
"Bukankah aku sudah bilang jika anda menyakiti Eliana maka anda akan melihat anak anda mati dengan cara mengenaskan!" Erland mengatakan itu sambil mengarahkan pistol ke kepalanya sendiri.
Hati Tuan Mario bergetar hebat, dia tidak percaya dengan apa yang Erland katakan, Erland mengaku sendiri bahwa dia anaknya, seakan dunia sedang mengajaknya bercanda. Bahkan semua identitas tentang Erland mengarah dugaan yang kuat bahwa Erland memang putranya.
Mengapa harus Erland? Itu yang ada dibenak Tuan Mario, belum ada bukti kuat jadi hatinya masih bisa menyangkalnya. Dia tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya jika Erland benar darah dagingnya sendiri, hidupnya pasti akan sangat hancur karena dia sudah beberapa kali melukai Erland.
"Tidak mungkin, ini pasti ada yang salah." Tuan Mario belum bisa menerima kenyataan ini semua. "Apa kau sedang merencanakan sesuatu dengan berpura-pura mengaku menjadi putraku?"
Erland tak bergeming, dia masih mengarahkan pistol itu ke kepalanya sendiri, "Sejujurnya aku juga tidak mau menerima kenyataan ini. Bagiku...."
Erland mengatakannya dengan berat hati, "...menjadi anakmu adalah sebuah penderitaan."
Mata Tuan Mario berkaca-kaca mendengarnya, hatinya sangat sakit. Tapi dia tidak ingin terjebak dengan hal yang tidak pasti. Karena itu dia tidak boleh membiarkan Erland mati sebelum dia bisa memastikan bahwa Erland beneran putranya, dia terpaksa menyebutkan alamat dimana Eliana disekap oleh Riko, jangan sampai Erland bunuh diri. "Di gedung tua jalan dirgantara, tapi..."
Belum juga ucapan Tuan Mario selesai, Erland malah langsung menjatuhkan pistol milik Tuan Mario karena dia tidak ingin mendapat bantuan dari Tuan Mario termasuk senjatanya, dia berlari menuju mobilnya, tentu saja untuk menyelamatkan Eliana, Erland membawa kotak P3K di dalam dasbor, dia menutup luka di perutnya dengan perban agar tidak mengeluarkan banyak darah.
__ADS_1
"Shhh...arrrggghhh..." Erland meringis menahan rasa nyeri di perutnya. Nafasnya terengah-engah, bahkan tubuhnya mengeluarkan banyak keringat dingin dan wajahnya memucat.
Tentu saja tubuhnya sangat kesakitan dan terasa mulai melemah, tapi dia tidak boleh menyerah, dia harus menyelamatkan Eliana. Dia tidak bisa membayangkan betapa ketakutannya Eliana yang diculik kembali oleh Riko, seseorang yang telah membuat Eliana trauma dan membuatnya selalu bermimpi buruk sebelum menikah dengannya.
El, tunggu aku. Jangan takut, aku pasti akan menyelamatkan kamu.
Erland segera menjalankan mobilnya.
Sementara itu Tuan Mario sangat tidak mempercayai dengan kenyataan ini, dia tidak bisa menerimanya, apalagi saat ini Erland terluka karenanya. Dia benar-benar kebingungan tidak tau apa yang harus dia lakukan sekarang ini.
"Tuan, istri anda sedang di rawat di rumah sakit. Penyakit jantungnya kambuh lagi."
Tuan Mario bagaikan mendapatkan pukulan keras yang bertubi-tubi, belum juga masalah Erland, kini masalah muncul kembali, istri yang dia cintai kini terbaring di rumah sakit. "Aku harus pergi."
"Jangan biarkan Erland mati, aku harus mengetahui semua kebeneran ini." Rupanya Tuan Mario menyuruh Zerad untuk melindungi Erland, Tuan Mario berjalan ke depan mengambil pistol yang berdarah karena tangan Erland berlumuran darah saat menyumpal luka di perutnya. Dia ingin melakukan tes DNA untuk memastikannya.
__ADS_1
"Baik Tuan."
"Bunuh juga Black, berani sekali dia menipuku."
...****************...
Braakkk...
Erland menabrak pintu gudang dengan sangat keras sampai pintu itu rusak, dia membawa mobilnya masuk ke dalam.
Erland melihat Eliana yang sedang disekap oleh Riko dengan kaki dan tangannya terikat, hatinya sungguh tak kuasa melihatnya, dia mengutuk dirinya sendiri yang gagal melindungi Eliana.
"Sial!" Riko mengumpat, sungguh di luar dugaan, mengapa pertolongan itu datang, dia segera berlari ke arah mobil sambil memegang pisau tajam di tangannya, dia ingin menyerang Erland yang baru keluar dari mobilnya.
"Erland!" Eliana mengatakan dengan sedikit terisak, padahal dia sudah berusaha untuk tetap terlihat menjadi wanita kuat, entah mengapa hatinya tiba-tiba melemah begitu melihat Erland.
__ADS_1