Terjerat Hasrat Ceo Cantik

Terjerat Hasrat Ceo Cantik
27


__ADS_3

Malam ini Juan datang ke Rumah Makan RG milik Bu Darmi, Bu Darmi menyambut kedatangan Juan dengan senyumannya yang ramah.


Karena sudah malam dan sebentar lagi akan tutup jadi hanya ada Juan satu-satunya yang datang kesana, Bu Darmi memperlihatkan menu makanan pada Juan.


"Mau pesan makanan...." Bu Darmi tidak kuasa meneruskan perkataannya begitu melihat wajah Juan. Matanya berkaca-kaca, tangannya bergetar, tidak percaya bahwa anak yang dia rindukan kini berada di hadapannya.


Tapi Bu Darmi tidak ingin Juan mengetahui kebenarannya walaupun sebenarnya dia ingin bilang bahwa dia adalah ibu kandungnya, itu akan membahayakan Juan jika dia akhirnya membuat Mario kecewa atau marah besar pada Juan.


Bu Darmi pura-pura tidak mengenali Juan, "Mau pesan makanan apa Mas?" Dia mengulangi perkataannya. Dadanya tiba-tiba terasa begitu sesak.


Juan menatap Bu Darmi dengan mata berkaca-kaca, lalu dia memalingkan pandangannya ke arah lain, "Apa saja, yang paling enak disini." Dia mengatakannya dengan nada ketus.


"Ba-baik mas, ditunggu sebentar ya." Bu Darmi segera pergi ke belakang, air mata yang berusaha dia bendung akhirnya tumpah juga. Betapa terkejut dan bahagianya malam ini dia bisa berbicara secara langsung dengan anak kandungnya.


"Kamu kenapa bu?" tanya Ayah Redi.


Bu Darmi segera menghapus air matanya, "Oh tidak apa-apa, hanya kelilipan."


"Hmn... Ya sudah ayah bantu mempersiapkan pesan pengunjung disini."


Bu Darmi memang pernah bercerita pada ayah Redi bahwa dia dulu memiliki seorang anak laki-laki, tapi anaknya diadopsi oleh orang kaya. Bu Darmi tidak menyebutkan siapa orang yang mengadopsi Reganya karena dia tidak ingin keluarganya berurusan lagi dengan Tuan Mario walaupun Ayah Redi pernah menyuruhnya untuk mengambil anaknya kembali, tapi dia tau seperti apa Tuan Mario, dia tidak akan mengembalikan Juan dalam keadaan hidup jika sampai dia membongkar rahasia bahwa Juan adalah anak kandungnya.


Dari kejauhan Juan memperhatikan Bu Darmi yang sedang menyiapkan pesanan Juan di bantu oleh ayah Redi, mereka berdua nampak bahagia.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Bu Darmi membawa semua pesanan Juan di atas nampan, namun dia terkejut karena Juan tidak ada disana, rupanya dia telah pergi.


Bu Darmi tidak mengerti mengapa Juan tiba-tiba pergi begitu saja, apa dia kecewa karena harus menunggu lama.


Bu Darmi segera berlari ke luar siapa tau dia melihat Juan disana, sayangnya Juan telah pergi, Bu Darmi tak bisa membendung lagi air matanya yang tiba-tiba meledak, dia menutup mulutnya dengan tangan agar tangasinya tidak terdengar.


"Hhhhh.....hhhh....hhh..."


Sangat menyakitkan baginya karena tidak bisa memeluk anak kandungnya sendiri, bahkan dia harus berpura-pura menjadi orang asing di depan Juan.


Saat ini Juan sudah berada di dalam mobil, dia menyetir mobil dengan santai sambil terus mrnghembuskan nafas dengan berat. Dia memasukkan headset ke dalam telinganya dan menelpon Asisten Ken.


"Apa kamu sudah mengganti identitas pria itu tentang keluarganya?" tanya Juan kepada Asisten Ken.


"Sudah, dia hidup dengan baik,memiliki suami , bahkan mengadopsi anak. Mengapa dia tega menjualku? Tapi malah merawat anak orang lain?" Juan mengatakannya dengan emosi.


Asisten Ken tidak ingin Juan salah paham terhadap ibunya "Dia tidak menjualmu Tuan tapi..."


"Tetap saja dia menerima uang itu, artinya dia telah menjualku."


Asisten Ken terdiam, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Hmm... anggap saja aku tidak bertemu dengannya malam ini. Aku adalah Juan Wiliam, putra dari Mario Wiliam dan Nyonya Vera Aninditha."

__ADS_1


"Baik Tuan. Tolong tepat janji Tuan untuk tidak memberitahu Tuan Mario bahwa anda sudah mengetahui semuanya."


"Tentu saja. Aku bukan orang yang suka mengingkari janji."


"Terimakasih Tuan Juan."


Juan berpikir sejenak "Ada satu tugas lagi buat kamu, tolong cepat cari tau Erland Putra berasal dari keluarga mana. Mengapa dia dirawat oleh ibuku?"


"Baik, Tuan. Akan saya usahakan secepatnya."


Rupanya dugaan Juan salah, Bu Darmi sama sekali tidak mengambil uang satu lembar pun di dalam koper itu, dia masih menyimpan koper itu di lemari pribadinya.


"Rega...." lirih Bu Darmi sambil memandangi foto Juan yang masih kecil, dia diam-diam sering melihat Juan dari kejauhan bahkan memotret Juan makanya fotonya kelihatan tidak begitu jelas.


Air mata Bu Darmi terus saja mengalir, sangat menyakitkan baginya karena harus kehilangan Juan, bahkan dia tidak bisa menentang Tuan Mario karena takut Tuan Mario akan melukai anaknya.


Bu Darmi tidak ingin Juan berada dalam bahaya jika Juan tau yang sebenarnya bahwa dia adalah ibu kandungnya, karena itu dia harus menerima kenyataan ini bahwa Juan tidak bisa kembali padanya.


Begitu sangat menyakitkan.


Seorang ibu dan anak harus terpisah secara paksa oleh keserakahan seseorang.


Bu Darmi menghapus air matanya, dia segara menyimpan kembali foto Juan ke dalam koper yang berisiksn uang itu.

__ADS_1


__ADS_2