Terjerat Hasrat Ceo Cantik

Terjerat Hasrat Ceo Cantik
46


__ADS_3

Prang....


"Brengsek!" Mario melempar gelas yang berisi wine ke dinding sampai pecahan kaca itu berserakan di lantai.


Tuan Mario begitu emosi, dia tidak percaya Erland akan mendapatkan ide seperti itu. Padahal di hutan yang akan dijadikan proyek oleh Alaska Corp itu telah ditanami banyak pohon ganj@. Dan tempat itu telah dijaga ketat oleh anak buahnya agar tidak ada masyarakat setempat yang melihat tanaman itu.


Ide dari Erland adalah sebuah kerugian yang sangat besar untuknya.


Asisten Ken hanya diam, dia hanya bisa mematung membiarkan tuannya meluapkan segala kemarahannya.


"Anak itu baru saja muncul tapi telah membuat aku muak!" Tuan Mario mengepalkan tangannya, pandangnya berlalih pada Asisten Ken, "Suruh semuanya untuk membersihkan tanaman ganj@ sebelum ada yang meneriksa hutan itu."


"Baik, Tuan." Asisten Ken menunduk dengan patuh.


Tuan Mario menyesal, seharusnya dia tidak usah membahas hutan itu, gara-gara ingin menjatuhkan Eliana malah dirinya yang mendapatkan kerugian.


"Bukan kah El akan ikut menyurvei hutan itu bersama suaminya?" Tanya Tuan Mario dengan tatapan yang begitu mematikan, membuta Asisten Ken sangat takut jika dia berontak dari Tuannya.


"Iya, saya dengar begitu, Tuan."


Tuan Mario terkekeh, "Perintahkan seseorang untuk mencelakai El, dibuat seapik mungkin seakan itu murni kecelakaan."


Tuan Mario memang tidak bisa menggunakan jasa Black dalam misi ini, karena dia tau tipikal Black seperti apa, yang bisa membunuh secara sadis, mungkin nantinya malah menjadi malapetaka untuknya jika polisi mencurigai kecelakaan Eliana itu disengaja.


Asisten Ken tercengang mendengar perintah dari Tuan Mario "Tapi Tuan..."


"Jangan bicarakan ini semua pada Juan. Jika Juan tau, itu berarti kamu yang beritahu dia, dan aku tidak akan memaafkan kamu, keluarga kamu akan menanggung akibatnya jika mengkhianatiku." Tuan Mario mencoba untuk mengancam asisten Ken.

__ADS_1


"Tentu saja Tuan, saya akan selalu mengabdi pada anda."


Tuan Mario terkekeh, dia menepuk-nepuk pundak Asisten Ken, "Hmm... bagus. Kamu boleh pergi."


Asisten Ken menganggukkan kepala, "Iya, Tuan."


"Oh tunggu dulu Asisten Ken!" Tuan Mario mencegah Asisten Ken untuk pergi.


"Kenapa Tuan?"


"Saksi itu, apakah kamu sudah menemukannya?" Tuan Mario membahas soal kecelakaan dua tahun yang lalu.


"Belum, Tuan. Sepertinya Nona El juga sama, dia sedang mencari saksi itu."


Taun Mario duduk, dia mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya sambil menghela nafas "Hmm... baiklah, temukan dia secepatnya!"


"Baik, Tuan." Asisten Ken menunduk dengan patuh.


Juan sangat tau Tuan Mario sering menggunakan sisir yang berwarna hitam, dia membawa sisir itu dan mendapati ada satu helai rambut menyangkut di sela-sela sisir berwarna hitam itu.


Juan tersenyum kecut, dia segera membawa sehelai rambut itu, memasukkannya ke dalam plastik, dia ingin melakukan tes DNA antara Tuan Mario dengan Erland, dia sangat penasaran apakah mungkin Erland itu adalah anak kandungnya Mario.


Ceklek!


Juan dikejutkan dengan suara seseorang membuka pintu.


Juan segera menyimpan plastik kecil yang berisi sampel rambut Tuan Mario itu ke dalam saku celananya, dia pura-pura bersikap tenang begitu tau siapa yang masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Juan?" Nyonya Vera mengerutkan keningnya, dia terkejut mengapa Juan berada di kamarnya, karena baginya kamar adalah tempat yang privasi, walaupun Juan adalah anaknya.


"Emm...oh mama, Juan kesini mau mencari mama, tapi karena mama gak ada, jadi Juan ingin melihat ada banyak sekali foto-foto disini," Juan menunjuk foto-foto di figura kecil, ada foto dirinya yang sering di foto bersama sang mama.


Sebagai seorang ibu, nyonya Vera sama sekali tidak menaruh curiga pada Juan. "Oh foto itu, disana memang ada banyak foto kamu. Mamah sengaja memajangnya disana."


"Oh begitu, Juan sayang sekali sama mama." Juan memeluk manja nyonya Vera, wanita inilah yang membuat Juan tidak bisa meninggalkan kehidupannya karena nyonya Vera begitu sangat menyayanginya dan memanjakannya.


"Tentu saja, mama juga sangat sayang sama Juan. Oh iya bagaimana kalau kamu mencoba untuk kencan buta, mama punya teman, namanya tante Amel, dia memiliki putri yang sangat cantik..."


Juan memotong perkataan Nyonya Vera, "Hm...lain kali saja ya Ma. Juan sangat sibuk sekali."


"Hmm... ya udah tidak apa-apa. Tapi ngomong-ngomong buat apa kamu mencari mama?"


"Oh itu..." Juan berpikir sejenak, dia mencoba untuk mencari alasan, "Tadinya Juan ingin ngajak dinner sama mama, tapi sepertinya sudah malam sekali, lebih baik lain kali saja."


Nyonya Vera tersenyum mendengarnya, "Yaah ngajaknya dadakan sih."


"Hehe iya Ma, kalau gitu Juan pergi dulu ya. Juan ngantuk sekali."


Nyonya Vera membelai rambut Juan dengan penuh kasih sayang, "Iya Juan sayang, lebih baik kamu cepat tidur gih."


Juan menganggukan kepala, dia tersenyum pada mamanya lalu segera melangkah pergi meninggalkan kamar itu, Juan bisa bernafas lega karena berhasil membawa sampel rambut milik Tuan Mario.


Nyonya Vera memandangi foto-foto Juan yang masih kecil, entah mengapa pikirannya yang dulu jadi terlintas lagi bahwa Juan sama sekali tidak ada kemiripan diantara dia dan suaminya, dia mengutuk dirinya sendiri mengapa harus memikirkan itu lagi, padahal sudah jelas bahwa Juan adalah anaknya.


Begitu sampai kamar, Juan menyimpan sampel rambut itu ke dalam laci, kini giliran dia harus mendapatkan sampel dari Erland.

__ADS_1


Juan memandangi foto Eliana, dia masih teringat dengan perkataan Eliana bahwa Eliana tidak bisa membalas cintanya karena dia adalah anak Mario, lalu bagaimana dengan Erland? Apakah Eliana akan meninggalkan Erland jika akhirnya tes DNA itu menunjukkan bahwa Erland adalah anak dari Tuan Mario? Dengan begitu, apakah itu artinya dia akan diterima oleh Eliana jika kenyataannya dia bukanlah anak dari Tuan Mario?


__ADS_2