Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi
Part 70


__ADS_3

Drttt drtt


Dengan malas Ceisya beranjak dari pembaringannya, menyambar ponselnya yang masih dalam tahap charger. Gadis itu langsung mencabut colokan nya dari ponselnya.


Nama "Om Polisi" tertera di layar ponselnya.


Dengan gesit jarinya langsung menggeser tombol hijau dan panggilan pun tersambung.


"Hmm?" gumam Ceisya.


"Assalamu'alaikum, cantik. Lagi apa?"


Ceisya sempat menjauhkan ponselnya dan melihat ulang layar ponselnya yang memang betul itu si Zafran. Lalu apa yang aneh?


"Wa'alaikumsalam. Ini bener nomor Om Zaf?" tanya Ceisya.


Zafran yang berada di seberang sana sempat mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Ceisya. Sesaat dirinya tersenyum saat tiba-tiba muncul ide di kepalanya.


"Ekhem... bukan! Ini pacar Ceisya."


Ceisya langsung menutup mulutnya menggunakan punggung tangannya. "Siapa tuh?" goda gadis itu.


"Namanya Zafran. Zafran Arkana Chairil. Keren bukan?"


"Ya, ya. Sangat keren. Oh ya, ada apa menelfon? Bukankah ini masih jam bertugas?" tanya Ceisya.


Zafran mengayunkan sebelah kakinya yang terjuntai bebas. "Tugasku hanya nanti malam. Ada patroli di daerah XX. Katanya ada kasus pembegalan berkelompok. Do'akan semoga kasusnya cepat selesai ya."


"Pasti. Jangan lupa... hati-hati. Mereka berkelompok kan? Pasti ada yang akan membawa senjata tajam."


Zafran terkekeh pelan. "Hei, Sayang. Apa kau upa? Aku ini kuat. Tapi, untuk yang satu ini aku gak menjamin kalau aku kuat."


"Kenapa?" tanya Ceisya khawatir.


"Aku rindu. Bagaimana keadaanmu di sana? Apakah banyak pria yang mendekatimu?" tebak Zafran seperti seorang cenayang.


"Memang. Memang banyak. Kemarin bahkan ada yang mengajakku makan malam. Kau tau kan, Om. Aku itu sangat suka gratisan. Jadi..."


"Tunggu! Tunggu! Jadi, kau menerima tawarannya?" sela Zafran memotong pembicaraan Ceisya.


"Kalau aku jawab iya, kenapa?" balas Ceisya dengan berani.


"Ooohh... jadi, kau sungguh menantangku?"


"Ya, bisa dibilang seperti itu. Tapi, untuk apa aku menantangmu? Di sini banyak pria tampan. Ah, aku ingin menjadikan mereka semua pacar."


"Baiklah. Saat itu juga kau akan aku nikahi!"


"APA!"


"Sya, jangan berisik. Ini masih siang." tegur temannya yang tinggal satu asrama dengannya.


"Oh, maaf."


"Hahaha, apa kau senang, Sayang? Bukankah sebentar lagi kau akan menjadi ibu Bhayangkari? Apa kau senang, hm?" goda Zafran yang berhasil membuat pipi Ceisya memanas. Apa-apaan, lulus saja belum.


"Aaa! Hahaha, TIDAK! AKU BELUM SIAP UNTUK MENJADI ISTRI. INGAT ITU!" teriak Ceisya.


Tawa Zafran langsung menggelegar. Ingatlah pria itu hanya bercanda. Lagipula ia juga harus banyak belajar. Dan untuk menikah di usia muda pastilah sangat sulit bagi anggota kepolisian.


"Hahaha, aku hanya bercanda, Sayang. Rupanya kau sudah tidak sabar ya? Ummm, mungkin kita harus menunggu lima tahun kemudian? Apakah begitu?"


Ceisya menarik nafasnya dalam dan memejamkan matanya sejenak. "Om, ingatkan aku untuk memukulmu kalau aku sudah pulang. Ya?!"


