
"Kenapa merem?" bisik Zafran tepat di telinga Ceisya.
Sontak Ceisya membuka keduanya matanya. Dia mengalihkan pandangannya ke samping."T-tidak!" kilah Ceisya dengan wajahnya yang sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Masa?" goda Zafran. Tadinya dia ingin meneruskannya. Tapi, otak warasnya masih berguna. Sekuat tenaga Zafran menahannya.
"Apaan sih, Om?" Ceisya salting. Rupanya gadis itu bisa salting juga. Zafran pikir Ceisya akan bersikap polos.
"Itu kenapa pipinya merah?" ledek Zafran yang masih menggoda Ceisya. Dia begitu suka melihat gadis itu mati kutu akibat perbuatannya.
Pukk
Ceisya memukul dada bidang pria itu yang masih berdekatan dengannya.
"Aduhh!" mulailah Zafran mendrama. Berpura-pura kesakitan akibat pukulan dari Ceisya.
Ceisya dengan segala tingkat polosnya malah bertanya. "Sakit, Om?" tanya gadis itu sambil melihat Zafran memegang dadanya.
Zafran tersenyum kecil namun tidak terlihat. "Iya. Ini sakit sekali." ujarnya mendramatis.
"Benarkah?" tanya Ceisya yang percaya.
Lagi-lagi Zafran mengangguk. "Aku butuh obat!" pinta Zafran yang sudah mulai oleng otaknya.
"Obat? Apakah sesakit itu? Padahal tadi aku hanya memukulnya pelan."
"Pelan tapi menyakitkan." balas Zafran.
"Baiklah. Nanti setelah pulang dari sini kita mampir ke apotik sebentar."
"Untuk apa?" tanya Zafran.
"Katanya dadamu sakit." jawab Ceisya.
"Memang iya. Tapi, kau bisa kan mengobatinya!"
"Tidak bisa, Om."
"Bisa!"
"Tidak!"
"Bisa..."
"Caranya?"
Kena! Inilah jawaban yang ditunggu-tunggu Zafran.
"Caranya seperti ini!" Zafran mulai mengambil tangan Ceisya dan membawanya ke dadanya yang dipukul Ceisya tadi.
"Yakkkk...!!!" Ceisya berteriak kesal.
"Hahahahahaaa...." tawa Zafran seketika lepas karena sudah berhasil mengerjai gadis di sampingnya itu.
"Kau bohong, Om!" sungut Ceisya lalu mencubit perut dan lengan pria itu sambil mendumel. "Sekarang rasakan rasa sakit yang sesungguhnya!"
__ADS_1
"Aduh! Duhhh...sakit, Sa. Lepaskan dulu. Ini tidak seperti yang kau kira." Zafran menahan sakit yang sesungguhnya karena cubitan yang terus dia terima.
Ceisya menghentikan aktivitasnya itu. Dia menatap sengit ke arah Zafran yang terlihat meringis.
"Jangan cemberut!" Zafran mencubit sebelah pipi Ceisya. "Setelah ini kita akan menaiki banyak permainan. Mau tidak?" tawar Zafran membujuk.
"Awas bohong!" ancam Ceisya.
Setelah selesai menaiki wahana bianglala, mereka banyak memainkan permainan. Ceisya menunjukkan salah satu permainan yang ada di sana yaitu lempar kaleng susun.
"Om, aku mau boneka." rengek Ceisya menunjukkan boneka panda.
"Iya, iya." Zafran pasrah menuruti permintaan Ceisya.
Untuk merobohkan susunan kaleng, Zafran diberi kesempatan tiga kali melemparkan bola kecil. Sorot matanya begitu tajam seakan tengah mengatur strategi.
"Ayok, Om! Semangat!" Ceisya bertepuk tangan berulang kali seiring dia mengucapkan kata-kata semangat.
Zafran hanya tersenyum dibuatnya. Ceisya begitu menggemaskan.
Satu kali lemparan, kaleng tersebut hanya jatuh beberapa saja. Zafran tidak menyerah. Dia akan berusaha memenangkan permainan itu.
Kedua kalinya masih tetap sama. Keringat di dahinya sudah bercucuran. Zafran memang ahli dalam menembak. Tapi, untuk urusan yang satu ini dia meragukan keahliannya.
Sambil mengusap bismillah, Zafran melempar bola yang terakhir dan ya berhasil.
"Yes, berhasil!" ujar Zafran begitu bangga.
Ceisya, gadis itu langsung memekik seraya berjingkrak kegirangan. Setelahnya mereka memutuskan untuk beristirahat barang sejenak.
Ceisya hanya mengangguk. Dapat dilihat dari raut wajahnya yang menggambarkan keceriaan. Di sebelah tangannya, Ceisya memegang es krim yang hampir mencair karena terlalu fokus memeluk boneka panda itu.
Ingin sekali Zafran menukar boneka itu dengan dirinya. Saking irinya mungkin. Tapi, dia bahagia melihat senyuman gadis di sampingnya itu tidak surut.
"Mau apa lagi?" tanya Zafran, lalu sesaat kemudian ide brilian muncul di kepalanya. "Rumah hantu bagaimana?" tawar Zafran dengan seringaiannya.
