Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi
Part 34


__ADS_3

Ceisya, Zafran, Mama Tina, dan Emi sedang berkumpul di ruang tengah sehabis makan malam. Mereka mengobrol dan bercanda dengan ditemani cemilan ringan.


Zafran berbaring di lantai beralas karpet itu dengan tangannya yang menyanggah kepalanya. Dia terus menatap gadis itu dengan wajah damai.


"Sya, nginap di sini saja ya barang semalam." ujar Mama Tina.


"Duh, maaf ya, Tante. Sepertinya tidak deh." tolak Ceisya yang kini merasa tidak nyaman.


"Kenapa? Lagian besok weekend lho."


"Iya tuh. Nginap di sini saja, Isy. Jarang-jarang lho, masa tidak mau sih."


"Aku tidak bawa baju ganti, Tante, Kak." balas Ceisya mencari alasan yang tepat.


"Jangan dipikirkan soal baju ganti. Pakai baju Kakak saja nanti." ucap Emi yang mulai memanggil dirinya Kakak. Biasa dia memanggil dengan sebutan aku.


"Nah iya. Benar apa yang dibilang Kakakmu."


"Baiklah, Tante, Kak Emi." Ceisya pasrah.


"Woah! Serius?"


"Iya, Kak."


"Yees! Nanti tidur dengan Kakak ya?" Emi begitu bersemangat. Sejak dia hamil dua bulan dan sampai kehamilannya 7 bulan, dia begitu antusias kalau sudah menyangkut perihal Ceisya.


"Suamimu mau tidur di mana, Kak?" tanya Zafran yang sedari tadi diam.


"Mas Panji? Nanti tidur bareng kamu saja."


"Lah... kok aku sih, Kak?" protes Zafran.


"Memangnya siapa lagi? Kamar tamu kotor belum dibersihkan sama sekali. Udah deh, jangan protes. Pokoknya Isy tidur denganku malam ini." ujar Emi titik no debat pokoknya.


"Dia tidur bareng Mama saja kalau kalian berdebat begitu. Iya kan, Sya?"


"Kok Mama?!" serentak Zafran dan Emi.


"Iya, Mama. Memangnya kenapa?"


"Dih! Mentang-mentang Papa lagi di luar kota."


"Biarkan saja." balas Mama Tina seraya mengejek keduanya. "Jadi, mau tidur bareng Mama atau Emi?"


"Aku aja, Ma." potong Emi dengan cepat.


"Yasudah. Ini sudah larut, sebaiknya kalian tidur. Mama duluan ya? Ingat! Jangan larut tidurnya." Mama Tina berpamitan ke kamarnya.


"Isy, ayok! Kita ke kamar sekarang." Emi berjalan di depan sedangkan Ceisya menyusul di belakang.


Tapi, baru dua langkah dia beranjak, tangannya sudah di cekal oleh Zafran yang saat itu sudah duduk tegap.


"Mau menolak lagi?" goda Zafran.


"Ish! Mana tau kalau ujungnya begini."


"Kan sudah ku bilang, kamu tuh tidak bisa menolak."


"Yayayaya." ujar Ceisya malas. "Lepasin, Om! Aku mau nyusul Kak Emi."


"Duduk di sini sebentar. Pasti Kak Emi lagi beresin kamarnya." tebak Zafran yang memang benar adanya. Saat ini Emi tengah membersihkan kamarnya.


"Harus ditolongin, Om. Perut Kak Emi sudah semakin membesar. Tidak baik untuknya bekerja yang berat-berat."


"Berat? Beratan aku lah!"


"Apanya yang berat? Badan Om? Ya, tentu saja berat lah."

__ADS_1


"Bukan!"


"Lalu?"


"Beratan aku. Berat menahan rasa ini. Berat menunggumu di sini. Berat menanggung rindu ini. Pokoknya berat. Termasuk cintaku padamu."


"Huekk...!!! Belajar dari mana bisa gombal gitu, Om?"


"Aku tidak belajar dari siapapun. Ini murni dari hatiku yang terdalam."


