Terjerat Hasrat Ceo Cantik

Terjerat Hasrat Ceo Cantik
52


__ADS_3

Juan ikut tertawa, dia menatap Erland dengan tatapan sinis. "Jangan mencintainya jika kamu tidak ingin hidup kamu hancur. Karena pada akhirnya El akan membencimu. Kamu tidak tau sifat El yang sebenarnya seperti apa."


Erland tidak mengerti dengan apa yang Juan katakan, Mengapa El harus membenciku? Apa aku memiliki kesalahan yang besar padanya?


Erland pikir dia tidak memiliki masalah apapun, malah dia sudah menolak untuk datang ke hotel menemui Chelsea.


"Tidak ada alasan El untuk membenciku." Erland mengatakannya dengan penuh rasa percaya diri.


Juan hanya tersenyum sinis, dia tau Erland tidak akan mengerti dengan apa yang dia ucapkan. "Kita lihat saja nanti." Setelah mengatakan itu Juan memutuskan untuk pergi.


Setelah Juan pergi dari ruangannya, Erland terus berpikir kesalahan apa yang dia perbuat pada Eliana? Dia rasa dia tidak memiliki melakukan kesalahan apapun.


Tok...Tok...Tok


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.


"Masuk!" suruh Erland.


"Ada tamu yang ini bertemu dengan anda." Ucap sekretaris Aina.


"Siapa?"


"Namanya Bu Darmi."

__ADS_1


"Dia ibuku, persilahkan ibuku masuk."


"Baik, Pak."


Karena tau Erland akan pergi keluar kota, Bu Darmi sengaja membuat bekal untuk Erland dan istrinya, karena itu dia sengaja datang dari rumah demi Erland, juga dia ingin sekali melihat Juan.


Ceklek!


Bu Darmi membuka pintu, dia tersenyum bahagia begitu melihat Erland.


"Ibu." Erland menyambut ibunya dengan sumringah.


Setelah mereka duduk, Bu Darmi membawa banyak bekal pada Erland berupa nasi kotak. "Ini untuk kamu dan istri kamu, dan karyawan lainnya."


"Gak apa-apa nanti biar semua ikut makan masakan ibu." Bagi Bu Darmi itu tidak seberapa, malah dia memiliki restoran pun uangnya dari Erland, padahal Bu Darmi sudah beberapa kali menolaknya karena tidak ingin merepotkan anak angkatnya itu.


"Ngomong-ngomong Diana mau dilanjutkan kuliah dimana?" tanya Erland, dia memang sangat perhatian kepada keluarganya.


"Diana gak mau kuliah, dia bilang ingin membantu ibu di restoran. Padahal ibu ingin sekali dia kuliah."


"Iya dia harus kuliah, biar Erland yang bayar biaya kuliahnya." Apalagi Erland memiliki uang yang lumayan cukup untuk biaya kuliah Diana, karena dia tidak jadi melamar Chelsea.


"Udah gak apa-apa. Ibu juga bisa kok."

__ADS_1


"Aku kakaknya, Bu. Jadi gak apa-apa aku biayai sekolah adikku." Erland mempertegas ucapannya.


Bu Darmi mengalah saja, "Hmm... ya lagian saat ini Diana masih sekolah, biar nanti kita bahas kalau Diana sudah lulus sekolah. Ibu gak bisa lama-lama disini, ibu harus pulang, kasihan ayahmu jaga restoran sendirian."


"Biar saya antar bu."


"Gak usah, di depan sudah ada ojeg yang menunggu ibu."


Erland mengalah saja, "Ya udah hati-hati di jalan ya bu."


"Iya." Bu Darmi tersenyum lebar. Dia segera pergi dari ruangan Erland.


Bu Darmi jadi teringat dengan Juan, anak kandungnya. Juan seorang general manager disini, karena itu Bu Darmi mencoba untuk mencari ruangan Juan dengan menyusuri koridor, siapa tau dia bisa melihat Juan walaupun secara diam-diam.


Namun betapa terkejutnya dia karena malah melihat orang yang tidak diharapkan, Tuan Mario sedang berjalan sambil berbicara serius dengan Asisten Ken masalah anak buahnya yang berhasil memusnahkan semua tamanan ganj@ di hutan yang akan dikunjungi Eliana itu.


Bu Darmi sangat panik, Tuan Mario tidak boleh melihatnya karena sudah menyuruhnya untuk pergi jauh meninggalkan kota ini.


Tiba-tiba ada yang menarik lengannya dan membawa dia masuk ke sebuah ruangan.


Bu Darmi terkejut begitu melihat siapa yang membawanya bersembunyi, Bu Darmi tidak mengerti mengapa Juan seakan tau bahwa Bu Darmi tidak ingin Tuan Mario melihatnya.


"Mengapa membawaku bersembunyi? Apa kamu tau sudah mengetahui semuanya?" tanya Bu Darmi pada Juan dengan tatapan penuh kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2