
Ceisya merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Lalu mengusap layar kuncinya dan membukanya. Gadis itu kemudian membuka aplikasi berwarna hijau dan menekan room chatnya dengan Zafran.
"Om, jangan kangen ya!" ya, begitulah sekiranya Ceisya mengirim pesan.
Masih dengan tanda ceklis dua abu-abu, Ceisya pun memutuskan untuk menyimpan ponselnya. Gadis itu selonjoran di atas kasurnya yang tampak kosong tanpa kehadiran Reva. Karena sahabatnya itu kini berada di kampus sedangkan dirinya tidak.
Tring
Tak lama kemudian terdengar suara notifikasi dari ponsel Ceisya. Gadis itu hanya melirik sekilas, lalu pandangan langsung teralihkan pada sebuah koper berukuran sedang di sudut kamar.
Lagi-lagi suara notifnya berbunyi membuat rasa penasaran Ceisya langsung membuncah. Dengan lihai jarinya langsung memencet notif itu hingga otomatis masuk ke dalam room chat.
"Besok ketemu ya! Kebetulan besok aku ada jam kosong, pagi."
"*Sayang?"
"Maaf ya baru bales. Soalnya tadi masih nugas dan sekarang baru istirahat."
"Udah makan?"
"Nanti malam aku ke sana ya! Mau nitip apa*?"
"Eh, udah dulu ya. Aku lanjut lagi. Udah dipanggil soalnya. Bye, Sayang..."
Tanpa sadar bibir Ceisya langsung terangkat ke atas membentuk huruf U. Jarinya dengan lincah langsung membalas pesan pria itu.
"Bawa makanan yang banyak. Kebetulan besok kita bakalan gak bisa ketemu."
Ceisya langsung mematikan ponselnya. Gadis itu mengemasi buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas, hanya beberapa buku saja yang menurutnya penting.
Ceisya membaringkan tubuhnya di atas kasur dan memandangi lekat langit-langit kamarnya. Tanpa sadar matanya ikut terpejam.
Tidak terasa malam menyapa. Suara ketukan pintu membuat obrolan Ceisya dan Reva terhenti. Keduanya saling pandang dengan mata yang menyiratkan sebuah pertanyaan.
Bergegas Ceisya bangkit lalu membukakan pintu.
"Assalamu'alaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam." Ceisya bahkan sampai melongo saat melihat pria di depannya saat ini. Bukan karena penampilannya, tapi, karena barang-barang bawaannya. Pria itu benar-benar membawakan banyak sekali makanan untuknya.
"Aku bawa banyak makanan, abisin ya." tutur pria itu tanpa dosa.
"Banyak banget, mana abis olehku. Ntar gemuk gimana?"
"Gak pa-pa, tubuhmu bukan menjadi tolak ukurku dalam mencintaimu." ujar Zafran membuat pipi Ceisya bersemu merah.
"Ya udah, taruh di luar aja."
"Oke." Zafran langsung meletakkan makanan itu di atas meja yang hanya memiliki ukuran 50×50.
Ceisya keluar. Ikut duduk bersama Zafran di kursi.
"Reva mana?" tanya Zafran.
"Ada di kamar, kenapa?"
"Enggak pa-pa. Ini ada titipan dari Daniel buat Reva, katanya." Zafran menunjukkan satu kresek berukuran sedang.
"Oke, bentar." Ceisya langsung membawa kresek itu masuk ke dalam dan memberikannya kepada Reva.
"Kak Daniel." setelahnya Ceisya kembali lagi ke depan.
"Maksud dari pesan kamu itu apa?" ujar Zafran yang penasaran akan pesan Ceisya tadi siang.
Ceisya tidak menjawab, melainkan membuka makanan yang dibawa Zafran. Matanya berbinar saat melihat martabak dengan toping kacang. Gadis itu tanpa banyak kata langsung melahapnya di depan Zafran tanpa rasa sungkan. Zafran yang melihatnya pun hanya tersenyum lalu tangannya menyelipkan anak rambut Ceisya yang sedikit menutupi wajahnya.
Setelah martabak, rupanya tidak membuat Ceisya puas. Dirinya kembali membuka kotak yang satu lagi dan melihat ayam geprek lengkap dengan seporsi nasi.
"Om, mau gak?" tawar Ceisya.
Zafran hanya menggelengkan kepalanya menolak. Tiba-tiba matanya melebar saat gadis itu langsung memakan ayam geprek langsung dari tangannya.
"Kamu belum cuci tangan loh."
Yang dinasehati hanya tersenyum menyengir. "Nasi udah jadi bubur, Om. Lagian ini enak kok. Mau gak?" Ceisya menyodorkan satu suapan tepat di depan Zafran. Karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, Zafran langsung membuka mulutnya dan menerima suapan dari tangan Ceisya langsung.
__ADS_1
"Enak gak, Om?"
Pria itu menganguk-angguk sambil menikmati makanannya. "Lagi dong."
"Ck! Katanya belum cuci tangan, tapi, kenapa masih mau." cetus Ceisya jengah.
"Apa sih yang enggak aku terima kalau itu dari tangan kamu langsung." gombal pria itu.
"Termasuk taik ayam dong."
Zafran gelagapan. Maksud dirinya bukan begitu. "Y-ya, enggak gitu juga lah."
Bibir Ceisya melipat ke dalam. Rasanya sangat bahagia kalau melihat Zafran gelagapan sendiri.
Waktu berjalan cepat, makanan yang Zafran bawa pun mereka habiskan bersama. Keduanya sama-sama terdiam setelah menghabiskan makanan mereka.
"Om, besok mau kan anterin aku ke kampus?"
Zafran mendongak, menatap wajah Ceisya dengan tidak percaya. Biasanya gadis itu sangat anti kalau dirinya menawarkan untuk mengantarkannya ke kampus. Tapi, kali ini gadis itu sendiri yang meminta.
"Mau banget. Jam berapa?" Zafran menatap lekat wajah gadis itu.
"Hmmm jam setengah delapan."
"Oke. Besok aku antar."
"Besok bawa mobil kan?" ujar Ceisya.
"Iya, kenapa?"
"Enggak. Nanya aja. Yaudah, Om, pulang gih! Udah malam." usir gadis itu.
"Hmmm... kalau bukan karena malam, gak mau pulang aku."
"Dih! Pulang sana! Hati-hati di jalan."
"Siap, Sayang. Selamat istirahat ya?"
__ADS_1
Pria itu mengikis jarak dan tanpa aba-aba langsung mencuri satu ciuman di pipi Ceisya, membuat gadis itu melotot seketika.