Ceisya menoleh, melihat pria di sampingnya itu. Dia menyendok es krim ke mulutnya lalu setelah itu menjawab. "Boleh." ujar Ceisya setuju.
Zafran berpikir Ceisya hanya berpura-pura tidak takut saat mengiyakan ajakannya. Tapi, ternyata memang benar. Gadis kecil itu tidak takut saat mereka memasuki rumah hantu. Buktinya sekarang, dia begitu santai saat melihat hantu jadi-jadian yang menampakkan dirinya pada mereka.
Dengan santai Ceisya berjalan di samping Zafran sambil memeluk boneka di dekapannya. Sesekali dia menyapa hantu jadi-jadian itu.
"Eh! Hai, rambutmu begitu panjang. Dan juga pakaianmu kenapa berlumuran cat warna merah? Mau aku bantu untuk mencucinya? Oh ya. Sekalian ku bantu untuk memotong rambutmu itu. Tidak enak kalau dilihat yang lain." celetuk Ceisya saat melihat penampakan hantu berbaju putih dan berambut panjang.
Jangan ditanya bagaimana perasaan hantu jadi-jadian yang menyamar sebagai kuntilanak itu. Sudah dipastikan hatinya hancur. Mungkin dia akan berpikir ulang untuk berhenti saja menjadi hantu jadi-jadian yang menakuti pengunjung di pasar malam.
Zafran langsung menyeret lengan Ceisya yang malah berhenti menyapa si kunti. Dia sampai menggelengkan kepalanya. Sia-sia usahanya mengajak Ceisya ke rumah hantu. Pikirnya Ceisya akan ketakutan terus memeluknya di sepanjang dalam rumah hantu. Eh, tapi kenyataannya.
Mereka seperti berjalan-jalan di taman indah, begitu santai.
Sampailah waktu di mana Ceisya menjerit ketakutan. Dia melepaskan boneka di dekapannya itu berganti dengan memeluk Zafran.
Zafran terheran-heran namun dia menerimanya. Sangat senang malahan.
"Ada apa, hmm?" tanya Zafran yang sudah menghentikan langkahnya, membelai rambut Ceisya yang meringkuk ketakutan.
__ADS_1
Perlahan mata cantik itu mengeluarkan air mata. Dia menggelengkan kepalanya. "M-mau keluar, Om." cicit Ceisya takut, masih dengan posisinya saat ini.
"Kau takut dengan badut itu?" tanya Zafran lagi yang langsung menyadari.
Ceisya hanya mengangguk. Semasa kecil dulu dia mempunyai trauma takut dengan badut. Karena menurutnya badut itu menakutkan. Menurut Ceisya yang paling menakutkan adalah bagian senyumnya yang lebar itu nyaris seperti terkoyak.
Zafran mengendurkan tangan Ceisya yang melilit pinggangnya. Dia menangkup wajah gadis itu. "Yasudah. Kita keluar. Tapi, jangan menangis lagi." jari jempolnya menyapu pipi itu yang basah karena air mata.
"Ini bonekanya dipegang dulu." Zafran menunduk mengambil boneka panda yang tergeletak di bawah.
Ceisya menggelengkan kepalanya. "Pegang saja, Om."
"Masih takut?" tanya Zafran menyadari tubuh gadis itu sedikit bergetar. Ceisya mengangguk iya.
"Yasudah. Sini peluk!" Zafran merentangkan tangannya lalu disambut baik oleh Ceisya. Sempat merasa sesak karena pelukannya terlalu erat. Namun, tidak mungkin Zafran menyampaikannya.
Mereka berjalan keluar dari rumah hantu itu. Zafran tidak tega melihat Ceisya yang menangis. Dia paham dengan trauma yang dialami gadis itu.
Sesampainya di luar, Ceisya masih belum mau melepaskan pelukannya.
"Kita langsung pulang ya? Eh, tapi, mampir dulu ya. Kan belum makan." Ceisya hanya menurut.
Setelah memasangkan seatbelt pada Ceisya lalu Zafran memasang sendiri seatbeltnya.
Di dalam perjalanan, Ceisya hanya diam. Hal itu membuat Zafran merasa bersalah karena telah mengajak Ceisya memasuki rumah hantu. Lagian kenapa sih pakai ada acara muncul badut segala. Eh, tapi, Zafran mendapatkan keuntungan juga sih.
Setelah singgah ke warung makan, Zafran langsung mengantarkan Ceisya pulang ke kosannya.
"Jangan nangis lagi. Langsung bobok ya? Jangan bergadang. Good night." ujar Zafran seraya mengelus rambut hitam Ceisya.
"Hati-hati pulangnya, Om." Ceisya sudah tersenyum walau perasaannya masih sedikit takut karena hal tadi.
"Iya. Masuklah!"
Cup
Tanpa sadar Zafran meninggalkan satu kecupan di kening Ceisya. Lalu dia mengacak gemas rambut hitam. Zafran hanya tersenyum melihat Ceisya yang terbengong. Baru juga kening belum yang lainnya. Batin Zafran.
.
.
.
si ceisya klo senyum π
ini gambaran si om pas lagi naik komedi puter π mangap bajunya kagak same π cuman gambaran doang kok π kalian boleh menghayal yg mna aja visualnya π
si om bener-bener modus weh π
semoga kalian tdk bosan membaca cerita ini ya π€π€π€
__ADS_1