Terjerat Hasrat Ceo Cantik

Terjerat Hasrat Ceo Cantik
93


__ADS_3

Malam itu adalah malam yang sangat indah, terlihat sebuah keluarga sedang makan malam bersama.


"Bagaimana rasanya?" tanya Eliana pada Erland dengan hati yang berdebar-debar. Dia takut masakannya gagal lagi.


Erland tak menjawab dulu, dia masih mengunyah makanan itu. Membuat Eliana harap-harap cemas.


"Emm... enak. Enak sekali." jawab Erland dengan jujur.


"Iya enak banget kak." Diana mengacungkan jempolnya pada kakak iparnya.


Dan semua mengiyakan pendapat Erland. Juan hanya tersenyum memperhatikan keluarga barunya itu. Sejujurnya dia masih memiliki rasa pada Eliana karena Eliana adalah cinta pertamanya, bahkan dia dulu saat masih remaja selalu melindungi Eliana jika ada laki-laki yang menganggunya.


Hmm... ya begitu lah rasanya menjaga jodoh orang. Dan Juan akan belajar merelakan Eliana bahagia bersama Erland. Apalagi rasa sakit hati itu sudah sedikit terobati dengan kehadiran ibu kandungnya, akhirnya dia bisa meminta maaf kepada Bu Darmi atas semua perlakuan dan ucapan yang telah menyakiti ibunya.


"Bagaimana kalau kalian menginap disini saja?" ucap Bu Darmi kepada Erland, Eliana, dan Juan.


Erland memang sangat merindukan tidur di kamarnya yang lama tapi dia tidak ingin memaksa Eliana untuk tidur disana karena tau kondisi kamarnya seperti apa. "Emm..."


Baru juga Erland mangap sudah di potong Eliana. "Boleh sekali , Bu." Eliana tidak ingin mengecewakan Erland dan keluarganya, dia yakin dia bisa tidur di tempat seperti itu.


Erland begitu bahagia karena ternyata Eliana mau tidur disini demi dirinya, dia jadi ingin segera menggendong Eliana ke kamar dan menyatukan kedua tubuh mereka disana. Oh jadi tidak tahan. Gairahnya yang dia pendam dari tadi setelah dia berciuman dengan Eliana di dapur.


"Ya boleh, aku juga ingin bisa tidur satu rumah dengan keluarga baru aku." kata Juan dengan nada canggung.


"Tapi bukannya disini ada tiga kamar Bu?" kata Diana.


Ayah Redi yang menjawab "Nah iya kamar satu ibu dan ayah, kamar dua El dan Erland , dan kamar tiga Diana dan J..." Ayah Redi tidak melanjutkan perkataannya, sepertinya ada yang keliru.


Seketika wajah Juan dan Diana jadi memerah mendengar ucapan ayah Redi.


Bu Darmi berpikir sejenak "Oh berarti jangan begitu posisi. Biar kamar satu ayah sama ibu, emm... oh salah, kamar satu ibu sama Diana. kamar dua El dan Erland. Kamar tiga ayah sama Juan."


Juan dan ayah Redi sepertinya merasa tidak nyaman karena mereka baru saja bertemu.


Juan mengerti dengan apa yang dirasakan ayah Redi karena dia juga tidak bisa tidur kalau tidak nyaman. "Ya sudah bagaimana kalau kamar satu ayah dan ibu. Kamar dua El dan Diana. Kamar tiga aku dan Erland."

__ADS_1


Juan tersenyum jahat menatap Erland yang langsung melongo mendengar ucapan Juan. Padahal malam ini Erland sudah terlanjur membayangkan bagaimana dia dan Eliana bercinta.


Sialnya Eliana malah setuju "Hm... ya sudah tidak apa-apa. Lebih baik begitu."


"Ye... aku sekamar sama ka El." seru Diana.


Diana sama Eliana malah saling berpelukan. Mereka tidak tahu bahwa Erland menatap kesal pada mereka.


Seharusnya tadi Erland tidak membayangkan yang tidak-tidak, jadinya malah tersiksa sendiri. Apalagi sang joni sudah menggeliat di bawah sana.


...****************...


Erland dan Juan tidur satu kamar, di atas kasur lantai yang lebar, mereka membaringkan badan dengan posisi berjauhan.


"Kenapa harus memilih tidur denganku?" protes Erland, tidak tau apa menahan hasrat itu sangat menyiksa.


"Ya terus aku harus tidur dengan siapa? Masa dengan Diana!"


Erland langsung bangkit dari tidurnya, "Wah wah awas saja kalau macam-macam sama adikku."


"Tapi Diana lebih suka memanggil kamu om."


"Apa aku terlihat tua ya sampai dipanggil om?"


"Emang. Yang harusnya jadi kakak itu kamu bukan aku."


"Tapi lahirnya lebih duluan kamu dari pada aku."


"Hanya beda jam saja."


"Hmm.... Rasanya aku tidak bisa tidur malam ini." Juan memperhatikan kamar yang dia tempati bersama Erland.


Setelah saling berdebat, akhirnya malah Juan yang tidur duluan. Erland tidak bisa tidur karena Juan tidurnya tidak bisa diam, bahkan malah beberapa kali menendang dirinya. Di tambah dia ngorok begitu berisik.


"Aish... bagaimana bisa aku tidur kalau begini." keluh Erland.

__ADS_1


Erland memilih keluar dari kamar, dia memutuskan untuk mencari angin. Namun dia melihat ada Eliana sedang berada di dalam mobil. Padahal hanya beberapa jam tidak bertemu tapi rasa rindu itu begitu menggebu.


Erland segera masuk ke dalam mobil, "El..."


Rupanya ada Diana juga disana. Padahal dia ingin sekali menerkam Eliananya.


"Sedang apa kalian disini?"


Diana yang menjawab "Aku mau belajar menyetir mobil kak, kebetulan kalau di daerah sini kalau malam sangat sepi jadi bisalah kak El mengajari aku menyetir mobil."


"Hm... ini sudah malam. Lebih baik kamu tidur gih. Besok sekolah." Erland malah mengomel.


"Ish... hanya sebentar." Diana malah mencibir.


"Gak boleh, ini sudah jam 10 malam. Cepat tidur."


Eliana hanya terkekeh melihat Erland dan Diana berantem.


Diana terpaksa mengalah, "Ya udah, ayo kak El kita tidur sambil melanjutkan lagi cerita yang tadi."


"Eliana tetap disini, ada yang harus aku bahas sama dia."


"Bahas apa ya?" Eliana tidak mengerti.


"Nanti aku jelaskan." Erland sudah tidak bisa menahan gairahnya. Dia harus menuntaskannya malam ini. Bisa-bisa kepalanya akan pusing jika tidak tersalurkan.


Diana terpaksa meninggalkan Eliana dan Erland di dalam mobil, "Ya udah aku duluan kak."


"Apa yang ingin kita bahas?"


"Praktek biologi." Erland segera menguci pintu.


"Praktek Biologi?"


Erland merangkul tubuh Eliana, memposisikan Eliana duduk di pangkuannya, menghadap dirinya. "Aku menginginkan kamu malam ini El. Boleh kan?"

__ADS_1


__ADS_2