
Beberapa hari berlalu setelah keberangkatan Juan ke Amerika...
Tuan Mario memilih menyerahkan dirinya sendiri ke kantor polisi, membuat para polisi disana sungguh tidak percaya dengan keberanian Tuan Mario yang datang ke kantor polisi untuk menyerahkan dirinya sendiri dan mengakui semua kejahatann yang telah dia lakukan.
Erland yang mengetahui kabar tersebut, dia segera pergi ke kantor polisi untuk bertemu papanya tapi ternyata Tuan Mario menolak untuk bertemu siapapun.
"Tolong izinkan aku bertemu dengan papa sebentar." Pinta Erland dengan nada memohon.
"Mohon maaf, anda tidak bisa bertemu dengannya. Pak Mario menolak untuk dikunjungi siapapun."
Sejahat-jahat seorang Mario, tapi tetap saja di hati Erland dia adalah papanya walaupun dia orang yang telah membuatnya hampir mati tapi dia juga yang membuat dirinya bertahan hidup dengan Tuan Mario mendonorkan darahnya.
"Pak Mario menitipkan surat ini kepada anda." Polisi itu memberikan 5 surat yang sudah dia namai sendiri yaitu untuk Eliana, Bu Darmi, Erland, Juan, dan nyonya Vera.
Setelah berada di dalam mobil, Erland membaca suara dari sang papa untuknya.
Maafkan papa jika kita harus bertemu dalam situasi seperti ini. Sejujurnya papa tidak akan memaafkan diri papa sendiri karena telah melukai kamu, anakku.
Mulai sekarang jalani lah hidup yang penuh bahagia bersama Eliana dan anak kalian nanti. Papa titipkan mama padamu.
Jangan menyalahkan diri kamu sendiri mengenai hukuman apa yang papa dapatkan nanti karena sejujurnya papa pernah berniat untuk mengakhiri hidup papa saat di paviliun itu.
Papa pantas mendapatkan ganjaran yang berat.
Papa sangat menyayangimu, Erland. Terimakasih kerena kehadiran kamu membuat papa sadar dan ingin berubah menjadi orang yang lebih baik.
Tanpa terasa Erland menitikan air matanya, dia meletakkan surat itu ke dadanya yang terasa sesak. Bagaimana pun Tuan Mario sangat bersalah, telah menghilangkan banyak nyawa, dia memang harus mendapatkan ganjaran atas apa yang telah dilakukan olehnya.
Erland berharap dia bisa berkumpul dengan Tuan Mario dalam keadaan dia sudah menjadi orang yang lebih baik dan menyesali perbuatannya.
Surat itu pun akhirnya telah Erland berikan kepada Eliana, Bu Darmi, dan nyonya Vera. Sebuah surat permohonan maaf untuk mereka. Dan mengirim surat untuk Juan ke Amerika.
...****************...
Dua bulan kemudian...
Tuan Mario telah dijatuhi hukuman seumur hidup atas apa yang telah dia lakukan. Dan akhirnya dia bisa menerima kunjungan, nyonya Vera dan Erland sering berkunjung untuk menemuinya.
Dan hari ini giliran Eliana yang ingin menemui mertuanya.
Selama belasan menit tak ada satu patah katapun yang terucap dari bibir mereka.
Akhirnya Tuan Mario memberanikan diri untuk bicara duluan. "Bagaimana kabarmu El?"
Eliana menjawabnya dengan begitu canggung. "Kabar aku baik om, om sendiri?"
Tuan Mario tersenyum tipis, "Ya om juga baik-baik saja. Om dengar kamu sedang mengandung, semoga bayimu sehat."
__ADS_1
"Iya, terimakasih om."
"Om tau kamu datang kesini untuk menghargai suami kamu, Erland. Tapi jangan pernah memaafkan om. Kesalahan om terlalu besar."
Eliana hanya diam, matanya berkaca-kaca mendengarnya.
"Tapi Erland tidak ada kaitannya dengan kesalahan om. Om harap kamu dan Erland bisa hidup bahagia tanpa dibayang-bayangi atas kejahatan yang pernah om lakukan. Om akan siap menerima semua hukuman yang telah om lakukan, sekalipun itu hukuman mati."
...****************...
Setelah bertemu dengan Tuan Mario, Eliana menemui Erland yang sedang menunggunya di Green Forest. Proyek yang telah Erland selesai kan dengan baik. Karena itu Erland dan Eliana sudah satu bulan tidak bertemu, pastinya ada rasa yang begitu menggebu di dalam dada.
Eliana di antar sopirnya kesana. Eliana melihat ada Erland yang sedang menunggunya di gerbang selamat datang. Eliana keluar dari mobil dia setengah berlari berhambur memeluk Erland.
