Ceisya. gadis itu menolak saat Zafran menyodorkan lagi.
"Udah, Om. Kenyang."
"Lahh lahh. Ini baru setelah loh. Beneran kenyang?" pria itu terkaget. Tapi, ia maklum, yang namanya orang sakit pasti naf su makannya menurun.
"Iya, Om. Padahal buburnya enak tapi akunya eneg." keluh gadis itu.
__ADS_1
"Yaudah deh, gak pa-pa. Nih airnya di minum dulu." pria itu mengacak rambut Ceisya gemas lalu menyambar air di dalam gelas di atas nakas.
Karena takut mubazir, Zafran memilih untuk memakan sisa bubur Ceisya tadi. Sontak gadis itu melihatnya aneh.
"Kenapa?" tanya Zafran yang asik menyendokkan bubur ke dalam mulutnya. Hanya beberapa suapan bubur itu seketika ludes.
"Itu kan bekas aku, Om." seru Ceisya.
"Memangnya salah? Memang ada sianida nya gitu?"
"Ihh! Gak gitu, Om. Hhhh... tau ah mending tidur." gadis itu langsung memejamkan matanya. Kebetulan ia juga baru selesai meminum obatnya.
"Iya, langsung tidur aja biar cepet sembuh." balas Zafran seadanya. Gak rela memang, dirinya masih ingin berbincang dengan gadisnya tapi ya sudahlah. Kesehatan gadis itu lebih penting dari apa pun.
"Hmmm..." gumam gadis itu yang mulai memejamkan matanya. Namun, matanya gak bisa diajak kompromi. Beberapa kali gadis itu berusaha mencoba untuk tertidur. Tapi, yang ada malahan matanya melek sempurna.
Karena lelah akhirnya gadis itu membuka kedua matanya. Menyedarkan di segala penjuru ruangan menemukan Bundanya sedang memainkan ponsel pintarnya.
"Bun." panggil gadis itu membuat Bunda Nai sontak melihatnya.
"Kenapa, Sayang? Bukannya kamu sudah tidur. Tapi, kok bangun lagi. Kamu pengen apa? Ke toilet?" tebak perempuan itu sambil mematikan ponselnya.
"Ke mana, Bun?"
Bunda Nai mengerti arah bicara Ceisya.
"Zafran lagi keluar menjemput adik kamu. Soalnya Ayah lagi ada kerjaan jadi gak bisa jemput."
"Owh... kenapa gak pakai motor sendiri aja, Bun?" tanya gadis itu terheran.
"Lagi di bengkel. Kemaren kan motornya gak sengaja ditabrak orang." jelas Bunda Nai sekali lagi membuat Ceisya mengangguk paham.
__ADS_1
"Bunda liat, keliatannya kalian itu deket banget. Ada hubungan apa sebenarnya? Jujur aja sama Bunda, Sayang. Insya Allah Bunda bantu."