
"Aku..." Eliana mengatakannya dengan berat hati, "Aku adalah anak yang kamu tolong 13 tahun yang lalu."
Erland terperangah mendengarnya, melebarkan pandangannya menatap Eliana, rasanya sungguh mengejutkan, bagaimana mungkin anak gadis yang dia tolong 13 tahun yang lalu itu Eliana? Orang yang sempat dia cari keberadaannya rupanya ada disini, di dekatnya, bahkan kini telah menjadi istrinya.
"Ja-jadi kamu..." Erland mengerutkan keningnya, menatap Eliana dengan tatapan penuh rasa kebingungan. Jantung yang begitu tersentak, tak mempercayai dengan apa yang dia dengar dari Eliana.
Gadis yang dia cari ternyata ada di depan matanya.
"Jangan salah paham. Aku mengatakannya bukan ingin dikasihani oleh kamu, aku hanya ingin menepati janjiku saja, aku pikir aku akan bertemu dengan sosok pangeran yang begitu keren." Eliana mengatakan sambil tersenyum samar.
Erland menghela nafas, "Apa menurut kamu aku tidak keren? Aku juga sama, aku pikir kamu akan tumbuh menjadi gadis yang cantik dan manis, tapi ternyata malah seperti macan betina."
Eliana mendengus kesal, dia menemplokan telapak tangannya dengan keras ke jidat Erland.
Plokk!
"Arrrggghhh!" Erland meringis, dia terbangun memegang jidatnya.
"Kamu sudah merusak moodku, lebih baik kamu tidur di sofa!" Eliana malah mengusir Erland. Dia tidak suka jika Erland terus menyebutnya macan betina.
"Akan ku tunjukkkan macan betina yang sesungguhnya!" Eliana mengatakannya sambil terduduk menatap sangar pada Erland.
Erland tercengang mendengarnya, dia tidak terima dengan ucapan Eliana, bagaimana bisa Eliana mengusirnya sementara sang junior sudah berdiri menantang. Padahal dia lebih memilih mendatangi Eliana dibandingkan dengan Chelsea.
"Bukannya malam ini kita..." Erland tidak meneruskan perkataannya begitu melihat Eliana menatap sangar padanya.
__ADS_1
"Oke, oke, aku akan tidur di sofa. Tapi apa kamu tidak ingin mempercepat kehamilan kamu itu?"
"Lain kali saja."
Erland mengumpat pada dirinya sendiri, padahal dia tau sifat Eliana bagaimana, mengapa harus membuatnya marah. Erland segera berdiri, dia pindah duduk di kursi sofa dengan bibirnya yang sedikit manyun karena tidak mendapatkan jatah malam ini.
Erland memperhatikan Eliana yang sedang berganti baju, jakunnya naik turun begitu melihat dia yang hanya memakai pakaian dalam saja, begitu mulus dan moleknya tubuh gadis itu, Erland meneguk saliva dengan susah payah. Sialnya Eliana memakai lingerie yang begitu menggoda.
Erland benar-benar termakan ucapannya sendiri, dia jadi ingin sekali menyentuh gadis itu.
"El!"
"Hm?"
"Sejak kapan kamu tau bahwa aku yang menolong kamu?"
"Mengapa baru bilang sekarang?"
"Mengapa aku harus bilang padamu? Bukannya aku tidak ada artinya juga di hidup kamu, kamu dan mantan kamu itu berpacaran sangat lama, pastinya tidak mungkin kamu ingin mengetahui tentang aku." Eliana mengatakannya dengan nada kecewa, dia merasa hanya dia yang mencari Erland selama ini.
Erland terdiam, dia rasa Eliana tidak akan mempercayainya jika dia bilang bahwa dia pernah berusaha mencari keberadaan Eliana, tapi satu hal yang pasti dia sangat lega sekali karena akhirnya bisa bertemu lagi dengan Eliana, anak yang dia tolong 13 tahun yang lalu, mungkin bisa dibilang cinta pertamanya. Walaupun dia tidak tau bagaimana perasaannya pada Eliana saat ini.
