
"Mengapa membawaku bersembunyi? Apa kamu tau sudah mengetahui semuanya?" tanya Bu Darmi pada Juan dengan tatapan penuh kebingungan.
Juan hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Bu Darmi.
Bu Darmi membuka lebar matanya saat melihat ekspresi Juan yang memilih diam, diam artinya iya, Juan mengetahui bahwa Bu Darmi adalah ibu kandungnya.
"Re-Rega, darimana kamu tau semua ini?" Bu Darmi mengatakannya dengan mata berkaca-kaca.
"Namaku Juan Wiliam." Juan mempertegas tentang namanya.
"Ta-tapi..." Bu Darmi tidak meneruskan perkataannya, karena air matanya terus mengalir begitu saja.
"Seseorang yang telah menjual anaknya pada orang lain tidak pantas dipanggil ibu." Juan menatap Bu Darmi dengan tatapan dingin.
Bu Darmi sangat terluka mendengarnya.
"Ibu macam apa yang memilih menjual anak kandungnya sendiri tapi merawat anak-anak angkatnya?"
Bu Darmi ingin menjelaskan semuanya. "Rega, ini tidak seperti saya kamu pikirkan, ibu tidak..."
Juan memotong pembicaraan Bu Darmi, "Anggap saja hari ini tidak bertemu denganku dan tidak ada pembicaraan apapun di antar kita. Sudah aku pertegaskan aku bukan Rega, aku Juan Wiliam anak dari Mario Wiliam ."
Setelah mengatakan itu, Juan segera pergi dari ruangan yang masih kosong itu, meninggalkan Bu Darmi.
Bu Darmi tidak bisa mencegahnya untuk pergi, dia hanya bisa menangis, menutup mulutnya dengan tangan berusaha agar tangisannya tidak bersuara, ternyata Juan sudah mengetahui semuanya.
Ya dia rasa Juan pantas membencinya. Jika waktu bisa di ulang lagi dia lebih baik memilih melawan tak peduli jika dia mati di tangan Tuan Mario pada akhirnya.
Perkataan Juan memang benar anggap hari ini dia tidak bertemu dan berbicara apapun dengan Juan, dengan begitu Bu Darmi harus pura-pura tidak tau apapun tentang Juan. Demi Juan, Juan akan berada dalam bahaya jika Tuan Mario tau bahwa Juan mengetahui ternyata dia bukanlah anaknya.
...****************...
"Mengapa nona harus ikut menyurvei?" Miss Bona tidak menyetujui Eliana ikut menyurvei kesana.
__ADS_1
"Tentu saja harus, aku ingin melihat langsung hutan disana." jawab Eliana dengan tenang sambil membaca beberapa berkas.
"Ya sudah saya suruh bodyguard untuk menjaga nona."
"Tidak perlu, saya dengar hutan disana aman ko."
"Tapi nona..." Miss Bona tidak bisa memaksa Eliana, sekali bilang tidak ya tidak. Dia tidak melanjutkan perkataannya. "Lebih baik aku ikut bersama nona."
"Tidak perlu, bukannya Miss Bona akan bertemu dengan detektif Lim hari ini?".
" Ya nona. Detektif Lim bilang dia sudah dapat informasi mengenai saksi mata atas kecelakaan Tuan Adnan."
"Ya sudah temui saja dia, beritahu saya nanti jika detektif Lim sudah menemukan siapa saksi mata itu."
"Baik nona."
...****************...
Butuh waktu 3 jam untuk sampai di kota D, sebuah kota yang indah, terdapat hutan yang begitu luas disana, milik Alaska Corp.
Setelah tiba disana, mereka makan bersama dulu, kebetulan Erland membawa nasi dus yang banyak, dengan bangganya dia menyebutkan bahwa nasi dus itu buatan ibunya dan mempromosikan restoran ibunya juga.
"Ini nasi dus buatan ibu saya, rasanya sangat enak sekali. Lain kali coba pergi kesana. Walaupun restorannya sederhana tapi rasanya sangat mewah."