"Om, kamu lebay. Geli aku dengernya."


"Mana geli kalau diginiin?" Zafran langsung menarik tangan Ceisya yang membuatnya terduduk di atas karpet. Pria itu menggelitiki pinggang Ceisya hingga membuat tawanya memecah suasana sepi itu.


"Hahahahaa... aduhh! Geli, Om, lepas hahahahaaa...."


"Gimana? Geliin ini apa yang tadi?" tanya Zafran ikut tertawa.


"Ampunn, Om! Geli!"


Ceisya bergerak gelisah menghindari gelitikan Zafran. Dan happ...


Ceisya berhasil menangkap tangan pria itu. Otomatis gelitikan di pinggangnya berhenti.


"Rasain nih, Om." Ceisya membalas perbuatan Zafran. Zafran yang diperlakukan seperti itu tertawa kencang.


Kini, mereka sudah berlari-lari memutari sofa ruang tengah. Tawa menggelegar di ruang tengah itu membuat siapapun mendengarnya termasuk Mama Tina dan Emi.


Ceisya terus berlari mengejar Zafran sedangkan Zafran berlari menghindari amukan gadis itu.


Ceisya menghentikan langkahnya secara mendadak. Dia berdiam tepat di depan sofa. Zafran pria itu tidak sadar kalau Ceisya tidak lagi mengejarnya. Tanpa melihat ke arah depan, Zafran terus berlari hingga dia tidak bisa mengerem saat Ceisya yang berhenti mendadak di depannya. Alhasil tubrukan itu menghampiri mereka berdua.


Brukk


Ceisya memejamkan kedua matanya. Pikiran sudah melayang-layang, apakah dia akan terpelanting karena tubuh Zafran yang menabraknya. Tapi, gadis itu tidak merasakan sakit. Malahan terasa sangat empuk. Dia membuka matanya dan oh... mendarat sangat sempurna.


"Om."


Zafran membuka kedua matanya pelan. Meringis pelan saat punggungnya terasa ngilu, tapi tidak apa. Dia tidak merasakan sakit yang luar biasa karena hal itu sudah biasa dia dapatkan saat sedang bertugas.


"Tidak apa-apa. Ada yang sakit, hem?" tangan pria itu terulur ke dahi Ceisya, menyingkap rambut yang menutupi wajahnya dan sedikit mengelap keringatnya.


"Tidak. Harusnya aku yang bertanya, apakah sakit, Om? Punggungnya sakit ya?"


"Tidak apa-apa. Ini sudah biasa, lagi pula tidak sakit kok." tangannya masih betah di rambut Ceisya. Dia dapat melihat wajah Ceisya dari dekat, eh lebih dekat.


"Turun, Sayang!" pinta Zafran seraya memejamkan matanya.


Ceisya masih melamun dan sedikit terbengong.


"Oh sh*it. Sayang, turun dulu! Kamu boleh nyaman di atas aku. Tapi, akunya yang tidak nyaman, gerah, sesek."


"Haaa? Apa?" memang lemotnya itu tidak bisa dihilangkan. "Aku berat ya, Om?" ujar Ceisya malah bertanya tanpa beranjak sedikitpun.


"Kamu tidak berat sama sekali. Apa masih betah, hem? Ini di rumah loh, ada Mama dan Kak Emi. Aku takut nanti kebablasan." balas Zafran dengan nada bicaranya yang sudah berubah.


"Apanya yang kebablasan? Lagian apa hubungannya dengan Tante dan Kak Emi?"


"Jelas ada hubungannya, Sayang. Kamu tuh, arghhhh..." Zafran mengeratkan gigi-giginya seraya memejamkan matanya, berharap rasa itu hilang dari tubuhnya. Ayolah, Zafran itu pria normal.


"Om, kamu kenapa? Ada yang sakit badannya?"


"Sakit sekali. Astaga!"


"Beneran? Mana yang sakit?"


"Apa kalau aku kasih tau kamu bakalan ngerti?"

