
Erland mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia ingin secepatnya sampai di rumah Ryan, dia ingin segera menjebloskan ke penjara orang yang menjadi dalang atas kecelakaan Eliana.
Erland menghentikan mobilnya begitu sampai di depan rumah Ryan, lalu bergegas keluar dari mobil.
Tok...Tok...Tok
Erland mengetuk pintu.
"Permisi!"
Namun tidak ada jawaban.
Erland mengetuk pintu lagi. Tapi sama sekali ada jawaban juga.
Erland memiliki firasat yang tidak enak, dia segera mendobrak pintu dengan sekuat tenaga.
Brakkk...
Sampai pintu itu rusak.
Erland segera masuk ke dalam rumah, dia terkejut begitu melihat Ryan yang bergelantungan di atas dengan tali yang mengikat lehernya, Erland berusaha untuk menurunkan badan Ryan, membiarkan badannya tergeletak di lantai.
Ryan masih bisa membuka matanya namun nafasnya sudah tidak beraturan karena lehernya tercekik dengan tali.
"Bertahan lah!" kata Erland sambil membuka ikatan tali di leher Ryan. Setelah mengatakan itu dia segera menelpon 112. Namun Ryan menahan tangannya.
"Ma-ma-mario..." Ryan mengatakannya dengan nafas yang tersengal-sengal, dia kesulitan untuk bernafas tapi berusaha keras ingin mengungkapkan siapa yang menyuruhnya untuk menebus kesalahannya pada Eliana.
Setelah mengatakan itu Ryan menutupkan mata dan tangannya terjatuh ke lantai.
"Ryan, cepat bangun!"
"Ryan!"
Erland mencoba membangunkan Ryan, mengguncang tubuhnya, namun sayangnya Ryan sudah tidak bernafas lagi. Erland segera menelpon polisi, dia yakin Ryan tidak bunuh diri tapi dibunuh.
Praang...
__ADS_1
Erland mendengar suara sebuah benda kaca terjatuh di bagian belakang rumah Ryan, rupanya ada orang disana. Dia segera berlari menuju dapur, dia melihat ada orang yang berlari melewati jendela dapur. Orang itu menggunakan masker dan topi berwarna hitam.
Erland meloncati jendela itu, dia terus mengejarnya, rupanya dia Black, pembunuh bayaran Tuan Mario, orang yang telah mencelakainya juga di malam hari sebelum pernikahan dia dan Eliana.
Black malah terjebak di jalan yang buntu, "Sial!" dia mengumpat.
Black terpaksa berbalik arah, dia melihat ada Erland di depannya.
"Mau kemana kamu bedebah?" Erland langsung menyerangnya.
Terjadi lah perkelahian diantara mereka.
Bugh...
Bugh...
Bugh...
Mereka saling melayangkan pukulan. Bukan hanya pukulan sekali-kali mereka menggunakan kaki untuk menendang.
Hingga disatu detik itu Erland berhasil melayangkan pukulan keras di wajah Black, lalu menendang badannya hingga terjungkal ke aspal.
Erland segera menghindarinya, dia menendang tangan Black dengan keras sampai pisau itu terjatuh dari gengamannya. "Arrrggghhh...." Black meringis kesakitan.
Erland mencengkram kerah baju Black dan memukul wajahnya beberapa kali sampai topinya terjatuh, "Siapa kamu? Kamu pasti suruhan Mario kan?"
Black tidak menjawab.
Erland memukul perut Black dengan penuh emosi dan membanting tubuhnya ke aspal.
"Arrghh..." Black tidak bisa mengimbangi kekuatan Erland. Namun dia berusaha untuk bangkit lagi untuk melawan.
Black berlari melayangkan tinjunya ke wajah Erland, sementara Erland berhasil menarik masker yang menutupi wajah Black.
Betapa terkejutnya Erland saat melihat wajah Black, seseorang yang telah menyiksanya dari kecil dan menculik Eliana 13 tahun yang lalu.
"Ayah?" Erland melebarkan pandangannya memandangi Black alias Riko yang berada di hadapannya.
__ADS_1
Sungguh dia tidak menyangka bisa bertemu dengan dia lagi, tapi mengapa dia bekerjasama dengan Tuan Mario.
Black meraih sebuah balok kayu dan memukulkannya ke kepala Erland, karena gerakan Black yang begitu cepat membuat Erland tak bisa menghindar.
Buukkk...
Black segera berlari untuk melarikan diri.
Erland ingin mengejarnya namun darah bercucuran di pelipisnya, merasakan kepalanya begitu sakit.
...****************...
"Apa kecelakaan El itu ulah papa?" Akhirnya Juan memberanikan diri untuk bertanya seperti itu kepada Tuan Mario, saat ini dia berada di ruang kerja, di Mansion William.
Tuan Mario yang sedang berkutat di meja kebesarannya, dia langsung menghentikan aktivitasnya, dan menatap tajam pada Juan yang berdiri di hadapannya.
"Berani sekali kamu menanyakan itu padaku?" bentak Tuan Mario.
"Bukannya papa sudah berjanji tidak akan menyakitinya?" Tapi Juan masih saja menekan Tuan Mario dengan beberapa pertanyaannya.
Pembicaraan mereka terhenti karena mendengarkan suara gaduh di luar sana. Sampai terdengar suara seseorang menendang pintu ruang kerjanya.
Brakkk..
Ternyata dia Erland, Erland belum sempat mengobati pelipisnya yang terluka, dia memilih langsung pergi ke Mansion Wiliam untuk bertemu dengan Tuan Mario.
Tuan Mario memberikan intruksi dengan tangannya kepada para pengawal yang mencoba untuk menangkap Erland, agar mereka membiarkan Erland datang padanya. Dia ingin tau mengapa Erland datang padanya dengan begitu emosi sambil memegang pisau milik Black. Apalagi dengan kondisi pelipisnya yang terluka.
Jlebbb...
Erland menancapkan pisau ke meja kebesaran Tuan Mario dengan menatap tajam padanya "Jangan pernah berani menyakiti Eliana lagi jika tidak ingin mati ditanganku seperti ini." Erland menunjuk pisau yang tertancap di meja kebesarannya.
Diwaktu yang bersamaan, di rumah sakit, Miss Bona yang sedang menjaga Eliana, dia terperangah begitu melihat jemari Eliana bergerak.
"Nona El!" seru Miss Bona.
Miss Bona menyuruh salah satu bodyguard yang menjaga di luar untuk memanggil dokter. "Cepat suruh Dokter Bimo kesini!"
__ADS_1
"Baik Miss." Salah satu bodyguard disana segera pergi.