
Setelah dua jam meeting akhirnya menghasilkan sebuah keputusan bahwa Erland lah CEO sementara di Alsaka Corp. Selama Eliana masih dalam proses penyembuhan.
"Baiklah saya percaya Pak Erland pasti bisa menjadi pemimpin di perusahaan ini, bahkan saat ini proyek green forest berjalan dengan baik." Pak Hilman sangat menyetujui keputusan Eliana untuk menjadi Erland sebagai CEO sementara di Alaska Corp, bahkan selama dua minggu ini proyek green forest sedang berlangsung dalam proses pembangunan.
"Terimakasih atas kepercayaannya Pak." Erland berjabat tangan dengan Pak Hilman. Sesekali dia melirik Eliana, dia ingin tau apa Eliana sudah kembali ingatan atau belum.
Bu Tia dan Pak Tomi terpaksa berjabatan tangan dengan Erland, namun ada hal yang membuat mereka terkejut, mereka melihat Eliana tersenyum manis pada mereka, bukannya senang tapi malah merasa ngeri dan aneh, untuk pertama kalinya Eliana begitu ramah pada mereka.
Erland akhirnya tau Eliana hanya pura-pura tidak amnesia, karena buru-buru saat mendapatkan pesan dari Juan mengenai meeting hari ini, Miss Bona hanya menjelaskan jangan bersikap ramah pada Tuan Mario dengan menujukan fotonya, dia menjelaskan bahwa Eliana sangat membenci pria itu, karena itu Eliana hanya bersikap judes pada Tuan Mario, tapi malah bersikap ramah pada Pak Tia dan Pak Tomi, padahal aslinya Eliana juga tidak menyukai mereka yang selalu ingin menjatuhkan dirinya.
"Nah gitu dong sayang, kamu harus banyak tersenyum dan ramah." Erland langsung berseru saat menyadari Bu Tia dan Pak Tama menatap Eliana dengan penuh keheranan melihat Eliana bersikap ramah pada mereka.
Miss Bona gelagapan, dia baru menyadari keteledorannya.
Erland segera mendorong kursi roda membawa Eliana pergi meninggalkan meeting room itu, Miss Bona tidak mengikutinya karena tidak ingin menjadi nyamuk diantara mereka.
"Bagaimana? Aku hebat kan?" tanya Eliana sambil tersenyum menis menoleh ke belakang.
"Kamu membuat aku terkejut." jawab Erland dengan datar.
Eliana mengerucutkan bibirnya melihat reaksi Erland, dia menormalkan badannya menghadap ke depan.
Mereka berpapasan dengan beberapa karyawan, para karyawan langsung menbungkuk hormat, mereka terkejut begitu melihat tiba-tiba Eliana ada di Kantor.
"Selamat siang nona Direktur." sapa mereka.
Eliana tersenyum dengan ramah pada mereka, "Siang juga."
Para karyawan terperangah, sungguh tak percaya seorang Eliana yang terkenal dengan keangkuhannya dan tidak pernah menanggapi sapaan mereka, tiba-tiba membalas sapaan mereka dan tersenyum ramah pada mereka.
"Apa tadi aku bermimpi, nona Direktur tersenyum padaku." kata karyawan 1, kebetulan dia seorang pria, dia nampak melongo melihat jarak Eliana yang kian menjauh bersama Erland yang mendorong kursi rodanya.
__ADS_1
"Aku rasa begitu, dia begitu manis kalau tersenyum seperti itu." kata karyawan 2, dia seorang wanita.
Erland dan Eliana berpapasan dengan Juan.
Juan memang sengaja mengejar mereka begitu tau Eliana datang ke kantor utama.
"El, rupanya kamu sudah sembuh." Juan tersenyum lega menatap Eliana.
Eliana sama sekali tidak mengenali Juan, dia bingung harus mengatakan apa. Dia hanya bisa tersenyum manis padanya. "Terimakasih kamu sudah mengkhawatirkan aku."
Juan mengernyit, kenapa Eliana mendadak bersikap manis padanya, dari tatapannya dia merasa Eliana orang asing.
Erland bergegas membawa Eliana pergi, tidak boleh ada yang tau Eliana amnesia, dia membawa Eliana masuk ke dalam ruangannya.
