Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi
Part 38


__ADS_3

Ayah Faisal masuk ke ruang inap Ceisya dengan raut wajah menunjukkan kemarahan. Siang ini pihak dari polisi datang ke rumah sakit, mereka menjelaskan perkara kejadian malam naas itu. Pelaku sudah ditetapkan, yaitu sekomplotan preman yang tidak jauh dari kost-annya Ceisya berada. Polisi juga menjelaskan perkara kejadian itu. Semua penjelasan itu adalah hasil dari mereka mengintrogasi pelaku.


Para pelaku dijerat pasal kasus pelecehan sek*sual dengan tindak pidana penjara minimal 2 tahun penjara. Hal itu membuat Ayah Faisal sedikit bernafas lega karena pelaku sudah ditangkap. Tapi, dia juga sedih karena nasib yang menimpa putrinya sekarang. Baginya sangat susah untuk menyembuhkan trauma seseorang apalagi kasusnya seperti itu. Ditambah hilangnya ingatan Ceisya membuat mereka harus lebih tepat dalam mengambil tindakan.


"Gimana, Yah?" tanya Bunda Nai begitu sang suami masuk.


Ayah Faisal hanya menghembuskan nafasnya berat. Lalu duduk sofa sambil memejamkan matanya erat kala denyut di kepalanya terasa.


"Pelaku sudah ditangkap."


"Siapa?"


"Biasa. Para preman yang membuat ulah."


"Ceisya gimana? Sudah baikan?" tanya Ayah Faisal mengingat beberapa hari ini Ceisya selalu berteriak histeris saat Dokter memerika keadaannya.


"Seperti biasanya, Yah." jawab Bunda Nai lesu.


Beberapa hari yang lalu, Ceisya juga mempertanyakan bagaimana sekolah SMA-nya? Padahal saat ini dia sudah berkuliah memasuki semester 7. Karena kejadian ini kuliahnya harus ditunda sampai waktu yang belum bisa ditentukan. Tentunya sampai Ceisya sudah baikan.


Perlahan-lahan Bunda Nai menjelaskan dan itu juga dimengerti oleh Ceisya. Ceisya tidak mengingat ingatannya 3 tahun yang lalu. Jadi, dipikirannya saat ini adalah dia masih bersekolah di bangku SMA tepatnya di kelas 12.


Sedangkan di tempat yang berbeda tampak seorang pria yang masih menggunakan seragamnya sedang beristirahat di asramanya. Tangannya memegang ponsel yang memperlihatkan sebuah gambar seorang gadis yang sedang tersenyum lebar.


Sudah 2 minggu berlalu sejak keberangkatannya ke luar kota, dia tidak bisa menghubungi nomor itu.


"Kamu di mana, Sa?" gumamnya sambil mengusap-usap gambar itu.


Jadwalnya yang begitu padat membuat pria itu sedikit tidak leluasa untuk beristirahat sedikit lama.


"Kenapa?" tanya seseorang disertai tepukan di pundaknya.


Zafran lekas menyembunyikan ponselnya lalu membalikkan badannya.


"Eh! Ndra." ujar Zafran kepada temannya yang menggunakan seragam yang sama seperti dirinya.


"Kenapa? Tidak bisa dihubungi lagi?" tebak Candra.


Zafran hanya mengangguk.


"Sabar tinggal sebulan lebih sedikit kita akan pulang dari sini." ujar Candra memberikan semangat. Dia yang selalu melihat Zafran sedikit galau saat tidak bertugas. Sayangnya Candra tidak tahu bagaimana sosok gadis yang membuat Zafran galau.


"Tanya saja pada Daniel. Siapa tau dia akan memberi kabar."


"Dia tidak tau. Bertanya pada Reva juga percuma, gadis itu juga tidak tahu menahu."

__ADS_1


"Eh! Eh. Kita dipanggil tuh. Ayo, nanti terlambat."


Zafran dan temannya itu langsung berlari ke lapangan saat dipanggil oleh pimpinannya. Begitulah hari-hari yang dijalani pria itu.


.


.


.


Sore ini, Ceisya mendapat kunjungan di ruangannya. Tampak seorang gadis yang sudah menjadi sahabatnya itu tengah menatapnya sedih. Sedari tadi dia hanya terdiam saat mengetahui fakta bahwa sahabatnya kehilangan separuh ingatannya.


"Kamu siapa?"


Kalimat itulah yang pertama kali Ceisya lontarkan membuat tubuh Reva melemah seperti jelly. Gadis itu diam, menahan diri agar tidak menangis. Ingin sekali dia memeluk sahabatnya itu.


