Terjerat Hasrat Ceo Cantik

Terjerat Hasrat Ceo Cantik
86


__ADS_3

Eliana terbangun dari tidurnya, tangannya meraba-raba ke samping, dia mengerjapkan mata begitu menyadari rupanya dia tidak mendapati Erland disana.


Mungkin Erland sedang joging atau sarapan, Eliana memilih masuk ke kamar mandi saja. Dia merendam tubuhnya diatas bathup, memainkan busa sabun, malam panas yang dia lalui bersama Erland masih dia rasakan saat ini, apalagi saat dia mengusap tubuhnya dengan sabun, seakan merasakan Erland sedang meraba tubuhnya.


Ada beberapa bayangan terlintas saat dia sedang bercinta dengan Erland. Ah... jadi begini rasanya, begitu...


Eliana menggelengkan kepalanya sambil tersenyum manis, padahal dia sedang bermonolog sendirian tapi malu sekali mengakui pada dirinya sendiri tentang rasanya bercinta.


Eliana memejamkan matanya, dia baru mengingat saat di bersikap manis pada Erland, ternyata dia bisa bersikap semanis itu pada Erland? Malu sekali rasanya.


Bukan itu saja, rupanya dia dan Erland sudah saling menyatakan soal perasaan mereka masing-masing.


Dari lubuk hati yang paling dalam, Eliana juga sangat mencintai pria itu. Sungguh sangat mencintainya.


Apakah dia harus memilih hidup dengannya walaupun dia tau Erland adalah anak dari orang yang telah membunuh papanya. Karena dia tau Erland sama sekali tidak bersalah, semua pengorbanan yang dilakukan Erland bukankah sudah cukup membuktikan bahwa Erland begitu mencintainya. Apalagi saat ini dia telah mengandung, hasil buah cinta mereka.


Yang harus dia lakukan adalah membuat mertuanya masuk penjara. Dan dia bisa hidup bersama Erland.

__ADS_1


Tapi bagaimana dengan mantannya? Bukankah dulu Erland sangat mencintainya bahkan dia menerima pernikahan kontrak ini karena cemburu dengan mantannya.


Eliana menggelengkan kepalanya, dia yakin Erland sudah move on dengan mantannya itu.


Setelah selesai mandi dan juga berpakaian lengkap, Eliana keluar dari kamarnya, dia tiada hentinya tersenyum seperti orang yang baru kasmaran.


Eliana turun dari tangga satu persatu.


Eliana mencari keberadaan Erland, rupanya pria tampan itu sedang memasak di dapur. Eliana tersenyum penuh rasa bahagia. Entah mengapa dia begitu bahagia, ah... pokoknya susah dijelaskan.


Eliana berjalan menghampiri Erland yang sedang memasak, dia memeluk tubuh pria itu dari belakang, melingkari perutnya, dan menyandarkan kepalanya dipunggung itu.


"Pasti kamu kelelahan sekali, makanya aku memasak special untuk kamu."


"Kamu bisa memasak?"


"Tentu saja, ibu yang mengajariku." Erland jadi teringat dengan ucapan nyonya Vera yang ingin sekali mengajaknya dan Eliana makan bersama. Namun dia rasa waktunya tidak tepat untuk membicarakan itu semua pada Eliana.

__ADS_1


Erland mematikan kompor setelah selesai memasak. Dia membalikkan badan begitu memandangi sang pujaan hati di hadapannya.


"Kamu mau kerja?" Erland memperhatikan penampilan Eliana.


"Tentu saja. Miss Bona sebentar lagi akan menjemput aku."


"Kenapa bareng Miss Bona? Gak mau bareng aku?"


Eliana menggelengkan kepala, "Kamu gak boleh kerja dulu. Istirahat yang benar."


"Aku sanggup kerja kok."


"Ish... aku bilang gak boleh, ya gak boleh. Kamu harus banyak istirahat. Kamu baru saja kemarin pulang dari rumah sakit."


"Tapi nyatanya aku kuat kan? Kita bahkan melakukannya beberapa ronde."


Wajah Eliana memerah begitu mendengar ucapan Erland, kenapa pria ini blak-blakan sekali, membuatnya sangat tersipu malu jika mengingat malam panas semalam.

__ADS_1


Erland menarik Eliana, dia melingkari pinggang wanita cantik itu. Lalu berbisik, "Aku mau lagi El, satu celup aja, boleh gak?"


__ADS_2