"Aku sangat merindukan kamu." Eliana memeluk Erland dengan erat.
"Apalagi aku, aku hampir tidak bisa tidur memikirkan kamu."
Rasanya begitu bahagia telah bertemu kembali dengan orang yang dicintai.
Erland berjongkok dia menciumi perut Eliana, "Aku sangat merindukan bayi kita juga."
Tidak cukup satu hari untuk menikmati keindahan Green Forest ini, karena itu hari ini Erland membawa Eliana hanya kebeberapa tempat saja dulu.
Pertama, mereka harus menyebrangi jembatan gantung dulu.
Sampai akhirnya mereka sampai di tempat Gardu Pandang, disana mereka bisa melihat semua pemandangan Green Forest dari atas.
"Wah!" Eliana begitu takjub melihat keindahan Green Forest di atas sana, sampai bingung harus mengucapkan kata apa lagi.
"Aku harap banyak yang menyukai Green Forest." ucap Erland sambil memeluk Eliana dari belakang.
Mereka berciuman diatas sana sebentar.
Sore harinya, mereka mandi bersama di pemandian air panas.
Mereka malah sibuk saling bercanda dan saling melempar air sampai akhirnya Erland berhasil menangkap Eliana, mencium bibirnya dengan begitu gemas.
Eliana mengalungkan tangannya ke leher Erland , memperdalam ciuman.
Erland sudah tak tahan lagi menahan hasrat yang dia pendam selama satu bulan,dia langsung menggendong Eliana, membawanya masuk ke dalam bubble hotel. Dia mengatur kaca disana agar tidak kelihatan dari luar, walaupun mereka bisa melihat dari dalam. Erland membaringkan tubuh Eliana di atas kasur.
__ADS_1
Mereka sudah satu bulan tidak bertemu karena Erland sibuk dengan pembangunan Green Forest ini, pastinya sore ini mereka menumpahkan segala kerinduan di dalam bubble hotel sana, sensasinya sangat berbeda karena seakan mereka sedang bercinta di alam terbuka.
"Aku cinta kamu El." ucap Erland seraya mengecup bibir Eliana yang berada dibawah kungkungannya.
"Aku juga mencintaimu Erland."
"Mari kita menua bersama. Aku janji aku akan selalu membuat kamu bahagia."
Eliana menganggukan kepalanya, dia mencium bibir Erland. Merekapun melanjutkan aksi panas mereka yang begitu sangat bergairah.
...TAMAT...
...****************...
...SEMALAM DENGAN ISTRIMU...
Viona terbangun dari tidurnya, dia merasakan kepalanya sedikit pusing, Viona memegang kepalanya, "Shhh...Ahh!"
Ketika Viona ingin bangkit, dia baru menyadari ada tangan kekar melingkari perutnya dari belakang, membuat dia tidak bisa berkutik.
Viona tersenyum-senyum begitu menyadari dirinya tidak berpakaian, hanya ditutupi selimut saja. Rupanya dia harus mabuk dulu baru Satria mau melakukannya, itu lah yang ada dipikiran Viona. Viona memang menginginkan kehadiran seorang anak, makanya dia berusaha menggoda Satria, bukan hanya karena hasrat semata. Tapi ternyata Satria belum siap juga untuk memiliki seorang anak.
Viona segera membalikan badannya, dia ingin mencium Satria, "Mas, apa aku harus mabuk dulu makanya kamu..."
Viona tidak melanjutkan perkataannya begitu melihat siapa pria yang telah memeluk dirinya, dia melihat Daniel yang masih memejamkan matanya, pria itu walaupun masih tertidur masih saja sangat tampan. Tapi bukan itu yang ingin di bahas Viona, yang Viona permasalahan mengapa dia bisa berada dalam satu kamar bersama Daniel.
Ini pasti salah lihat, mungkin karena aku semalam bertemu Daniel makanya masih kebayang wajah dia.
Hati Viona mengatakan itu sambil mengucek-ngucek matanya berharap wajah Daniel itu berubah menjadi wajah Satria, namun sialnya wajah tampan Daniel malah terlihat begitu jelas.
Viona memperhatikan keseliling kamar tersebut, kamar itu nampak asing, dan dia melihat ada foto Daniel di atas nakas membuat Viona menutup mulutnya sendiri dengan tangannya agar tidak menjerit.
Oh Tuhan, sepertinya ini kamar Daniel. Apa yang terjadi denganku semalam
Lempar no hapenya buat 18 orang kakak ini yang memiliki gelar fans, ada pulsa 20k buat kalian. 😁
trimakasih atas giftnya. Semoga ada rezekinya di novel lain buat reader lainnya.🙏😁
Terimakasih atas dukungannya semuanya 🙏😁
__ADS_1