Reva mendapat kabar buruk itu di keesokan harinya dari malam kejadian itu. Dan sekarang dia baru bisa menjenguk sahabatnya itu. Di dalam ruangan serba putih itu ada kedua orang tua Ceisya yang setia mendampingi. Apalagi Bunda Nai yang tidak pernah beranjak sedikitpun dari tempat itu. Beda dengan Ayah Faisal, pria itu bolak-balik ke rumah sakit.


Reva dengan cepat menyeka air matanya yang tiba-tiba menetes. Dia memalingkan wajahnya ke samping.


"Tante, Om. Sepertinya Reva harus pulang mengingat hari sudah mau malam." ujar Reva yang belum beranjak dari sisi ranjang Ceisya.


"Yakin mau pulang? Tidak mau menginap?" tawar Bunda Nai.


"Engga deh kayaknya, Tan." tolak Reva.


"Baiklah, kalau begitu. Mari, Om antar kamu ke depan."


"Iya, Om."


Tanpa menoleh ke arah Ceisya, Reva langsung bangkit dari duduknya. Tapi, tangannya langsung di tahan. Tanpa membalikkan badan Reva berhenti. Air matanya luruh. Dengan cepat dia menyekanya menggunakan tangan kanannya yang terbebas.


"Kamu bilang kamu sahabatku?" ujar Ceisya membuat air mata Reva kembali jatuh.


"Iya, Sayang. Dia sahabat kamu." sahut Bunda Nai mengerti kondisi Reva.


"Apakah begitu yang namanya sahabat?"


"Bunda dan Ayah bilang kalau separuh ingatanku hilang. Dan waktu kita saat bersama juga hilang. Apakah kamu tidak mau membantuku mengingatnya kembali? Setidaknya ganti waktu itu dengan yang baru."


Diam-diam tanpa sepengetahuan Ceisya, Reva tersenyum. Sedikit tersentuh dengan kalimat yang Ceisya ucapkan. Setidaknya masih ada sedikit harapan untuknya agar Ceisya kembali dekat dengannya.


Bunda Nai yang melihat itu ikut tersenyum.


Ceisya masih menahan tangan Reva. Kemudian Reva membalikkan badannya menatap sahabatnya itu.

__ADS_1


"Kenapa tidak?" ucap Reva membuat keduanya tersenyum.


Senyum itu?


Ceisya melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Reva. Kini gadis itu merintih sambil memegang kepalanya yang masih terbalut perban putih.


"Stttssss.... B-bunda, sa-sakit." ujar gadis itu terbata.


Reva panik. Dia melirik Bunda Nai yang saat itu langsung memencet tombol darurat sedangkan Ayah Faisal langsung keluar ruangan dengan cepat.


Tidak lama datanglah Dokter. Dokter langsung memeriksa keadaan Ceisya. Meski Ceisya meronta. Seperti biasa gadis itu langsung mendapat suntikan obat penenang. Baru setelahnya Dokter bisa memeriksa Ceisya dengan sedikit leluasa.


"Sering kali seperti itu." ujar Bunda Nai bergetar.


"Sering, Tante?" jawab Reva bingung. Kedua perempuan itu sama-sama menangis.


"Iya. Hampir setiap mau diperiksa dia meronta-ronta."


"Kenapa bisa?"


"Trauma..." Bunda Nai menjelaskan sedikit tentang keadaan Ceisya.


Reva yang mendengar itu langsung terisak. Dia menatap Ceisya yang sudah tertidur akibat obat yang disuntikkan tadi.


"Tante harap ini menjadi rahasia kita, ya?"


Reva yang mengerti segera mengangguk. "Iya, Tante. Reva janji." ucap Reva bersungguh-sungguh.


"Pasien sudah lumayan membaik. Sepertinya dalam jangka waktu 3-5 hari sudah boleh pulang. Tapi, obatnya selalu di minum. Jangan sampai lupa atau semacamnya karena itu sangat berbahaya bagi kesehatan pasien." jelas Dokter.


"Baik, Dok."


"Yasudah. Kalau begitu saya pamit."


Kini Reva dan Bunda Nai sudah berdiri di sisi kanan kiri ranjang Ceisya.


"Tante akan membawa Ceisya ke luar kota. Di sana tempatny lebih nyaman." ujar Bunda Nai.


"Tante, beneran?"


"Iya."


"Tenang. Kamu bisa kok menjenguknya di sana." jelas Bunda Nai membuat Reva bernafas lega. Rasanya tidak rela berjauhan dengan sahabatnya itu.


"Reva, apa Ceisya punya pacar?"

__ADS_1


__ADS_2