
Hari sudah mulai sore, setelah dari rumah Bu Darmi, Erland mengajak Eliana berkencan dengannya, dia membawa Eliana pergi ke pantai, kedua orang yang sedang dimabuk cinta itu sedang menikmati keindahan pantai, membiarkan kaki mereka basah terkena air ombak.
Erland tak pernah mau melepaskan gengaman tangannya, dia masih setia menggenggam tangan Eliana, padangannya tak bisa lepas dari wajah cantik sang istri, selalu saja membuatnya terpesona.
"El..." Tiba-tiba Erland menghentikan langkahnya.
Dan Eliana pun ikut berhenti, dia menatap kedua mata Erland, pria itu terlihat menatapnya dengan begitu dalam, "Kenapa?"
"Aku mencintaimu." Erland baru sadar dia belum menyatakan perasaannya pada Eliana.
Eliana tersenyum manis, dia bahagia sekali mendengar pernyataan Erland soal perasaannya, "Aku juga mencintaimu." Eliana memang tidak tahu mengapa dia bisa mencintai Erland sementara dia tidak bisa mengingat kenangannya bersama Erland, tapi hatinya lah yang selalu bergetar setiap bersama Erland.
Erland tersenyum bahagia mendengar jawaban dari Eliana, dia harap saat ingatan Eliana kembali, Eliana masih mencintainya. Terlebih lagi dia harap Eliana tidak meninggalkannya jika tau kenyataan dia anak dari orang yang sangat dia benci.
"Apapun yang terjadi aku harap aku bisa selalu bersama dengan kamu." Erland menyentuh wajah Eliana, dia menyatukan kedua bibir mereka.
Kebetulan suasana pantai begitu sepi, membuat mereka begitu menikmati ciuman mereka. Rasanya tidak puas hanya berciuman saja karena sudah tau rasa yang lebih menggairahkan dari itu, sampai akhirnya mereka kini berada di hotel yang ada di dekat pantai itu.
Saat baru memasuki kamar hotel, Erland dan Eliana melanjutkan ciuman mereka yang sempat terjeda. Suara nafas dan surat cecapan di setiap ciuman mereka terdengar begitu liar, Erland membuka gaun yang dipakai Eliana, begitu pun Eliana membuka kancing kemeja Erland. Sampai mereka benar-benar polos.
Erland mengunci tubuh Eliana di dinding kamar hotel, mencium bibirnya dengan begitu brutal, sementara tangannya terus menelusuri di setiap inci tubuh indah Eliana, hingga jemari itu mulai bergerak dibawah sana.
__ADS_1
Eliana meremang, dia memeluk punggung Erland, tatto di dada Erland membuat pria itu terlihat sangat gagah, dia baru menyadari ada beberapa bekas luka di tubuh pria itu, dulu Erland pasti sering terluka. Eliana menciumi bekas luka di bahu Erland.
"Aaahhh..." Eliana mendes@h begitu Erland mempercepat ritme jemarinya, terus bergerak liar di bawah sana, rasanya begitu menggila, membuatnya melayang bebas ke angkasa.
Eliana semakin tak kuasa begitu merasakan lidah Erland mulia bergerak dibawah sana, pria itu rupanya tau caranya untuk memuaskan wanita, bahkan Eliana terus dibuat mendes@h dan mendes@h, dia menekan kepala Erland begitu sampai menuju pelepasannya. "Aahh... Err...ahhhh..."
Erland berdiri kembali, dia mengangkat satu kaki Eliana, tanpa menunggu lama dia membenamkan sang burung ke dalam sangkarnya. Eliana sedikit meringis, dia memeluk punggung Erland yang terus bergerak menghantam dirinya.
Erland mempercepat gerakannya, dia mengangkat tubuh Eliana yang masih bersandar di dinding, turun naik begitu indah. Lalu membawa Eliana ke sofa, dia membiarkan Eliana yang bergerak sesuka hatinya.
Eliana bergerak dengan begitu menggoda, Erland menyambar kedua melon kenyal favoritnya, menghisapnya secara bergiliran.
Sekitar pukul 8 malam mereka memutuskan untuk menghentikan aktivitas panas mereka. Erland dan Eliana makan malam dulu sebelum pulang ke mansion.
"Bagaimana pertemuan pertama kita?" Tiba-tiba Eliana menanyakan itu.
Erland tidak mungkin jawab yang sejujurnya bahwa mereka bertemu pertama kali di gudang tempat penculikan, mungkin akan membuat Eliana shock. Tapi dia juga tidak ingin berbohong padanya. "Saat kita masih kecil, aku pernah menolong kamu, pokoknya aku adalah pangeran buat kamu."
"Wah benar kah? Memangnya aku kenapa saat itu?"
"Hmm... ceritanya panjang sekali biar nanti aku ceritakan lebih detailnya." Erland mencoba mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana kalau kita liburan ke Prancis minggu depan?" tanya Erland, lagi lagi pandangan matanya tak bisa lepas dari Eliana.
__ADS_1
"Boleh, sudah aku bilang aku akan ikut kemana pun kamu pergi." jawab Eliana.
"Bagaimana kalau aku mati? Kamu tidak boleh ikut pergi, mungkin saja nanti ada bayi kita disini, kenangan dariku." canda Erland sambil mengelus perut Eliana.
"Jangan bilang begitu. Itu bukan sebuah candaan." Eliana mencibir, dia tidak suka dengan candaan Erland, baginya Erland adalah dunianya, apalagi dia tidak ingat siapapun saat ini, hanya Erland yang selalu ada dipikirannya.
Erland hanya terkekeh, dia mencium pucuk kepala Eliana, wanita itu selalu membuatnya gemas.
Setelah selesai makan malam, mereka pun masuk ke dalam mobil di basement hotel, Erland melihat Eliana seperti sedang mencari sesuatu.
"Ada apa?"
"Sepertinya kalung aku ketinggilan di dalam, biar aku bawa." Eliana tidak ingin kehilangan kalungnya karena kalung itu adalah pemberian dari sang papa. Walaupun dia belum bisa mengingatnya, tapi dia mengetahui itu dari Miss Bona. Dari dulu Eliana tidak pernah melepaskan kalung itu.
"Ya sudah kamu tunggu disini, biar aku yang bawa." Erland segera keluar dari mobilnya, lalu berjalan menuju lift.
Eliana memilih menunggu Erland di luar mobil, dia duduk di depan mobil sambil menyilangkan tangannya, dia mendengar suara langkah seseorang di belakangnya, dia tersenyum, dia pikir itu suara langkah Erland.
"Er..." Eliana nampak terkejut begitu melihat orang yang ada dibelakangnya, rupanya bukan Erland, melainkan seseorang yang tatapannya begitu mengerikan, wajahnya nampak tidak asing baginya.
"Kita ketemu lagi nona manis." Pria itu cekikikan.
__ADS_1