
Sore ini Juan pulang dari tempat kerjanya, dia masih memikirkan sikap Eliana yang tiba-tiba berubah, dia rasa ada sesuatu yang aneh pada diri Eliana.
"Apa yang terjadi dengannya?" gumam Juan.
Dia segera menelpon Asisten Ken, namun dia terkejut begitu dia hampir saja bertabrakan dengan seorang wanita yang mengendarai motor matic dengan membawa ada banyak makanan di dalam box di belakangnya.
Juan segera mengerem mobilnya, namun sialnya pengemudi matic itu tidak bisa menjaga keseimbangan motornya, hingga dia terjatuh.
Juan bergegas keluar dari mobilnya, dia melihat ada banyak makanan yang berhamburan di aspal.
"Aduhhhh..." Wanita itu meringis kerena tangannya memar, dia segera bangkit dan membuka helmnya, rupanya dia Diana, dia sedang mengantarkan pesanan makanan dari restoran RG, sayangnya makanan itu harus hancur ulah Juan.
Diana ingin mengomel tapi dia mengurungkan niatnya begitu melihat wajah Juan, seakan terkesima dengan ketampanannya.
Bukannya dia itu anaknya ibu? Gumam hati Diana begitu melihat wajah Juan.
Juan menyipitkan matanya, dia merasa pernah melihat wajah Diana, tapi entah dimana, padahal dia pernah melihatnya di berkas tentang keluarga ibunya.
"Kamu tidak apa-apa? Biar saya bawa kamu ke rumah sakit." Juan tidak ingin basa basi.
"Tidak perlu om, aku baik-baik saja." Diana memegang tangannya yang memar. "Tapi restoran kami rugi besar gara-gara om nih."
__ADS_1
"Aku bukan om kamu. Jangan panggil aku om."
Juan yang masih berusia 24 tahun merasa tua jika dipanggil om, padahal dia masih muda. Tapi bagi Diana Juan memang terlihat dewasa karena usia Diana 17 tahun saat ini.
"Berapa kerugiannya? Biar aku bayar tiga kali lipat." Juan mengatakannya dengan begitu sombong.
Diana rasa ini saatnya dia ingin mendekatkan Juan dengan Bu Darmi, "Aku tidak butuh uang om. Aku ingin ganti ruginya dengan cara yang lain aja."
Juan menghela nafas karena di panggil om lagi, "Lalu apa maumu?"
Diana berpikir sejenak "Hmm... Aku minta kartu id om aja dulu. Nanti aku hubungi om."
Juan mengernyitkan keningnya, dia tidak tau apa rencana gadis kecil ini, dia terpaksa memberikan kartu idnya sebagai bentuk tanggungjawabnya.
Juan hanya menghela nafas, padahal dia orang yang tidak suka membuang waktunya. Dia akan memberikan berapa pun uang yang diminta Diana, namun rupanya Diana malah mengulur waktu.
"Hmm... ya sudah kalau kamu baik-baik saja. Aku harus pergi." Juan memilih pergi meninggalkan Diana yang belum sempat membereskan makanannya yang berhamburan di aspal .
"Ehhh tunggu om..."
"Hhh... sombong sekali dia. Apa benar dia Rega, anaknya ibu. Padahal ibu orangnya baik sekali." gerutu Diana. Sikap Juan beda sekali dengan ibu kandungnya.
__ADS_1
...****************...
Erland tak langsung pulang, dia ingin berbicara empat mata dengan Tuan Mario dulu, di Restoran Alaska Star. Dia sengaja memesan khusus tempat VVIP agar tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka.
Chelsea tau Erland masih sendirian di ruang VVIP, menunggu Tuan Mario datang, dia sangat penasaran mendengar desas desus tentang Erland yang menjadi CEO Sementara di Alaska Corp. Makanya dia ingin dia sendiri yang mengantarkan menu special itu untuk Erland.
"Kak Erland." Chelsea menyapanya begitu masuk ke dalam ruangan. Dia tersenyum bahagia karena Erland kini menjadi CEO di Alaska Corp, sampai dia berpikir mungkin jika Eliana meninggal Erland akan menjadi CEO sepenuhnya disana.
"Ini di tempat kerja, jangan panggil aku kakak." Erland menatap Chelsea dengan tatapan serius.
Baru kali ini Chelsea melihat tatapan Erland begitu dingin.
"Iya aku tau, aku sangat merindukan..."
Erland memotong perkataan Chelsea, "Mungkin harus aku pertegas, aku tidak memiliki perasaan apapun padamu lagi, walaupun kamu mencoba beberapa kali untuk menggodaku aku tidak akan pernah bisa berpaling dari istriku, karena aku sangat mencintai Eliana, istriku. Jadi bersikap profesional lah jika ingin masih bekerja disini."
Hati Chelsea sakit mendengarnya, sungguh tak percaya Erland akan mengatakan itu padanya. Dia segera keluar begitu ada Tuan Mario masuk ke ruang VVIP itu.
Erland juga tidak tega menyakitinya tapi dia memang harus bersikap tegas, apalagi dia tidak memiliki perasaan lagi pada mantan kekasihnya itu.
"Ada apa kamu menyuruh aku datang kesini?" tanya Tuan Mario pada Erland begitu dia duduk berhadapan dengan Erland.
__ADS_1
Sementara itu di waktu yang bersamaan, Eliana sedang menghiasi kamarnya, dia menaburi bunga-bunga mawar pada kasurnya, dan dia sudah memakai pakaian dinas malamnya yang begitu s3ksi dan transparan sehingga semua keindahan yang tersembunyi di tubuhnya terlihat begitu jelas karena Eliana tidak memakai pakaian dalam.
Eliana memegang dadanya, "Mengapa aku deg-degan sekali."