Juan yang terlanjur memakan nasi dus itu tidak bisa memuntahkan makannya padahal dia sangat tidak ingin memakan masakan ibunya.
"Tentu saja kami akan mengunjungi restoran Ibu Pak Erland. Masakannya sangat enak sekali." ucap beberapa karyawan disana.
Ada satu karyawan bernama Ryan, dia terus saja menatap Eliana yang sedang makan di samping Erland.
Eliana memang begitu menyukai masakan ibu Darmi, padahal ini pertama kalinya dia memakan nasi dus, dia biasanya sangat pemilih dalam hal makanan.
Erland memandangi Eliana yang sedang sibuk menikmati makanannya, dia jadi kepikiran dengan apa yang Juan ucapkan padanya.
__ADS_1
Aku tidak tau kesalahan apa yang dimaksud Juan, tapi aku harap kamu tidak akan pernah membenciku El.
Entah mengapa rasanya sangat menyakitkan jika suatu saat Eliana membenci dirinya. Dia jadi merasa takut kehilangan Eliana, apa mungkin dia telah jatuh cinta pada gadis itu? Erland tidak bisa menafsirkan perasannya sendiri , yang pasti dia tidak ingin kehilangan Eliana.
"Baiklah saatnya kita berpencar. Kita memang harus mengetahui keadaan hutan ini lebih dalam." sebagai seorang CEO, tentu saja Eliana yang jadi pemimpin disana.
"Baik, Nona Direktur." Jawab mereka yang ada disana, kompak.
Setelah itu ketiga regu memutuskan untuk berpencar, regu satu di pimpin oleh Eliana sendiri, Regu kedua oleh Erland, dan regu ketiga oleh Juan. Mereka harus menyusuri ke arah yang berbeda. Masing-masing regu beranggotakan 4 orang.
Perjalanan pun dimulai.
Seorang karyawan yang bernama Ryan membaca sebuah pesan yang belum sempat ia baca, karena kebetulan disana tidak ada sinyal, dia mendapatkan pesan itupun saat berada diperjalanan satu jam yang lalu.
[Lakukan perintahku, jika kamu ingin kami membiayai operasi istrimu.]
Ryan menghela nafas berat membaca pesan itu.
Sementara Erland, entah menang dia merasa tidak tenang, dia sudah meminta Eliana untuk tidak perlu ikut saja, tapi ya begitu lah Eliana, dia tidak ingin dikhawatirkan oleh siapapun.
"Sepertinya ada yang membakar hutan ini." Seru salah satu karyawan yang ikut bersama Erland. Dia menujuk sisa-sisa pembakaran hutan disana, yang lumayan luas sekali.
Erland segera berjalan dengan sedikit berlari melihat bekas pembakaran hutan itu, tapi tak ada satu pohon pun yang terlihat di area itu, hanya hamparan tanah Luas yang menghitam.
Salah satu karyawan disana melihat ada sehelai daun ganj@ yang masih utuh. "Bukan kah ini daun ganj@?" dia memperlihatkannya pada Erland.
Erland langsung merebut daun ganj@ itu, rupanya area hutan ini sengaja di bakar untuk menghilangkan jejak tanaman ganj@. Itu artinya ada mafia yang terlibat disini. Dia jadi memikirkan Eliana, bagaimana kalau Eliana berada dalam bahaya, apalagi Erland tadi tidak sengaja melihat seorang karyawan bernama Ryan terus memperhatikan Eliana.
"Aku harus pergi dulu." Erland meminta izin kepada tiga karyawan disana, dia bergegas berlari untuk mencari ke arah mana Eliana pergi.
Namun sayangnya dia hanya bertemu tiga karyawan yang pergi bersama Eliana disana, sepertinya mereka sedang kebingungan mencari keberadaan seseorang.
"Eliana dimana?" tanya Erland pada mereka. Dari tatapan mereka, Erland sangat tahu pasti terjadi sesuatu pada Eliana.
__ADS_1
...****************...
...Mungkin karena pekerjaan banyak jadi pikiran agak ruwet, othor butuh segelas susu nih, kalau gak ada secangkir kopi juga tidak apa hehe...