Eliana segera bangkit dari kursi rodanya, dia bergelayut manja dengan kedua tangannya melingkari leher Erland, "Aku sangat merindukanmu."
"Benar kah? Padahal kita setiap hari kita bertemu." kata Erland dengan nada datar. Pikirannya masih kacau balau mengingat hasil tes DNA itu.
Eliana mendekatkan kedua wajah mereka, dia menatap Erland dengan begitu dalam, "Aku rasa ada yang sedang kamu pikirkan, aku jadi tiba-tiba takut kamu meninggalkan aku, saat ini aku tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu dan Miss Bona. Apalagi setiap hari aku selalu bergantungan padamu."
"Tidak, aku tidak akan meninggalkan kamu." Erland merapihkan anak rambut di kening Eliana, dia menambahkan perkataannya, Mungkin sebaliknya kamu yang akan meninggalkan aku El.
Eliana tersenyum manis, dia mengecup bibir Erland sebentar, "Dokter bilang kondisi badanku sudah sembuh."
"Bagus lah."
Eliana mengerucutkan bibirnya, rupanya Erland tidak peka dengan perkataannya atau mungkin Erland tidak normal. "Apa kamu tidak normal?"
"Maksudnya?" Erland tidak mengerti.
Eliana melepaskan tangannya yang dari tadi memeluk leher Erland, "Apa jangan-jangan selama kita menikah aku masih perawan?"
__ADS_1
Mata Erland membulat mendengarnya, "Emm... tidak juga."
"Jadi kita pernah melakukan hubungan int*m?"
Tenggorokan Erland terasa kering mendengarnya, mungkin Eliana pikir pernikahan dia dan Erland adalah pernikahan yang normal seperti sepasang pengantin pada umumnya.
"Emm... tidak juga. Tapi..." Erland bingung menjelaskannya, dia juga tidak tau status Eliana saat ini masih perawan atau bukan karena dulu hanya seperempatnya masuk.
Eliana tidak mengerti dengan jawaban Erland.
"Emm... kita bahas ini di rumah ya El."
"Hanya bahas?"
Erland jadi gelagapan, "Ya maksud aku kita emm... ya kita bisa melakukannya jika kamu memang sudah sehat."
Eliana tersenyum penuh rasa bahagia, "Baiklah aku akan mempersiapkan semuanya, dan berpakaian dinas malam."
Erland menelan salivanya dengan kasar, dia seorang laki-laki normal tidak munafik jika menginginkannya, padahal rencananya dia ingin melakukannya jika Eliana sudah sembuh dari amnesianya, namun sebuah fakta yang begitu mengejutkan untuknya bahwa dia adalah anak dari Tuan Mario, dia menjadi menginginkan Eliana menjadi miliknya seutuhnya dan berharap akan hadir seorang anak yang bisa memperkuat rasa cinta mereka.
Erland mendekatkan jaraknya pada Eliana, dia memegang wajah Eliana dan mencium keningnya. "Aku akan menantikannya."
Eliana begitu bahagia mendengarnya, rasanya berjuta kupu-kupu bertaburan disekitarnya. "Emmm... oh iya, hari ini aku masak buat kamu."
"Kamu masak?" Erland terperangah, senang sekaligus terharu karena Eliana yang anti dapur memasak untuk dirinya.
"Sudah aku bilang, aku ingin menjadi istri yang baik buat kamu. Aku tidak tau rasanya enak atau tidak, karena aku sama sekali tidak ingat bagaimana cara aku memasak."
Bukannya tidak ingat, Eliana memang tidak bisa memasak, bahkan karena ulahnya, dapur di rumah kini berantakan, seperti kapal pecah, terpaksa ada beberapa ART membereskan semuanya, padahal hanya memasak satu piring, tapi membuat kondisi dapur seperti habis terjadi guncangan gempa bumi.
...****************...
__ADS_1
...Bukan hanya Erland, othor juga bingung, menurut kalian Eliana itu bisa dikatakan perawan atau bukan, atau mungkin setengah perawan 😁...
...Jangan lupa tinggalkan like dan komennya biar makin semangat nulisnya, dan votenya juga 🙏😁...