
Sementara itu diwaktu yang sama...
Malam ini Diana entah mengapa dia tidak bisa tidur saat melihat Juan yang diam-diam menangis di bioskop, dia jadi teringat saat dia menangis kehilangan ayahnya yang mati karena kecelakaan, beruntung teman ayahnya membawa Diana untuk tinggal bersama istrinya dan Erland. Karena di pernikahan Bu Darmi dan ayah Redi tidak menghasilkan seorang anak, mereka dengan sepenuh hati mengurus Erland dan Diana yang sama sekali tidak ada ikatan darah dengan mereka.
Sementara ibu kandungnya Diana, belum diketahui keberadaannya karena dari kecil Diana tinggal bersama ayahnya. Bahkan dia belum pernah melihat wajah sang mama. Dari Bu Darmi lah yang membuat Diana tidak membenci ibu kandungnya, dia yakin ibunya pasti tidak membuangnya. Mungkin ada suatu alasan membuat dia pergi meninggalkan dia dan ayahnya.
Diana memandangi sebuah kontak nomor yang dia namai OM JUTEK, dengan hati yang berdebar-debar dia ingin mengirim pesan kepada Juan.
Kirim pesan atau tidak?
Kirim pesan atau tidak?
Hatinya terus bertanya-tanya.
Diana memutuskan untuk mengirim pesan pada Juan. Pesan yang dia kirim lumayan panjang sekali, walaupun harus beberapa kali di edit, sampai akhirnya terkirim juga.
[Aku masih kepikiran tentang film yang tadi kita tonton. Tapi om, percayalah seorang ibu tidak akan mungkin mau menempatkan posisi anaknya dalam posisi kesulitan. Tidak akan ada seorang ibu yang tega menjual anaknya demi kebahagiaannya. Saat seorang ibu harus berpisah dengan anaknya pun bukan karena keiinganannya tapi karena keadaan yang memaksa, mungkin saja dia selalu menangis mengingat anaknya yang terpaksa harus berpisah. Aku yakin sampai kapanpun nama anaknya akan selalu dihatinya]
Ya nama Juan selalu ada di hati Bu Darmi, makanya Bu Darmi memberi nama restorannya dengan nama RG, yaitu singkatan dari nama asli Juan, Rega.
Juan yang sedang duduk sendirian di apartemen, matanya berkaca-kaca ketika membaca pesan dari Diana, kata-kata Diana sungguh sangat menyentuh hatinya, apalagi setelah dia tau alasan sebenarnya mengapa dia bisa tinggal bersama orang tua Erland, rupanya Tuan Mario yang merebutnya secara paksa dari pangkuan Bu Darmi.
__ADS_1
Saat Tuan masih remaja, Ibu Tuan pernah datang menemuiku untuk mengembalikan uang pemberian dari Tuan Mario, Ibu Tuan bilang dia tidak akan pernah memakai uang itu. Karena dia sangat berharap Tuan bisa kembali padanya.
Ucapan Asisten Ken masih terngiang-ngiang di telinga Juan, dia pikir Bu Darmi telah menerima uang itu sehingga dia mampu membangun restoran RG, rupanya dia salah paham, betapa sesak hatinya memikirkan bagaimana perasaan ibunya saat mendengar ucapannya waktu di kantor utama Alaska, pasti dia telah melukai hati Bu Darmi.
Juan menghapus air matanya yang tiba-tiba mengalir ketika mendengar suara seseorang menekan bell apartemennya.
Juan berusaha menyembunyikan kesedihannya begitu mengetahui siapa yang datang kesana, seorang wanita paruh baya yang begitu sangat menyayangi dirinya, kasih sayang yang seharusnya diberikan pada Juan asli.
"Mama." Juan nampak sumringah menyambut kedatangan Nyonya Vera.
Nyonya Vera begitu bahagia karena bisa melihat Juan lagi, padahal dia sangat kecewa mengapa Juan tiba-tiba memutuskan untuk pindah ke apartemen, tapi dia mencoba untuk memahami keinginan Juan. "Mama bawa makanan kesukaan kamu, tongseng ayam."
"Padahal ini sudah malam, harusnya gak usah repot-repot mah." Juan merasa tersentuh dengan perlakuan nyonya Vera padanya, namun dia merasa bersalah karena nyonya Vera mengira Juan adalah anak kandungnya.
Setelah selesai makan, Juan mendengarkan cerita Bu Vera mengenai pertumbuhan Juan masih kecil.
"Mama masih ingat lho waktu kamu masih berusia 5 tahun, dulu kamu sangat menyukai batman, makanya saat ulang tahun kamu ingin konsepnya semuanya serba batman." Nyonya Vera terkekeh mengingat kenangan itu, dia memang selalu memanjakan Juan.
"Ma..." Juan mengatakannya dengan nafas yang berat, dia memandangi nyonya Vera dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa Juan?" Nyonya Vera memandangi Juan dengan tatapan penuh rasa heran karena Juan terlihat sangat sedih sekali.
__ADS_1
"Seandainya aku bukan anak mama, apa mama akan tetap menyayangiku?"
Pertanyaan itu membuat nyonya Vera sedikit menganga, lalu dia terkekeh geli, "Ya ampun pertanyaan macam apa ini, sudah jelas kamu anakku, Juanku."
Juan menghirup oksigen lebih banyak agar dia tidak kehilangan nafas saat akan mengatakan kenyataan yang sebenarnya, "Tapi sayangnya aku bukan Juan anak kandung mama, aku ini palsu."
Nyonya Vera tercekat mendengarnya, dia tidak mengerti mengapa Juan mengatakan itu padanya. Dia memandangi wajah Juan, dari raut wajahnya sangat jelas sekali Juan mengatakannya dengan sungguh-sungguh.
"Aku bukan anak kandung mama."
Nyonya Vera menggelengkan kepalanya, "Nggak, nggak mungkin. Jangan bercanda sama mama, Juan."
"Tapi memang seperti itu kenyataannya, Ma. Maafkan aku, aku rasa mama harus tau kebenaran ini, aku tidak mau merasakan bersalah setiap kali mama memperhatikan aku, aku terlalu lelah dengan semua ini."
Perkataan Juan bagaikan sebuah benda keras menghantam jantungnya, seakan jantungnya akan segera meledak. Nyonya Vera seperti kesulitan mengambil nafas, terasa begitu sesak dan dadanya terasa ngilu. Dia terus memukul-mukul dadanya. Tubuhnya terasa semakin lemah sampai dia ambruk.
"Mama!" Juan terkejut melihatnya, dia menahan tubuh nonya Vera yang terjatuh pingsan.
"Ma, bangun Ma."
Juan fikir penyakit jantung nyonya Vera sudah membaik karena selama ini nyonya Vera terlihat baik-baik saja, rupanya nyonya Vera tidak ingin melihat Juan dan Tuan Mario mencemaskan dirinya karena itu dia selalu terlihat baik-baik saja di depan mereka.
__ADS_1
Juan sangat kalap, melihat keadaan nyonya Vera. Bagaimanapun dia sudah mengganggap nyonya Vera sebagai ibunya sendiri. Dia tidak mungkin mau terjadi hal yang tak diinginkan padanya.
Juan segera membawa nyonya Vera ke rumah sakit.