Terjerat Hasrat Ceo Cantik

Terjerat Hasrat Ceo Cantik
84


__ADS_3

"Kita habiskan kebersamaan kita dengan penuh cinta dan penuh gairah, seperti sepasang suami-istri sungguhan. Apa kamu mau?"


"Emm... aku.." Eliana bingung harus menjawab apa. Pikiran dan tubuhnya tidak sinkron. Pikiran menolak, tapi tubuhnya menginginkannya.


Erland tersenyum melihat Eliana gugup seperti itu, dia semakin mengikis jarak diantara mereka berdua, sampai kedua tubuh mereka menempel tak ada jarak satu centimeter pun.


Erland mencondongkan wajahnya untuk mencium bibir Eliana, namun tiba-tiba rasa mual itu datang kembali.


"Huuekkk!" Eliana segera berlari ke kamar mandi.


Erland membantunya dengan memijat-mijat tengkuk Eliana.


Erland begitu sangat mengkhawatirkan keadaan Eliana, karena itu dia meminta dokter Bimo untuk datang ke mansion, memeriksa keadaan Eliana.


"Bagaimana keadaan Eliana dok?" tanya Erland begitu Dokter Bimo selesai memeriksa Eliana.


Eliana terbaring pasrah di atas kasur padahal dia tidak merasa dirinya sakit, tapi Erland keukeuh ingin Eliana diperiksa keadaannya.


Dokter Bimo mengulurkan tangan pada Erland, "Selamat sebentar lagi anda akan menjadi seorang ayah."


Erland dan Eliana terkejut mendengarnya. Erland nampak sumringah, ini sebuah kejutan yang sangat luar biasa untuk nya, "A-aku akan menjadi ayah, Dok?"

__ADS_1


Tapi Eliana malah tertawa kecil menganggap perakataan Dokter Bimo itu adalah sebuah candaan, bagaimana bisa dia hamil, dia tidak merasa pernah melakukannya bersama Erland, masa hanya masuk seperempat saja bisa hamil. Itu yang ada dipikiran Eliana.


"Gak mungkin lah aku hamil, sementara aku masih perawan." ucap Eliana dengan menatap tajam pada Dokter Bimo.


"Tapi memang begitu kenyataannya nona El, anda saat ini sedang mengandung."


"Tapi bagaimana bisa?"


Erland terpaksa menyuruh Dokter Bimo pulang, dia takut Dokter Bimo dipecat gara-gara masalah ini. Erland harus menjelaskannya pada Eliana.


Eliana bukannya tidak senang dia sedang hamil, tapi dia tidak mengerti mengapa dia bisa hamil, karena dia sama sekali belum ingat apa saja yang terjadi saat dia sedang amnesia.


Eliana duduk di samping Erland, di pinggir ranjang. "Apa aku harus memecat dokter Bimo saja, dia mengatakan hal yang sama sekali tidak masuk akal. Bagaimana bisa aku hamil sementara..."


"Ya tapi gak sampai masuk, hanya seperempatnya saja."


"Bukan yang itu, tapi saat kamu amnesia. Kita melakukannya lebih dari satu kali."


Eliana terbelalak mendengarnya. Rasanya tak percaya, mengapa bisa dia tidak mengingat moment penting itu, bahkan tidak tau rasanya.


"Kamu memanfaatkan situasi padahal saat itu aku lagi amnesia."

__ADS_1


Erland terkekeh, "Ya ampun El, kita kan suami istri. Untuk apa aku memanfatkan situasi. Dan bahkan kamu sendiri yang memintanya karena ingin menjadi istri yang baik."


Wajah Eliana memerah saat Erland bilang bahwa Eliana lah yang meminta duluan.


"Bahkan kamu sangat menikmatinya El, kamu yang sering pegang kendali."


Eliana tertawa renyah, perkataan Erland malah menggelitiikinya, dia sama sekali tidak mempercayai ucapan Erland. Walaupun dia jadi penasaran sekali bagaimana rasanya, sampai tubuhnya berdesir seakan mengharapkan sebuah sentuhan.


"Aku gak bisa mengingatnya."


"Bagaimana kalau kita melakukannya lagi siapa tau nanti kamu akan ingat?" Erland mengatakan itu sambil mencondongkan badannya ke Eliana. Dia tersenyum menggoda Eliana.


Aish... pria itu kenapa malah terlihat semakin tampan.


Eliana menelan salivanya memandangi Erland, dia tidak mengerti dengan perasaannya, ada sesuatu yang menggebu di dalam jiwa, seakan ingin sekali dia menyentuh tubuh itu.


Erland terkekeh, dia tau apa yang dirasakan Eliana malam ini.


"Buat aku mengingatnya, aku ingin mengingat apa saja yang aku lakukan dan aku katakan saat aku amnesia!" Eliana tidak bisa menahan lagi dengan pesona sang suami. Dia juga ingin tau kenangan apa saja yang dia lalui bersama Erland saat dia sedang amnesia.


Erland tersenyum bahagia mendapatkan jawaban dari Eliana. Semoga Eliana ingat saat dia bilang mencintai Erland. Perlahan Erland mencium bibir Eliana, dia menyesap bibir Eliana dengan sangat lembut, menerobokan lidahnya masuk mengabsen di setiap inci bibir Eliana. Eliana mulai terbuai dengan ciuman itu, tanpa sadar dia membalas disetiap pagutan bibir Erland.

__ADS_1


Erland meraih pinggang Eliana, membaringkan dia diatas kasur, Eliana memandangi Erland yang berada di atasnya, mereka saling memandang dengan tatapan penuh cinta, Eliana mengalungkan tangannya ke leher Erland sampai bibir itu kembali bersentuhan. Mereka berciuman lagi.


__ADS_2