Eliana tersenyum puas melihat Erland yang merana seperti itu, dia tau pasti Erland sangat kesusahan sekali menahan hasratnya malam ini.
Eliana menguap merasakan ngantuk, dia menutup mulutnya dengan tangan, "Huamm...."
__ADS_1
"Aku tidur duluan. Bye!" Eliana tersenyum dengan tatapan meledek pada Erland.
Namun Erland tidak terima, dia sudah tidak tahan dengan segala godaan yang Eliana perlihatkan padanya.
Tiba-tiba Erland berdiri menghampiri Eliana, Eliana terkejut dibuatnya. Kedua tangannya melingkari pinggang Eliana, membuat Eliana merasakan ada yang menusuknya dibawah sana.
Erland memandangi Eliana dengan nafas terengah-engah, menahan naf5u yang begitu menggebu "Kamu tidak boleh tidur dulu. Aku menyerah, aku ingin melakukannya malam ini dengan kamu. Hanya ingin dengan kamu."
Eliana tidak diberi kesempatan untuk bicara karena Erland langsung menyambar bibirnya dengan begitu rakus, membuat Eliana hampir kehabisan nafasnya, dia memukul-mukul dada Erland. Eliana tidak ingin mati gara-gara ciuman.
"Emmmhhh....emmmhh..."
Erland melepaskan ciumannya, memberi kesempatan pada Eliana untuk mengambil nafas, dia mencium pundak Eliana sambil membuka lingerie yang dipakai Eliana, sampai lingerie itu berhambur ke lantai. Hingga tersisa pakaian dalam saja.
Erland mencium kembali bibirnya Eliana, lidahnya menjelajahi di setiap sudut bibir manisnya Eliana, membuat Eliana terbuai dengan pergerakan lidah Erland. Entah sejak kapan Eliana mulai membalas ciuman Erland, saling membelitkan lidah mereka beradu dengan begitu mesra, bahkan Erland menekan tengkuk Eliana, ingin merasakan ciuman mereka semakin dalam dan menggairahkan.
Tangan Erland mulai bergerak membuka pengait bra yang menutupi dua bongkahan indah di dada Eliana. Sampai bra itu terjatuh ke lantai.
Erland melepaskan ciuman, dia memandangi dua bulatan yang begitu indah di dada Eliana, begitu menggairahkan apalagi melihat nippl3 nya masih berwarna merah jambu, rupanya Eliana memiliki ukuran buah dada yang lumayan besar.
Eliana kelihatan malu sekali saat Erland memandangi dadanya, tapi dia tidak ingin terlihat gugup, dia malah melingkari leher Erland sambil tersenyum menggoda, begitu terlihat jelas dua bulatan indah di dada Eliana, sangat menggodanya.
Erland menundukkan kepalanya dengan perlahan menghisap bagian pucuknya, membiarkan lidahnya terus menari-nari di atas sana, Eliana terbelalak merasakan sensasinya saat Erland mengisap dengan kuat bagian puncaknya, apalagi saat merasakan lidah bergerilya membuat nippl3nya mengeras. Erland semakin rakus memainkan dua bongkahan yang sangat indah itu.
Bahkan tangan Erland tidak mau kalah, dia mulai mer3mas-r3mas dengan lembut buah dada Eliana yang satu lagi.
__ADS_1
"Ahhh... Er!" Eliana mend3sah dengan begitu manja, membuat api bir@hi semakin berkobar. Bahkan Eliana memeluk kepala Erland, dia sangat menikmati disetiap gerakan lidah yang memainkan nippl3nya bahkan Erland semakin rakus menghisap dada Eliana, meninggalkan jejak kemerahan di setiap bulatan yang indah, putih, dan mulus itu.