Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi
Part 48


__ADS_3

Kedatangan Zafran membuat kedua orang tua Ceisya bingung, namun mereka tidak mempermasalahkan akan hal itu. Setidaknya banyak orang yang menjenguk berarti banyak juga yang mendo'akan kesehatan anak mereka.


Zafran melirik Azril yang berdiri di sampingnya.


"Itu orang tua Ceisya." beritahu Azril berbisik. Zafran mengangguk paham, pantas saja wajah perempuan yang duduk di kursi itu sangat mirip dengan Ceisya. Rupanya sang Bunda tercinta.


"Ekhem... Tante, Om. Kenalin saya Zafran." pria itu memperkenalkan diri, maju beberapa langkah untuk menyalami takzim.


Bunda Nai dan Ayah Faisal hanya diam mengangguk sambil tersenyum.


"Apa Ceisya-nya sudah sadar, Om, Tante?"


Kening Bunda Nai dan Ayah Faisal berkerut. Mereka sebenernya mempertanyakan... siapakah pria itu dan apa hubungannya dengan anaknya.


"Belum, Nak. Dari kemarin di kota S dan sampai sekarang belum juga sadar. Maaf, kamu siapa ya? Apakah kami boleh tau?"


"Saya hanya teman anak Om dan Tante."


Tiba-tiba lengannya disenggol oleh Azril. Pria itu mendelik ke arah pelaku.


"Ah ya... begitu." Bunda Nai dan Ayah Faisal hanya ber'oh iya.


"Pssttt... Bang, kenapa gak jujur aja sih?" tegur Azril berbisik tanpa sepengetahuan orang sekitar.


"Belum saatnya." jawab Zafran santai.


1 jam sudah pria itu bercengkrama akhirnya dia memilih pamit takut membuat sang Mama khawatir. Mungkin besok pria itu akan berkunjung lagi.


"Tante, Om, saya pamit ya? Takut dicari oleh Mama soalnya." ujar Zafran berpamitan, tidak lupa pria itu berpamitan kepada Umi Hanum, Abi Aryo beserta Azril.


"Iya, hati-hati." balas mereka serentak yang dibalas anggukan oleh Zafran.


Kembali pria itu menuju ruang persalinan di mana Kakaknya tengah menjalani proses lahiran anak pertamanya. Sesampainya di sana rupanya sang Kakak belum juga lahiran, pria itu terlihat suntuk hanya duduk di kursi sambil menopang dagunya.


.


.


.


Keesokan harinya Zafran pulang ke rumahnya karena hari ini juga sang Kakak sudah diperbolehkan pulang. Ngomong-ngomong keponakannya sudah lahir, berjenis kelamin laki-laki. Pria itu ikut membantu membereskan keperluannya meskipun Abang iparnya ada.


"Lucu, Ma." pria itu menoel-noel pipi bayi yang baru lahir kemarin menjelang malam hari itu. Mereka bersyukur Emi bisa melahirkan secara normal tanpa operasi.


"Zaf, jangan diganggu, dia baru aja merem itu." tegur Emi yang gemas karena sang adik terus merusuh.

__ADS_1


"Gak ganggu ini. Aku kan cuman pegang pipinya aja." kilah pria itu tanpa mengehentikan toelannya.


"Ih! Dibilangin juga." gerutu Emi. Benar saja, bayi yang baru saja lahir itu langsung menangis.


Emi menatap tajam ke arah sang adik. Pria itu tampak merasa tidak bersalah malah santai-santai saja bangkit lalu meninggalkan kamar itu.


"Daahhh, Kak. Aku mau keluar, jaga si ganteng ya." pria itu melenggang pergi begitu saja. Bersiap-siap untuk ke rumah sakit menjenguk bidadari hati yang sudah ia rindui.


"Mama, aku keluar dulu ya. Assalamu'alaikum, Ma." seru Zafran langsung berlalu tanpa mau mendengar balasan dari sang Mama.


Pria itu membawa mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia tidak mau kebut-kebutan di jalanan. Sebelumnya pria itu singgah di toko buah untuk membeli buah-buahan. Tidak butuh waktu yang lama akhirnya pria itu sampai juga.


Ia masuk dengan santai ke area rumah sakit sambil membawa parcel buah.


Sebelum memasuki ruang rawat Ceisya, pria menarik nafasnya dalam. Berdo'a dalam hati semoga ada keajaiban yang terjadi. Pria itu sepertinya sangat menanti di mana ia bisa melihat senyuman dari bidadari hati. Yang selalu membuatnya meleleh seperti coklat.


Pria itu memang rindu, tapi ia cukup tau. Tau bahwa keadaan sekarang tidaklah sama seperti waktu lalu.


Setelah dirasa sedikit tenang, pria itu mulai mengetuk pintu.


"Tok... tok... tok..."


Tangannya mendingin padahal keringat bercucuran di kening. Berkali-kali ia menyeka keringatnya menggunakan telapak tangannya.


Terbukalah pintu ruangan berwarna coklat itu menampakkan seorang perempuan yang terbalut dengan jilbab simpelnya.


"Silahkan masuk!"


Zafran menganggukkan kepalanya sopan, lalu masuk menyusul perempuan itu.


"Mohon diterima, Tante." pria itu menyerahkan parcel buah yang sempat ia beli tadi.


"Terima kasih, Nak. Seharusnya tidak repot begini." ujar Bunda Nai tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, Tante. Ini diterima." ucap pria itu lagi.


"Terima kasih sekali lagi, Nak."


Zafran hanya mengangguk. Netra matanya meneliti gadis yang sedang terbaring itu.


"Alhamdulillah, Ceisya sudah sadar tadi pagi. Keadaannya sudah lumayan membaik." jelas Bunda Nai.


Zafran cukup lega mendengarnya. Setidaknya gadis itu sudah membaik. Walau ia tidak tau ingatan gadis itu apakah masih tetap sama ataukah sudah pulih.


"Iya, Tante. Alhamdulillah kalau begitu. Oh ya... Om mana, Tante?" tanya pria itu.

__ADS_1


"Lagi keluar katanya ada urusan kantor. Sebentar lagi pasti sudah pulang kok."


Zafran hanya mengangguk merespon. Pria itu melirik lagi, seolah-olah meminta izin untuk mendekati ranjang.


"Silahkan!" Bunda Nai mempersilakan.


"Terima kasih, Tante."


"Iya." pria itu berjalan mendekati ranjang, berdiri di sampingnya lalu duduk di kursi.


Kalau saja tidak ada orang tua Ceisya, sudah dipastikan pria itu akan memegang tangannya erat.


"Nghhhh..."


"Tante."


"Iya, Biarkan..."


"Sungguh!"


"Iya, tidak apa-apa kok. Jangan khawatir."


"B-bunda... Ceisya, h-haus..."


Perempuan itu gesit menyambar gelas di atas nakas, membantu sang anak yang kehausan.


"Sudah, Sayang?"


"Iya, Bun." gadis itu tidak menyadari bahwa ada sepasang netra yang terus mengawasinya. Pria itu menatap tanpa ekspresi, takut-takut gadis itu tidak mengingatnya lagi untuk kedua kali.


Bunda Nai kembali meletakkan gelas ke tempat semula. Membelai lembut rambut yang tidak tertutupi penghalang. Mengkode dengan isyarat ke samping agar gadis itu melihat ada orang lain di sisinya.


"Hai..." sapa Zafran canggung.


"O-om... k-kamu???"


"Uhukkk...!!!"


.


.


.


hayo loh Om 🤣jantungan gak tuh hahahaa 🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2