"Haha, baiklah, baiklah. Semoga aku lupa. Dan ingatkan aku juga untuk memelukmu sampai puas saat kau tiba di sini. Apakah bisa?"

__ADS_1


"Ya ya ya. Silahkan." jawab Ceisya dengan malas.


"Baiklah. Mmm... kau tidak ke kampus?"


"Tidak, Om. Hari ini memang tidak ada kelas. Makanya aku bisa bersantai sambil mengerjakan tugas."


"Baiklah. Aku tutup telfonnya ya? Kau harus istirahat. Jangan lupa makan dan olahraga teratur. Aku tidak ingin melihatmu kurus saat kau tiba di sini. Apa kau paham, Sayang, hm?"


"Iya, iya, paham. Kau juga harus jaga kesehatan, Om."


"Baiklah, aku tutup. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Ceisya tidak langsung meletakkan ponselnya saat panggilan itu sudah terputus. Dirinya merebahkan tubuhnya ke atas kasur tipis.


"Apakah itu pacarmu, Sya?" tanya temannya yang satu asrama dengannya.


"Apa begitu kentara?" tanya Ceisya sambil melihat lawan bicaranya.


"Tidak juga. Apakah tampan?"


"Mmmm... bisa dibilang begitu." jawab Ceisya kemudian senyum-senyum sendiri. Entahlah, hanya dirinya yang tau apa yang sedang ia pikirkan.


•••


"Sya, makan siang ke depan yuk! Biasa, aku traktir."


"Sorry, Di. Mungkin lain kali aja." tolak Ceisya merasa jengah dengan tingkah Ardi.


"Baiklah, baiklah. Kalau nanti malam bagaimana?"


"Gue tuh..."


Drttt drttt


"Siapa?" kepo Ardi.


"Bukan siapa-siapa." balas Ceisya menutup layar ponselnya saat Ardi dengan beraninya ikut melihat.


Ceisya sedikit menjauh dari Ardi untuk mengangkat telfonnya.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Apakah sibuk?"


"Tidak juga. Ada apa?" tanya Ceisya.


"*Hai, Ceisya. Ini Daniel. Zafran lagi dirawat di rumah sakit karena semalam terkena senjata tajam di lengannya. Ya, bisa dibilang tidak parah karena lengannya mendapat lima jahitan."


"Bodoh! Apa yang kau bicarakan, Niel? Kau mau aku gorok, hah!"


"Hei, Hei. Tenanglah. Aku hanya bicara jujur. Tidak usah marah begitu."


"Aku bukan marah, Daniel! Cepat kemarikan ponselku!"


"Kalau aku tidak mau bagaimana?"


"Sialan kau, Daniel! Arghh..."


"Astaga! Sudah kubilang jangan banyak bergerak. Lukanya masih belum kering. Astagaa, astagaa, darahnya keluar*."


Tuttt


Wajah Ceisya langsung berubah memucat. Saat akan menelfon ulang, telfonnya malah tidak diangkat padahal tersambung. Ceisya khawatir kalau terjadi hal yang buruk kepada Zafran. Ingatannya berputar pada obrolannya kemarin. Bukankah Zafran mengatakan dirinya akan melakukan patroli malam bersama rekannya yang lain.

__ADS_1


Berulang kali Ceisya menelfon, tapi, belum juga ada balasan. Akhirnya ia memilih mendiamkan sejenak, barang kali nanti ia akan ditelfon balik. Dan benar saja, dua menit kemudian telfonnya berbunyi. Tidak ingin menunda waktu, Ceisya langsung mengangkatnya sembari memberikan banyak sekali pernyataan.


"Hei, tenanglah. Hanya luka kecil saja. Daniel saja yang terlalu berlebihan. Ceisya, apa kau masih ada di sana?"


