
Anggota keluarga Ceisya kini berkumpul. Mereka seperti membicarakan hal yang cukup serius. Dilihat dari raut wajah mereka masing-masing.
"Mas, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Fairuz Paman Ceisya yang datang bersama istri dan anaknya.
"Aku juga tidak tau. Malam itu pihak dari polisi langsung mendatangi rumah." jelas Ayah Faisal mengingat semalam beberapa anggota dari kepolisian mendatangi rumahnya dan membawa berita buruk.
Saat itu polisi hendak menyelidiki area terjadinya peristiwa itu. Mereka menemukan motor Ceisya yang tidak jauh berada di sana, tepatnya di tempat Ceisya berhenti untuk berteduh. Lalu mereka menemukan dompet Ceisya di motor dan ponsel yang tergeletak di jalanan becek.
"Hari sudah larut. Sepertinya aku harus pamit dulu, Mas, Mbak." ujar Fairuz yang diangguki oleh Ayah Faisal dan Bunda Nai.
"Hati-hati di jalan."
"Iya, Mbak."
"Rizki, kamu mau pulang, Sayang?" tanya Bunda Nai yang tidak tega melihat anak bungsunya.
"Nggak deh, Bun. Aku mau di sini aja." jawab Rizki yang duduk bersebelahan dengan sang Bunda. Lalu merebahkan kepalanya di pangkuan sang Bunda.
Dengan setia Bunda Nai mengelus-elus kepalanya Rizki yang tumbenan menjadi manja. "Besok kan sekolah."
"Besok pagi aja, Bun, pulangnya." kekeuhnya.
"Hummm... yasudah kalau begitu. Besok Bunda bangunin pagi-pagi."
"Ayah, pihak kampus sudah diberi tahu?" tanya Bunda Nai.
"Sudah, Bun. Mereka memaklumi kok. Untuk sementara waktu kuliah Ceisya ditunda dulu."
"Huft!!" Bunda Nai hanya menghela nafas panjang, tidak tahu harus berkata-kata lagi. Sedih sudah tentu melihat anak sulungnya terbaring di ranjang rumah sakit dengan infus dan beberapa alat lainnya masih terpasang di tubuh gadis itu.
"Sabar, Bun. Pelan-pelan biar nanti Ceisya tidak drop."
"Apa tidak sebaiknya nanti Ceisya kita tempatkan di tempat pesantren Aryo?" ujar Bunda Nai yang mendapat sedikit ide cemerlang.
"Boleh juga. Di sana suasana cocok untuk penyembuhannya. Kita lakukan kemo terapi di sana siapa tau perlahan-lahan ingatannya bisa kembali. Kita hanya bisa menunggu dengan sabar dan tidak boleh sampai mengambil langkah yang salah."
"Bunda dan Ayah beneran mau menjodohkan Kakak?" sahut Rizki yang sedari tadi menyimak.
"Ayah juga tidak tau. Perjodohan itu sudah lama adanya semenjak Kakak kamu sekolah di bangku SMA."
"Tapi, Yah. Apa Ayah tidak memberitahu Kakak?"
"Sebaiknya ini ditutup rapat dulu."
"Bunda?" ujar Rizki agar Bundanya menanggapi.
__ADS_1
"Bunda sih oke oke aja." jawab Bunda Nai.
"Bunda mah pasrah mulu." celetuk Rizki mendapatkan satu sentilan di keningnya.
"Baiklah. Besok biar Ayah tanyakan kepada Aryo. Kalau mereka menyetujui itu bagus, saat Ceisya keluar dari rumah sakit nanti kita langsung membawanya ke sana."
"Apa tidak terlalu cepat, Yah?" ujar Rizki sedikit keberatan.
"Kenapa? Kamu mau ikut juga? Boleh, sehabis kamu ujian kita ke sana."
"Masih lama, Yah." cibik Rizki.
"Sudah, sudah. Hari sudah larut. Sebaiknya kita tidur. Besok kamu sekolah, Rizki." tegur Ayah Faisal.
"Iya, Ayah. Ini mau tidur kok." jawab Rizki cepat.
"Kamu mau tidur si sofa atau di bawah?" tanya Bunda Nai yang saat itu sedang menghamparkan tikar di lantai.
"Di sofa aja, Bun. Bunda di bawah biar nanti nggak pegel tidur di sofa."
Bunda Nai pun berbaring, sebelum itu wanita dua anak itu melepas jilbab simpelnya. Sedangkan Rizki langsung memejamkan matanya erat.
Ayah Faisal yang saat itu bertugas berjaga tersenyum. Mengambil selimut kecil di dalam tas dan memakaikannya ke istri dan anaknya.