__ADS_1


"Mungkin begitu, Om."


"Di bawah, sakit."


"Haaa... bawah mana?"


"Astaga! Kamu turun dulu, Sayang. Makin sakit nih, aku perlu ke kamar mandi."


"Oh, kamu mau buang air besar ya, Om? Bilang dong dari tadi." dengan santai Ceisya bangkit dari atas tubuh pria itu.


Zafran, pria itu langsung berlari melesat menuju kamarnya. Dia sungguh tidak tahan. Oh God. Baru pertama kalinya dia mandi di malam-malam hari apalagi jam sudah menunjuk ke angka 9.


Tengah malam Ceisya terbangun dari tidurnya yang mengharuskannya pergi ke dapur karena tidak menemukan air di dalam kamar Emi, gadis itu juga lupa untuk mengambil air putih sebelum tidur dan membawanya ke kamar.


Dengan hati-hati Ceisya turun dari kasur takut membangunkan si bumil yang lagi bobok syantik.


Ceisya mengambil teko air yang terbuat dari kaca dan menuangkannya ke dalam gelas.


Saat sudah selesai, Ceisya berniat kembali ke kamar Emi lagi untuk melanjutkan tidurnya. Namun, samar-samar dia melihat cahaya yang berasal dari sebuah televisi yang menyala di ruang tengah. Karena letak kamar Emi itu berada di bawah tepatnya di dekat ruang tengah, jadi, sudah dipastikan segala aktivitas di ruang tengah nampak olehnya.


Karena penasaran, Ceisya mendekati ruang tengah dan dia melihat seorang pra yang sangat dikenalinya fokus menonton.


"Om."


Zafran menoleh. Dia melihat Ceisya dengan raut wajah lumayan terkejut.


"Kenapa ada di sini?" tanya Zafran tepat saat Ceisya mendudukkan bokongnya di atas sofa, berdampingan dengannya.


"Tadi ke dapur ambil minum."


Zafran hanya ber'oh iya saja. "Tidur lagi gih." ujar pria itu.


"Iya, nanti. Kenapa Om belum tidur?"


"Belum ngantuk." Zafran mengangkat kedua tangannya, meregangkan otot-ototnya.


"Katanya belum mengantuk, tapi, itu barusan menguap?" ledek Ceisya.


"Entahlah. Matanya tidak mau merem. Susah mau dipejamin."


"Kasih lakban saja, Om. Siapa tau nanti langsung nutup mata." ujar Ceisya asal.


"Mati saja sekalian. Tanggung kalau cuman menutup mata."


"Jangan mati lah."


"Kenapa?"


"Ya, tidak apa-apa."


Sekali lagi Zafran menguap. Entah kenapa berada di dekat Ceisya membuatnya langsung mengantuk. Dia merebahkan kepalanya di atas paha Ceisya sambil meminta gadis itu supaya mengelus kepalanya.


"Manja banget!"


"Biarin." jawab pria itu tanpa membuka matanya.


Perlahan mata pria itu terpejam, dia sudah masuk ke dunia alam bawah sadar bertepatan dengan elusan di kepalanya berhenti.


Gadis itu tengah mengamati garis-garis ketampanan pria itu yang berada di pangkuannya. Karena mengantuk, tanpa sadar gadis itu juga ikut tertidur. Dia menyandarkan punggungnya ke belakang, sandaran sofa.


Ceisya sedikit terusik saat badannya terasa diangkat. Gadis itu membenamkan wajahnya di dada bidang itu, lalu naik ke atas dan berhenti tepat di ceruk lehernya.


"Gadis imut. Sampai kapan kau terus menyiksaku begini, hem? Untung saja otak kewarasanku masih ada." lirih pria itu sembari menggendong Ceisya masuk ke dalam kamar Kakaknya.


Dia membaringkan pelan tubuh mungil itu ke atas kasur lalu memakaikannya selimut sampai sebatas dadanya.


__ADS_1


ramein dong ges... maaf yah kalau cerita membosankan 🤗


__ADS_2