
"Kamu siapa?" tanya Erland dengan menyipitkan matanya. Rasanya dia mengenali tatapan pria itu.
Pria itu tidak menjawab, dia malah berlari menyerang Erland.
Erland terus melawan, walaupun dia agak kesulitan karena pria itu sangat kuat sekali. Tapi tetap saja, dia tidak akan pernah menyerah.
Bugh...
Bugh...
Mereka saling memukul, bahkan Erland berhasil menendang pisau yang akan Black tusukan ke arahnya sampai pisau itu terjatuh.
Bugh...
Black berhasil menendang perut Erland sampai Erland merasakan linu pada perutnya, lalu dia mengangkat tubuh Erland dan membanting tubuhnya ke aspal.
"Arrrggghhh...." Erland merintih kesakitan.
Rupanya lawannya kuat sekali.
__ADS_1
Erland segera bangkit untuk melawannya, namun ternyata Black bukanlah saingan yang mudah, dia sangat kuat sekali, sampai Erland mendapatkan beberapa pukulan darinya.
Erland tidak menyerah, dia berhasil melayangkan beberapa pukulan di wajah dan badan Black. Namun sikap Black begitu tenang, dia dengan kuat menahan bogeman yang sedang di layangkan oleh Erland. Lalu menendang tubuh Erland sampai Erland terjatuh ke aspal.
Black mengambil pisaunya yang tergeletak di lantai.
Erland terkejut karena melihat Black menyayat lengannya sendiri dengan pisau. Dia tidak mengerti mengapa Black melakukan hal itu pada dirinya sendiri. Lalu memukul wajahnya sendiri sebanyak tiga kali.
Black menatap pada Erland dengan tatapan mengejek. Setelah itu dia masuk ke dalam mobil, dia pergi meninggalkan Erland.
Erland segera bangkit, dia menatap mobil Black bagian belakang dengan tatapan penuh rasa heran "Dia kenapa? Apa dia gila? Untuk apa dia melukai dirinya sendiri?"
...****************...
"Makanya jangan berantem terus seperti ini." Bu Darmi malah mengomel.
"Hmm... namanya jagoan bu." Erland malah menjawabnya dengan candaan walaupun dia tidak mengerti mengapa tiba-tiba ada yang menyerangnya, mungkin kah itu adalah suruhan Tuan Mario? Karena dia melihat Tuan Mario menatapnya dengan penuh rasa kebencian saat tadi dia berkunjung ke mansionnya.
"Bukannya kak Erland besok akan menikah, aku kesana ya." pinta Diana.
__ADS_1
"Oh jangan, jangan!" Erland langsung melarangnya.
"Loh kenapa?"
"Pernikahan ini hanya sandiwara. Nanti saja kalian datang jika kakak nikah benaran, ini bukan pernikahan nyata, hanya sebuah pekerjaan." Erland tidak ingin Tuan Mario mengetahui soal keluarganya, walaupun dia tidak bisa memastikan orang yang tadi menyerangnya suruhan dia atau bukan, tapi dia dengar sendiri dari Eliana tentang betapa jahatnya seorang Mario.
Erland masuk ke dalam kamar, dia merebahkan badannya di atas ranjang, hatinya masih bertanda tanya mengapa pria yang menyerangnya tadi melukai dan menukul dirinya sendiri, seakan dia ingin memperlihatkan pada seseorang bahwa dia terluka, bahkan dia menatap Erland dengan tatapan meledek.
"Mata itu tidak asing bagiku, tapi siapa dia?" Erland memijat-mijat kepalanya untuk mengingat sesuatu, namun sayangnya dia tidak bisa mengingatnya.
Dia jadi teringat dengan nyonya Vera, dia tidak mengerti mengapa nyonya Vera terus memperhatikan wajahnya saat dia sedang berbicara dengan Tuan Mario, membuatnya sangat tidak nyaman.
Erland segera mencharger ponselnya yang lowbet, dia menjadi teringat dengan Chelsea yang tadi menelponnya.
"Untuk apa dia menelponku?"
Sebenarnya dia sangat penasaran tapi dia menahan dirinya untuk tidak berbicara dengan Chelsea malam ini, dia takut dia akan goyah karena besok adalah hari pernikahan dia dan Eliana. Karena itu Erland sengaja tidak menghidupkan ponselnya.
Erland kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang, dia memejamkan matanya, dia malah dibayangi dengan bayangan 13 tahun yang lalu saat dia menyelamatkan seorang anak gadis.
__ADS_1
Erland membuka matanya kembali dan menghela nafas, "Terkadang aku penasaran, bagaimana kehidupan dia saat ini, pasti dia tumbuh dewasa menjadi seorang gadis yang cantik dan manis, tidak seperti.... " Erland merinding membayangkan Eliana yang pemarah apalagi saat pertama kali mereka bertemu, lebih merinding lagi melihat Eliana menghajar tante genit yang mau melecehkannya.
"Oh astaga. Mengapa aku harus mendapatkan cobaan seperti ini, mulai besok aku akan tinggal bersama macan betina." gumam Erland.