
"Bukan kah masyarakat disana sangat menentang kita untuk meniadakan hutan itu? Bagaimana pun juga hutan disana adalah paru-paru bagi masyarakat disana, walaupun memang hutan itu sudah menjadi milik kita." ucap Erland dengan santai.
Eliana tidak mengerti konsep apa yang akan dijalankan oleh Erland tanpa harus menebang semua pohon disana.
"Bagaimana kita bisa membangun hotel jika kita tidak menebang semua pohon disana?" protes salah satu staf disana.
Tuan Mario hanya terkekeh karena tidak mengerti dengan idenya Erland.
"Kita akan membangun sebuah green forest, sebuah hotel di dalam hutan tanpa perlu meniadakan hutannya, tapi hutan itulah yang menjadi pemandangan yang indah untuk hotel kita." Erland mencoba menerangkan idenya. Bahkan dia menujukan contoh bentuk hotel yang dia maksud.
Erland menunjukan sebuah gambar di white bor digital.
"Ini adalah contoh konsep salah satu kamar hotel dengan konsep green forest, biarkan para pengunjung merasakan suasana indahnya hutan dengan nyaman. Dan kita bisa membuat kaca ini menjadi gelap jika pengunjung membutuhkan privasi."
Semua orang yang ada di meeting room terperangah dengan konsep yang di tunjukkan oleh Erland.
"Maksudnya kita membuat hutan wisata?" tanya Juan, dia berusaha untuk mencerna apa yang di terangkan oleh Erland.
"Ya semacam itu, selain hotel, kita bisa membuat tempat menarik yang bisa dikunjungi, seperti pemandian air panas, gardu pandang, tempat untuk berkemah, tempat untuk syuting film, dan tempat-tempat indah untuk foto spot. Biarkan hutan tetap seperti itu tanpa perlu merusak keindahannya. Aku yakin masyarakat disana akan setuju jika kita menerapkan konsep green forest ini tanpa perlu menebang semua pohon disana. Bahkan hotel kita akan terkesan unik dan menarik."
Eliana tersenyum penuh rasa takjub memandangi Erland, dia memang yakin Erland adalah pria yang cerdas, karena itu dia tidak akan salah memilih Erland untuk menempati posisi manager lapangan itu.
"Aku rasa aku setuju dengan konsep seperti itu." kata salah satu staf disana.
__ADS_1
"Ya aku juga sangat setuju." Orang-orang disana setuju dengan konsep hotel yang di usulkan oleh Erland.
Tuan Mario hanya mengepalkan tangannya memandangi Erland, rupanya dia salah menilai Erland, ternyata Erland juga bisa membahayakan dirinya di perusahaan ini.
Setelah meeting selesai, Erland merebahkan badannya di atas kursi sofa sambil memandangi pesan dari Chelsea, dia belum tau harus membalas apa, Erland menyimpan ponsel di atas meja. Dia tidak terbiasa bekerja kantoran seperti ini, rasanya sangat ngantuk.
Eliana masuk ke dalam, dia masih penasaran dengan konsep yang Erland terangkan tadi, darimana Erland mendapatkan ide seperti itu.
"Erland!" Eliana mendengus begitu melihat Erland yang malah tertidur di kursi sofa.
"Astaga! Bagaimana bisa kamu tiduran disini? Cepat bangun!" Eliana membangunkan Erland, memukul-mukul lengan Erland dengan pelan.
Eliana tersentak kaget saat Erland tiba-tiba menarik tangannya sehingga dia terjatuh dan menindih tubuh Erland.
Erland malah merubah posisi Eliana menjadi di bawahnya, Eliana mematung begitu melihat Erland tersenyum menatap kedua matanya.
"Apa kamu sudah mempersiapkannya?" tanya Erland, dia menahan tawa melihat Eliana yang wajahnya memerah, rupanya dia tau salah satu kelemahan Eliana sekarang.
"Mem-mempersiapkan apa?" Eliana pura-pura tidak mengerti.
"Nanti malam, aku ingin melihat bagaimana cara kamu menggodaku lagi."
Eliana menelan saliva dibuatnya, memandangi Erland yang berada di atas tubuhnya. Padahal di kantor dia ingin bersikap tegas dan berwibawa di depan siapapun, tapi dia tidak bisa selalu bersikap seperti itu di depan Erland.
"Ten-tentu saja, aku yakin kamu tidak tahan dengan pesonku!" Eliana terus berusaha bersikap tenang.
__ADS_1
"Baik, ayo kita lihat siapa yang tidak tahan lebih dulu. Mungkin saja kamu yang tidak tahan dengan pesonaku dan memintaku untuk menyentuhmu." Erland mengatakannya dengan penuh rasa percaya diri. Dia berniat hanya untuk menggoda Eliana saja, dia ingin tau apa Eliana berani menggodanya lagi atau tidak.
Dulu Erland menganggap sikap Eliana menakutkan, tapi entah mengapa dia menjadi gemas melihat Eliana yang berusaha terlihat kuat di depan semua orang dengan memperlihatkan sikap dingin dan arogannya.
"Jangan terlalu percaya diri, aku mampu membuat kamu jatuh cinta padaku. Kamu akan tersiksa pada akhirnya." Eliana malah tersenyum dengan manis. Bahkan senyuman itu tidak pernah Eliana perlihatkan selama Eliana di kantor.
Apa senyuman itu khusus untuk dirinya saja, pikir Erland. Erland menjadi takut bagaimana kalau ucapan Eliana benar, dia tidak boleh jatuh cinta pada Eliana, gadis arogan itu.
Erland memutuskan untuk bangkit, namun tiba-tiba Eliana mengalungkan kedua tangannya dileher Erland.
"Kenapa? Kamu tidak tahan dengan pesonaku? Bahkan aku rasa dibawah sana ada yang mulai berontak!" Eliana tersenyum meledek.
Ya Eliana merasakan ada yang menusuknya di bawah sana.
Erland terdiam memandangi Eliana sampai pandangan mereka berdua terkunci.
Saling menatap.
Entah bisikan setan dari mana, Erland jadi ingin merasakan bibir itu, bibir Eliana sungguh menggoda imannya, dengan perlahan dia menundukkan kepalanya untuk menyatukan kedua bibir mereka.
Ceklek!
Tiba-tiba ada yang membuka pintu ruangan itu.
Rupanya dia Chelsea, dia sengaja datang kesana untuk menyampaikan menu barunya di restoran tempat dia bekerja.
__ADS_1