
Dengan wajah yang ditekuk, Zafran terus melirik tajam gadis yang saat ini sedang duduk santai di ranjangnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Maaf, Om. Tapi, kamu terlalu untukku
Kata-kata itu terus terngiang di telinganya. Membuatnya kehilangan separuh fokusnya. Sebenarnya bukanlah masalah besar. Pria itu cukup tau bahwa gadisnya hanya bercanda. Oke, baiklah! Pria itu akan sedikit bermain untuk melihat sampai di mana ketulusan hati gadis itu. Apakah hanya sekedar rasa sebagai sahabat ataukah rasa terhadap lawan jenis.
"Tante, Om. Sepertinya saya harus pulang." pria itu berucap tanpa melihat gadisnya.
"Oh, ya, ya. Hati-hati kamu pulangnya." balas Ayah Faisal.
"Iya, Om." Zafran mendekat, menyalami tangan keduanya sopan lalu berpamitan.
Selepas kepergian Zafran, ada seorang gadis yang dilanda rasa bingung. Lebih tepatnya merasa bersalah sih.
"Sayang, tadi Bunda sudah tanya dokter. Katanya besok kamu sudah bisa pulang." ujar Bunda Nai.
"Beneran, Bun?" tanya gadis itu dengan wajah berbinar.
"Iya, Sayang. Bener kok. Tanya aja adik kamu."
Ceisya melirik Rizki yang saat itu fokus dengan ponselnya.
"Apa liat-liat." ketus pemuda itu langsung mengalihkan pandangannya.
"Siapa yang ngeliat sih. Orang aku cuma liat sofa. Warnanya bagus. Besok beli sofa yang kayak gitu ya, Bun? Trus taroh di kamar aku."
Bunda Nai hanya menggeleng sambil tersenyum melihat keduanya.
.
.
.
__ADS_1
Pagi hari Ceisya telah bersiap-siap. Dibantu Bunda Nai mengemasi barang-barangnya sesekali ia membantu. Sementara Ayah Faisal mengurusi biaya administrasi dan kepentingan yang lainnya.
"Kangen banget sama rumah, Bun. Kangen juga mau ngampus. Ah, Reva." celetuk gadis itu yang teringat dengan sahabatnya.
"Yang sabar, Sayang. Lusa kamu insya Allah baru bisa ngampus. Hari ini dan besok biar istirahat di rumah saja."
"Iya, Bunda." jawab Ceisya pasrah.
Gadis itu tersenyum. Dibalik senyumnya yang manis itu tersirat kesedihan dan juga bingung. Pokoknya bercampur rata. Ke mana pria itu? Mungkinkah sedang bekerja.
Ceisya menepis semua pikiran buruknya. Mencoba melupakan barang sejenak. Pikirannya langsung tertuju pada tugas-tugasnya.
"Oh ya, Sayang. Ponsel kamu kan gak ada ya? Sebelum pulang ke rumah kita mampir ke toko ponsel ya?"
"Eh, iya, Bun. Aku baru ingat." ucap gadis itu.
Ayah Faisal datang membuka pintu ruangan Ceisya. Lalu mengajaknya untuk segera meninggalkan tempat berbau obat-obatan.
"Makasih, Ayah."
"Sama-sama, Bunda."
"Ahh, so sweet." sahut Ceisya seraya meledek kedua orang tuanya. Meskipun umur sudah tidak muda lagi namun keromantisan tidak boleh putus.
"Ada-ada aja kamu. Ya sudah. kita pulang sekarang." Bunda Nai menggandeng bahu Ceisya, menuntun gadis itu perlahan keluar dari rumah sakit.
Rasanya segar saat menghirup udara segar di luar rumah sakit. Gadis itu menarik nafasnya dalam.
Sesuai perkataan sang Bunda, mereka singgah ke toko ponsel terlebih dahulu. Mengganti ponsel Ceisya yang dulu.
Setelahnya ketiganya langsung pulang menuju rumah. Di dalam perjalanan Ceisya sangat berharap pria itu ikut serta mengantarnya pulang. Atau memberikan ucapan selamat, mungkin?
Mobil yang dikendarai Ayah Faisal perlahan masuk ke dalam halaman rumah. Menghentikan laju mobil lalu ikut membantu menurunkan barang-barang Ceisya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum."
Sepi. Itulah suasana ketika pintu rumah dibuka. Saat baru memasuki rumah, Ceisya langsung berlarian menuju kamarnya. Kamar yang sudah sangat ia rindukan.
"Sayang, jangan lari-larian di tangga?" tegur Ayah Faisal saat melihat Ceisya tergopoh-gopoh.
Sontak gadis itu memelankan langkahnya menaiki anak tangga. Menyorot kedua orang tuanya lalu menampilkan cengiran khasnya.
"Iya, Yah. Maaf."
"Pelan-pelan saja. Gak ada yang mau ngambil kamar kamu kok." lanjut Bunda Nai mengikuti Ceisya.
Ceisya hanya mengangguk.
"Ceklek..." pintu kamarnya dibuka oleh pemiliknya.
Ceisya langsung berhamburan ke atas ranjang. Membaringkan tubuhnya di sana. Suasananya masih sama seperti dulu.
"Kamu tidur ya? Bunda mau ke bawah makasih makanan buat makan siang." ujar Bunda Nai selepas mengeluarkan pakain Ceisya dari dalam tas, lalu menaruhnya ke dalam tempat pakaian kotor.
"Ini ponsel kamu Bunda taroh di nakas. Nanti saja baru memainkannya."
"Iya, Bunda." jawab gadis itu perlahan menutup matanya sejenak. Meresapi suasana di dalam kamarnya. Tangan yang ia rentangkan membuatnya sedikit nyaman, bebas tentunya tidak seperti kasur di rumah sakit, sempit.
Matanya langsung terbuka saat teringat akan sesuatu. Mengangkat tangan kanannya dan melihat cincin yang masih terpasang di jari manisnya.
"Kok gak bisa dilepas? Kenapa, hm?" tanya gadis itu seolah-olah berbicara dengan benda mati.
"Betah ya di sini? Besok coba dilepas ya pakai sabun?" ia memutarkan cincin itu. Menatapnya dengan teliti.
Tidak sadar gadis itu bahwa cincin yang melekat di jari manisnya adalah sebuah pertanda bahwa mereka akan tetap bersama. Katakanlah itu. Sebuah tali yang menjalin hubungan keduanya. Hubungan tanpa adanya status.
Gadis itu tidak tau. Cinta? Rasanya masih belum tentu. Intinya satu kata. Nyaman.
__ADS_1