Ceisya masih terdiam. Matanya sudah mengembun. Baru pertama kalinya ia sekhawatir ini. Sampai-sampai dadanya terasa sesak dengan bibir yang bergetar kecil.


"Bukankah aku sudah bilang harus hati-hati? Kau mengabaikan pesanku, Om!" lirih Ceisya akhirnya buka suara. Suaranya terdengar parau.


"*Kau menangis? Sungguh?"


"Dengarkan aku ya. Malam itu aku sudah berhati-hati. Tapi, mungkin belum beruntung saja. Pelakunya sudah ditangkap kok. Dan misinya juga berhasil. Hah! Akhirnya aku lega. Banyak sekali laporan dari masyarakat di sana, mereka mengatakan selalu tidak tenang kalau melewati jalan itu."


"Dan juga... aku minta maaf kalau tidak menepati janjiku untuk berhati-hati. Buktinya sekarang aku maisb terluka. Tapi, jangan khawatir. Aku masih hidup, belum mati. Kita masih bisa bertemu nanti*."


"Astaga." Ceisya berdecih kecil. Ingin menangis, tapi, saat mendengar perkataan Zafran barusan malah membuatnya ingin tertawa. Ingin sekali memukuli pria itu, namun jarak mereka terlalu jauh untuk digapai.


"Kau!" bibir Ceisya langsung melengkung ke atas saat pria itu mencerocos panjang lebar. Bahkan untuk pertama kalinya Zafran secerewet itu.


"Jangan menangis. Andai aku di sana, aku ingin menghapus air matamu yang jatuh melewati pipi chubby-mu. Dan aku akan memelukmu erat, seolah-olah hanya ada kita berdua di dunia ini. Bukankah sangat indah?"


"Jangan banyak berhalusinasi, Om. Cepatlah sembuh." ujar Ceisya dengan suara pelan diakhir kalimatnya.


"*Baik, Sayang."


"Ekhem. Sama satu lagi, jangan terlalu bucin, Zaf. Aku takut kau berubah menjadi zombie."


"Diam, kau!"


"Oke, baiklah, baiklah*."


"Itu kak Daniel?" tanya Ceisya.


"Iya. Jangan menyapanya, aku tidak suka."


"Hai, kak Daniel. Apa kabarmu. Semoga baik ya. Aku titip Om Zaf kepadamu ya, Kak. Jangan lupa antar dia kalau mau ke toilet."


"Sial! Aku masih normal, Ceisya. Kau malah memintaku yang tidak tidak."


Ceisya langsung tergelak mendengar perkataan Daniel. Lagi pula ia hanya bercanda, ya kalau serius sih...


"Sudah kubilang, jangan bicara dengannya. Aku tidak suka." titah Zafran.


"Kau dengar itu, Sya? Dia bahkan menjadi sangat bucin kepadamu."


"Sudah kubilang, kau juga diam, Daniel!"


"Hei, lihatlah dia. Sekarang menjadi pemarah. Eh, dari dulu memang pemarah ya, sekarang tambah pemarah."


"Sialan! Kalau lukaku sudah sembuh, kau pasti akan aku gorok, Daniel."


"Hahaha, coba saja kalau bisa. Sini, Zaf!"


"Kau!"


Ceisya yang mendengar perdebatan keduanya pun tersenyum. Dirinya enggan untuk memutuskan obrolan. Mungkin, hari ini sudah cukup rasa khawatir yang melanda hatinya.


Sesaat ia tersentak saat pria itu kembali berucap. Jantungnya berdebar kencang.


"Ceisya, aku mencintaimu." Ceisya terdiam karena hatinya masih ragu untuk membalas ungkapan pria itu. "Jangan katakan apapun itu. Karena... aku sangat mencintaimu."


.


.


.

__ADS_1


mungkin critanya udah tenggelam ya. tapi, aku masih pengen lanjutin sampai tamat walau update nya gak teratur, malahan banyak yg bolong😇😇


__ADS_2