Terjerat Hasrat Ceo Cantik

Terjerat Hasrat Ceo Cantik
50


__ADS_3

"Dia istri aku, jadi wajar saja jika aku menyentuhnya."


Chelsea sedikit menganga, dia tidak percaya bagaimana bisa seorang Erland yang begitu sangat mencintainya bisa mengatakan hal itu padanya.


Hati Chelsea begitu teriris mendengarnya.


"Kak..."


Erland menghela nafas, di saat dia mencoba untuk move on dari Chelsea, mengapa wanita itu malah mendekatinya, malah dia menawarkan tubuh indahnya. "Aku rasa lebih baik kamu jangan hubungi aku lagi."


"Kenapa? Bukannya kita saling mencintai?"


Erland hanya diam, dia juga tidak mengerti dengan perasaannya, dia merasa masih mencintai Chelsea, tapi entah mengapa jantungnya berdetak begitu bersama Eliana, apalagi saat dia mengetahui Eliana adalah anak yang dia tolong 13 tahun yang lalu.


"Aku tidak tau, yang pasti saat ini aku adalah suami dari seorang wanita. Aku tidak ingin mengkhianati pernikahan kami, karena itu lebih baik kita tidak perlu komunikasi lagi. Jangan menghubungi aku lagi."


Erland mematikan panggilan teleponnya. Chelsea tidak menerima hal itu.


"Hallo, kak. Kak Erland!"


Chelsea sangat kesal, biasanya Erland tidak pernah menolak apapun yang dia pinta, dia pikir Erland akan dengan senang hati datang ke hotel, menghabiskan malam yang indah bersamanya, agar mereka merasa saling memiliki dan Erland tidak akan tergoda untuk menyentuh istrinya.

__ADS_1


Membayangkan Erland yang hampir benciuman di kantor membuat dada Chelsea begitu sakit.


Erland kembali masuk ke dalam kamar, dia teringat Eliana, masih ada pekerjaan yang harus dia tuntaskan dengan Eliana.


Erland menghela nafas berat melihat Eliana yang sudah tertidur begitu pulas, dengan tubuhnya yang ditutupi selimut karena Eliana belum sempat memakai pakaian.


Erland duduk di tepi ranjang, dia ingin mencoba membangunkan Eliana, "El..."


Tapi niatnya terhenti, dia menjadi tidak tega untuk membangunkannya, Eliana pasti sangat kelelahan sekali.


Erland membereskan anak rambut yang sedikit menutupi wajah Eliana, sekarang begitu terlihat dengan jelas betapa cantiknya paras wajah Eliana.


Jadi anak itu kamu. Aku bersyukur karena kamu bisa tumbuh menjadi wanita yang tangguh dan cantik.


Erland mengusap wajah Eliana, menatapnya dengan lembut, dia tersenyum tipis dengan pandangannya tak bisa lepas dari wajah cantiknya.


...****************...


Besoknya...


Sebelum berangkat ke kota D, Eliana mengadakan meeting lebih dulu, membagi tugas tiga regu, dengan tugasnya masing-masing. Regu satu Eliana sendiri yang memimpin, Regu dua dipimpin oleh Erland, dan regu tiga dipimpin oleh Juan.

__ADS_1


Setelah meeting selesai, Eliana mencoba menjelaskan secara pribadi tugasnya pada Erland, karena dia tau Erland masih baru bekerja disini.


Namun bukannya fokus dengan apa yang Eliana jelaskan, Erland malah fokus memandangi wajah Eliana, Eliana nampak grogi karena Erland terus memperhatikan wajahnya.


Eliana mengehela nafas padahal dia sudah capek-capek menjelaskan semuanya tapi Erland malah lebih fokus ke wajahnya dibandingkan mendengarkan apa yang dia ucapkan dari tadi.


"Hmm... aku paham dengan pesonaku ini, tapi ada yang lebih penting dari pesonaku." Eliana mengatakannya dengan rasa percaya diri.


Erland mengelak, "Jangan geer, memangnya aku kenapa? Aku mendengar semua yang kamu ucapkan." Erland pura-pura sibuk membaca berkas-berkas disana.


Eliana tersenyum manis, dia mendekatkan jaraknya pada Erland, "Benar kah? Kamu sama sekali tidak terpesona olehku hm?" Eliana mengatakan dengan nada manja.


Erland hanya mematung, dia menelan saliva melihatnya. Ingin sekali dia mengunci pintu dan melampiaskan hasrat semalam yang membuat dia terpaksa harus bersolo karir di kamar mandi. Membuang benih cintanya secara cuma-cuma.


Eliana menahan tawa melihat reaksi Erland seperti itu, dia memang terbiasa membuat banyak pria terpesona jadi tidak heran jika Erland terpesona padanya. "Hmm... ya sudah kalau begitu aku pergi dulu. Kita berangkat ke kota D satu jam lagi."


Eliana beranjak dari duduknya namun tiba-tiba Erland menahannya dan menarik tangan Eliana, membuat Eliana jatuh ke pangkuannya.


"Er..." Eliana terkejut dibuatnya.


"Gadis licik, setelah menggodaku kamu malah main pergi begitu saja. Apa kamu tau semalam aku tidak bisa tidur gara-gara kamu?"

__ADS_1


"Memangnya kenapa?" Eliana sama sekali tidak peka dengan apa yang dirasakan Erland.


"Ada yang harus kamu pertanggungjawaban kan!"


__ADS_2