
Juan dan Erland mendapatkan pesan yang sama dari nyonya Vera, yaitu menyuruh mereka makan siang di mansion Wiliam.
Mereka menemui sang mama di mansion Wiliam, kebetulan nyonya Vera memasak yang banyak hari ini khusus Erland dan Juan.
"El tidak bisa ikut makan siang soalnya dia lagi kerja, Mah." ucap Erland sambil menikmati makan siangnya bersama nyonya Vera.
"Oh iya tidak apa-apa. Masih ada banyak waktu ini." Nyonya Vera begitu bahagia melihat kedua anaknya begitu lahap memakan masakannya.
"Masakan mama emang paling mantap." Juan mengacungkan jempolnya.
"Oh terimakasih Juan." Nyonya Vera merasa tersanjung. Akhirnya dia tidak merasa kesepian karena sudah lama dia tidak bertegur sapa dengan suaminya. Walaupun ada di mansion yang sama tapi mereka seperti orang asing.
Tuan Mario sudah beberapa kali membujuknya dan meminta maaf tapi bagi nyonya Vera, kesalahan Tuan Mario itu begitu fatal, tidak termaafkan.
Juan dan Erland tau alasan nyonya Vera menyuruhnya datang, selain ingin bertemu dengan mereka, sebenarnya hari ini hari kelahirannya, karena itu dia tidak ingin merasa kesepian di hari ulang tahunnya.
Juan dan Erland sama-sama meronggoh sesuatu di dalam saku celananya, dan memberikan itu pada nyonya Vera secara bersamaan.
"Selamat ulang tahun mama." ucap Juan dan Erland hampir bersamaan sambil memberikan sebuah kado pada nyonya Vera.
__ADS_1
Sampai nyonya Vera kebingungan mau ngambil kado yang mana dulu.
"Bawa yang Juan dulu, Ma." ucap Juan sambil mengedipkan mata.
Erland tak mau kalah, "Oh tidak bisa, yang Erland dulu Ma."
"Ini itu kado paling penting buat mama. " Juan juga tidak mau mengalah.
"Lah aku juga sama. Ini kado penting sekali untuk mama."
Juan menghela nafas, "Aku sudah mengalah untuk tidak mendekati El lagi."
"Mulai sekarang aku ini adik kamu, jadi kamu harus mengalah ok." Juan sudah tau tentang Erland yang lahirnya di waktu subuh, sementara Juan lahir di waktu Sore. Tentu saja dia tau itu dari Asisten Ken.
"Adik?" Erland menganga karena tiba-tiba dia memiliki seorang adik lagi selain Diana " Baiklah, seorang adik yang seharusnya mengalah sama kakaknya."
Nyonya Vera tertawa melihat kelakuan mereka berdua, "Ya udah kalian aja deh yang buka kadonya, dari pada ribut terus."
Mereka pun terpaksa membuka kadonya masing-masing. Rupanya mereka sama-sama memberikan sebuah kalung .
__ADS_1
"Ya ampun, astaga. Kalau itu benar-benar seperti saudara kembar ya. Bisa memiliki insting yang sama." Nyonya Vera akhirnya merasa bisa terhibur dengan kehadiran Juan dan Erland.
"Hm... ya sampai mencintai cewek yang sama." keluh Juan.
Erland hanya mengangkat kedua alisnya, karena dia adalah pemenangnya.
"Ya udah, gak apa-apa. Nanti juga kamu pasti mendapatkan jodoh kamu itu. Jodoh yang cantik dan baik pastinya." ucap nyonya Vera kepada Juan.
"Hmm... iya Mah. Jadi kalung siapa yang mau mama pakai?" Juan mendeliki Erland, mengapa isi kadonya bisa sama.
"Ya udah mama pakai dua-duanya." Nyonya Vera membawa kedua kalung itu, yang satu dia buat menjadi lebih pendek dari kalung yang satu lagi, sehing kedua kalung itu begitu terlihat cantik di leher bu Vera.
"Wah kelihatannya cocok sekali, Mah." Erland menatap takjub kedua kalung itu terlihat seolah menjadi bervariasi.
"Ide mama kita emang brilliant." Juan mengacungkan jempol.
Mata Erland beredar mencari keberadaan Tuan Mario, Nyonya Vera tau siapa yang sedang dicari oleh Erland. "Papamu sedang berada di paviliun. Kalau kamu ingin menemuinya, datang saja kesana."
Tuan Mario memang akhir-akhir ini lebih sering menyendiri di paviliun, sudah lama dia tidak masuk ke kantor utama Alaska, seakan sudah tidak tertarik lagi dengan perusahaan itu. Erland lah telah membuat dirinya lemah. Apalagi bayangan saat dia menembak Erland, selalu terlintas dipikiran Tuan Mario.
__ADS_1
Mengapa dia harus bertemu dengan anaknya dengan cara yang tragis seperti ini? Hampir saja dia membunuh anak kandungnya sendiri. Padahal manusia berhati iblis itu begitu sangat menyayangi keluarganya.