
"Aku... aku rasa lebih baik kita akhiri pernikahan kontrak kita."
Eliana rasa itu adalah keputusan yang terbaik bagi dia dan Erland. Walaupun keputusan ini membuat hatinya sakit dan tersiksa, tapi dia tidak ingin Erland berada di posisi yang sangat sulit karenanya yang akan terus maju untuk melawan Tuan Mario.
Perkataan Eliana membuat hati Erland sangat terluka. Begitu perih. Sangat sangat menyakitkan.
"Mengapa tiba-tiba mengajak kita berpisah?"
"Bukannya pernikahan kita hanya kontrak, bahkan kita sudah menandatangani surat kontrak ini." Eliana memperlihatkan surat kontrak yang mereka tandatangani dulu.
Erland merebut surat kontrak itu, dia merobeknya menjadi beberapa bagian kecil.
Eliana terbelalak melihatnya, "Erland!"
"Bukannya kamu ingin mengakhiri pernikahan kontrak ini? Aku sudah mengabulkannya. Jadi mulai hari ini kita sepasang suami istri sesungguhnya tanpa terikat kontrak." Erland mengatakannya dengan tatapan serius.
Eliana terperangah mendengarnya, sungguh bukan itu yang dia maksud, tapi mau bagaimana lagi surat kontraknya sudah di robek oleh Erland. "Tapi ini tidak ada di dalam perjanjian kita."
"Pernikahan itu tidak ada kata perjanjian El. Kita saling mencintai, itu yang pasti."
__ADS_1
"Kapan aku mengatakannya? Aku tidak pernah bilang mencintaimu." Eliana tidak mau mengaku.
"Waktu kamu amnesia."
Eliana tertawa kecil, dia sama sekali belum ingat dengan apa yang terjadi saat dia amnesia, "Kamu tau kan orang amnesia itu lagi sakit, dan kamu menganggap itu semua?"
Erland mengerutkan keningnya, "Kamu gak ingat dengan apa yang kamu katakan? Kamu bilang ingatanmu memang lupa tapi hatimu tidak akan pernah melupakanmu aku."
Eliana hampir terbatuk mendengarnya, bagaimana mungkin dia bisa berkata semanis itu. Dia tertawa kecil, "Jangan ngarang, tidak mungkin aku berkata begitu."
"Dan kamu masak untukku El."
Erland jadi teringat dengan pertarungan panas yang dia lakukan dengan Eliana, apa mungkin sampai saat ini Eliana mengira dia masih perawan. " El, apa kamu ingat dengan pagi itu kita mandi bersama dan..."
Eliana tertawa lagi, "Kebohongan apa lagi ini? Kamu pikir aku akan mempercayainya!"
Erland rasa dia tidak boleh menjelaskan masalah itu, Eliana pasti akan marah padanya, mungkin Eliana akan menuduh dia telah melakukan kesempatan di dalam kesempitan padahal mereka melakukannya dengan penuh cinta.
"Berikan aku waktu satu bulan untuk membuat kamu jatuh cinta padaku, kalau selama itu kamu tidak bisa mencintai aku juga. Maka aku akan pergi jika memang kamu tidak mau hidup denganku."
__ADS_1
Erland memang tidak tau secara pasti Eliana mencintainya atau tidak apalagi Eliana mengatakannya saat dia sedang amnesia, dan saat Erland koma. Dia sama sekali tidak tau perasaan Eliana karena Eliana tidak pernah memperlihatkan rasa cintanya. Walaupun di hatinya yakin Eliana pasti mencintainya juga walaupun Eliana tidak mau mengakui perasaan itu.
"Aku gak bisa..."
"Baiklah kalau tidak bisa satu bulan, satu minggu El. Hanya satu minggu, aku ingin selalu ada didekat kamu."
"Tapi..."
Eliana tidak bisa melanjutkan perkataannya karena tiba-tiba Erland meraih tengkuknya, menyatukan kedua bibir mereka, dia tidak perduli dengan penolakan Eliana, yang pasti dia sangat merindukan wanitanya, selama dia di rumah sakit, dia sudah tidak tahan ingin segera pulang untuk melihat Eliananya.
Padahal Eliana baru saja pulang dari rumah sakit untuk melihat Erland dari kejauhan, dia buru-buru pulang begitu tau Erland ternyata akan pulang hari ini. Eliana hanya bisa melihat Erland dari kejauhan karena dia ingin bisa melupakan perasaannya pada anak Mario itu, namun ternyata sulit sekali untuk membuang perasaan ini.
Kebencian terhadap Tuan Mario dan rasa cintanya pada Erland terus saja berperang di dalam hatinya.
Setelah mencium Eliana, Erland memegang wajah Eliana, dia menatap istrinya dengan begitu lembut. "El, aku tau di darahku ini ada darah seorang Mario Wiliam, aku tau kamu membenci keadaan ini. Aku juga sama. Tapi kamu harus tau sampai kapanpun aku selalu ada dipihakmu, aku yang akan memenjarakannya, sebagai seorang suami yang ingin melindungi istrinya dan sebagai seorang anak yang ingin menghentikan kejahatan ayahnya."
Eliana hanya diam, padahal hatinya sangat tersentuh dengan perkataan Erland tapi sejujurnya dia masih belum bisa menerima kenyataan mengapa harus Erland yang menjadi anak Mario? Sangat berat sekali untuknya jika mengingat kematian papanya yang mati secara mengenaskan.
Namun entah mengapa tiba-tiba perutnya terasa mual, seakan ada yang mendesak ingin keluar dari perutnya. Eliana melepaskan tangan Erland, dia segera berlari ke wastafel.
__ADS_1