
Erland terus saja membaca pesan Chelsea secara berulang-ulang, dia tidak percaya mengapa Chelsea mengirim pesan padanya, apalagi sekarang Chelsea mengajaknya untuk ketemuan.
Mengapa dia ingin bertemu denganku? Apa dia memiliki masalah?
Erland segera mengetik balasan dari pesan Chelsea.
[Kamu kenapa Chelsea? Apa lagi punya masalah? Ya udah besok_
Erland menatap wajah Eliana yang masih menggenggam erat tangan kirinya, entah mengapa dia merasa dia sedang mengkhianati pernikahannya jika bertemu dengan Chelsea.
Astaga! Ini hanya pernikahan kontrak, Erland. Tidak apa-apa jika kamu bertemu Chelsea juga.
Tidak Erland, kalau ada yang tau kamu ketemu Chelsea, Eliana akan ada dalam masalah, dan kamu kena dampaknya.
Hati Erland terus saja berperang. Erland memutuskan untuk tidak dulu membalas pesan dari Chelsea, biar besok saja dia memutuskan untuk bertemu dengan dia atau tidak.
Paginya...
Erland terbangun dari tidurnya, dia meregangkan tangan dan lehernya, tidur dengan posisi duduk membuat dia merasakan badannya pegal. Erland tidak mendapati Eliana di kamarnya.
"Kemana dia?"
Matanya beredar mencari Eliana disudut kamar itu, tapi tidak terlihat batang hidungnya juga. Mungkin Eliana sedang berolahraga pagi, pikirnya.
Erland memutuskan untuk segera mandi, dia terperangah begitu masuk ke dalam kamar mandi yang berada di kamar Eliana, sangat luas sekali.
Erland segera membuka seluruh pakaiannya, menikmati guyuran air shower, dan menyabuni seluruh badannya, tiba-tiba pikirannya jadi terbayang-bayang saat Eliana memakai lingerie semalam, betapa seksinya Eliana saat memakai pakaian itu, membuat adiknya terbangun lagi.
__ADS_1
"Sial!" Erland menghela nafas, dia terpaksa harus senam lima jari untuk mengeluarkan seluruh hasratnya.
Rasanya begitu melegakan setelah dia membuat adiknya terlelap walaupun tetap saja bayangan Eliana memakai lingerie itu terus saja menari-nari dimatanya.
Erland segera membersihkan badannya dengan sabun.
Ceklek!
Erland terkejut begitu mendengar ada yang membuka pintu kamar mandi, ternyata dia lupa mengunci pintu.
Rupanya Eliana yang masuk ke dalam, setelah selesai jogging dia memutuskan untuk mandi, dia tidak tau ada Erland di dalam.
"Aaaaa!"
Keduanya mejerit begitu Eliana melihat ada Erland yang sedang berdiri di bawah guyuran air shower, Erland reflek menutup adiknya. Sementara Eliana berlari ke luar.
Ya ampun, besar sekali!
Tenggorokan Eliana terasa mengering.
Erland terlihat emosi, dia yakin Eliana pasti melihatnya, runtuh sudah harga dirinya kini karena membiarkan orang lain melihat benda pusakanya.
Erland segera memakai handuk, dia keluar dari kamar mandi.
"Kamu sengaja mengintipku kan?" tanya Erland begitu melihat Eliana yang sedang berdiri di dekat ranjang.
"Tidak, buat apa aku ngintip? Makanya kalau mandi tuh di kunci!" Eliana malah mengelak.
__ADS_1
Erland mendengus dengan penuh rasa kesal, dia kesal pada dirinya sendiri mengapa tadi dia lupa mengunci pintu kamar mandi.
"Ta-tapi kamu tidak melihatnya kan?" Erland bertanya dengan terbata-bata.
"Emm... tidak." Eliana terpaksa berbohong.
Erland tidak percaya jika Eliana tidak melihatnya, dia berjalan mendekati Eliana, Eliana reflek mundur, ternyata dia begitu gugup melihat Erland yang terlihat sangat seksi, dia hanya memakai handuk menutupi pinggang sampai lutut, sementara badannya nampak terlihat begitu menggoda memperlihatkan perutnya yang berotot dan dadanya yang bidang.
"Beneran?" Tanya Erland, dia merasa puas karena dia bisa melihat wajah Eliana yang terlihat memerah.
Dia yakin semalam Eliana hanya pura-pura menggodanya saja padahal nyatanya dia belum siap.
"Emm...ha-hanya sedikit!"
Sialnya Eliana tidak bisa mundur lagi karena punggungnya mentok di dinding. Jantungnya terus saja berdetak kencang karena Erland kini mengunci tubuhnya.
Ayolah El, bukankah kau ingin cepat hamil?
Namun sialnya Eliana tidak bisa berakting, dia tidak bisa membunyikan rasa gugupnya.
"Beneran hanya sedikit?"
"Y-ya aku melihat semuanya, tapi kan kita suami istri, jadi kamu gak perlu mempermasalahkannya bukan?" Eliana tidak mengerti mengapa Erland harus semarah itu jika dia melihat adiknya walaupun sebenarnya pikiran Eliana masih terbayang-bayang dengan bentuknya, rasanya pasti sangat sakit jika benda tumpul itu memasukinya.
Erland semakin mendekatkan badannya, jarak wajah mereka hanya beberapa centimeter saja "Semalam kamu hanya memakai lingerie, ini tidak adil. Aku juga harus melihat semuanya dengan jelas. Bukan kah kita suami istri?"
Erland merasa sangat puas melihat wajah Eliana yang terlihat gugup sekali, baru kali ini Eliana terlihat lemah di depannya.
__ADS_1
Eliana memelototkan matanya mendengar ucapan Erland, rupanya dia termakan omongannya sendiri.