Kini pria itu berjalan mendekati ranjang. Mengelus kepala gadis itu yang berbalut perban lalu menggapai tangannya. Air matanya jatuh seletika. Bibirnya bergetar tidak sanggup melihat keadaan sang anak yang berbaring tidak berdaya.
"Cepat sembuh putri kecil Ayah." bisik Ayah Faisal lalu mendaratkan satu kecupan di kening yang terbalut perban putih itu.
Pagi-pagi sekali ruangan serba putih itu sudah rapi. Hanya tertinggal Bunda Nai yang sedang berkemas sedangkan Ayah Faisal mengantarkan Rizki ke rumah karena harus bersekolah.
Bunda Nai menyingkap gorden yang menutupi cahaya matahari untuk masuk ke dalam ruangan.
Tidur gadis itu sedikit terusik, perlahan dia membuka kedua matanya menatap wanita yang usianya berkepala empat itu sedang menghampirinya. Bibir pucatnya tersenyum membentuk lengkungan kecil.
"Pagi, Sayang." sapa Bunda Nai berdiri di sisi ranjang.
Gadis itu hanya tersenyum. Rasanya sangat susah untuk menggerakkan seluruh tubuhnya termasuk berbicara.
Tidak lama pintu ruangan terbuka menampakkan tubuh seseorang yang terbalut jas putih kebesaran dan disusul oleh Suster di belakangnya.
"Pagi gadis manis. Sekarang Dokter periksa dulu ya?" ujar sang Dokter yang seperti memperlakukan anak-anak.
Tampak raut ketakutan dari gadis yang terbaring itu saat Dokter meletakkan stetoskop ke arah dadanya. Gadis itu tiba-tiba berteriak histeris. Dia mencabut infus yang menancap di tangan kirinya hingga membuat darah berceceran di ranjang dan lantai.
"Dok, apa yang terjadi?" ujar Bunda Nai panik wanita itu sudah tidak bisa menahan air matanya.
__ADS_1
"Suster."
Suster yang dibelakang langsung memberikan jarum suntik. Lalu Dokter tersebut menyuntikkannya ke tangan Ceisya.
"Ibuk, tenang. Itu hanya obat penenang saja." jelas Dokter.
Air mata wanita dua anak itu sudah bercucuran deras, tidak kuat melihat kondisi anaknya yang sekarang. Apa yang terjadi sebenarnya? Apa?
"Sepertinya anak Ibu memiliki trauma. Ini hanya dugaan saya karena melihat semua gelagatnya. Sepertinya dia memiliki trauma, pelecehan sek*sual?"
Deggg
Seketika Bunda Nai langsung menegang. "Tapi, Dok. Kenapa kemarin dia tidak sehisteris ini saat Dokter memeriksanya?" tanya Bunda Nai heran.
"Saya juga tidak tahu. Sebaiknya Ibu harus membawanya ke psikiater, lebih cepat lebih baik untuk segera ditindaklanjuti."
"Baik, Dok. Terima kasih."
Selepas kepergian Dokter, tangis Bunda Nai langsung pecah.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Sayang?" air matanya mengalir deras.
Bunda Nai memegang tangan Ceisya yang sudah dipasangkan kembali infusnya oleh Suster tadi. Wanita itu mengecup pelan tangan Ceisya. Gadis kecilnya yang ceria, bahagia, jahil. Ke mana semua itu? Kini digantikan dengan kondisinya yang membuat hati wanita itu teriris. Ibu mana yang tega melihat anaknya terbaring lemah tidak berdaya di ranjang rumah sakit? Tidak ada bukan. Kalau pun ada, itu adalah iblis berwujud manusia.
Ceklek
Pintu ruangan terbuka menampakkan Ayah Faisal yang datang dengan membawa kresek. Pria itu langsung mendekati istrinya yang menangis, begitu pilu. Hatinya ikut teriris.
"Bunda, kenapa?" tanya Ayah Faisal sambil merengkuh tubuh istrinya setelah dia meletakkan kresek itu ke atas meja.
"Hiksss.... Ceisya, Yah..."
"Kenapa dengan Ceisya?" dengan setia Ayah Faisal mengusap bahu istrinya.
Bunda Nai hanya menggeleng. Rasanya begitu sulit untuk menjelaskan. Hanya ada tangis dan isakan. Baju yang dipakai Ayah Faisal sampai basah karena air mata istrinya.
"Ceisya pasti baik-baik saja. Dia putri kecil kita yang kuat dan tangguh. Dia pasti bisa. Dia permata kita, dia kuat." air mata pria itu luruh, ikut menangis sambil memeluk istrinya.
…
oke gess, konflik kita mulai 😂
otor yg nulis rasanya pengen nangis 😂
bismillah ya 🙏
__ADS_1
maaf ceritanya membosankan. otor baru pemula blm menjadi yg utama.