Terjerat Hasrat Ceo Cantik

Terjerat Hasrat Ceo Cantik
69


__ADS_3

Percintaan pagi ini sungguh menguras tenaga dan memakan waktu berjam-jam, karena itu mereka ingin mengisi tenaga mereka dengan masakan lezat Bu Darmi, Erland sangat merindukan keluarganya.


Kedatangan mereka disambut dengan hangat oleh Bu Darmi, Diana, dan ayah Redi. Mereka sudah tau kondisi Eliana yang amnesia, Erland sendiri yang menceritakannya.


"Ya ampun pelan-pelan kali kak makanya nanti tersendak lho." ucap Diana yang duduk bersama Eliana dan Erland, dia memperhatikan Erland yang makan dengan begitu lahap. "Kayak habis pulang bertarung aja."


"Lah emang ini habis bertarung." jawab Erland sambil makan.


Eliana memelototkan matanya begitu mendengar pengakuan Erland. Pipinya merah merona memikirkan bagaimana dia dan Erland bercinta, ah pokoknya pria itu membuat dia mabuk kepayang.


"Wah bukannya kakak janji ya gak akan mengikuti pertarungan bebas lagi, aku kasih tau ibu ya." Diana segera bangkit dari duduknya namun di tahan Erland. Diana pikir pertarungan yang Erland lakukan itu adalah tarung bebas diatas ring padahal nyatanya pertarungan di atas kasur.


"Eh...jangan! Jangan!" Erland menahan tangan Diana.


Eliana hanya tersenyum melihat interaksi Erland dan Diana yang memang kadang sering bertengkar tapi saling mengasihi selayaknya kakak dan adik.


Erland memperhatikan tangan Diana yang terluka walaupun luka itu sudah mengering, "Tangan kamu kenapa dek?"


Malah Bu Darmi yang menjawab, dia mengantarkan salad buah untuk cuci mulut anak dan menantunya, dia duduk bergabung dengan mereka, "Katanya habis ke senggol seorang pangeran."


"Ish... pangeran apaan, pangeran kodok. Belajar yang bener, biar nanti kamu bisa masuk ke Universitas yang paling bagus." Memang ada saatnya Erland mengomel selayaknya seorang kakak pada Diana.


"Ya ampun, adek kamu sudah gede wajar kalau ada ketertarikan sama cowok." Eliana malah membela Diana.


"Nah iya benar apa kata kak Eliana, bahkan disekolah aku banyak sekali yang naksir aku kak, tapi mereka takut deketin aku gara-gara aku sering di antar sekolah sama kak Erland, penampilannya kayak preman gitu." Diana malah curhat pada Eliana.


Eliana hanya tersenyum, sebenarnya dia baru tau Erland pernah mengikuti pertarungan bebas, karena dia sama sekali tidak mengingat apapun di masa lalu.


Erland melihat ada paper bag di atas meja dekat Diana, "Wah apa ini?"


"Ish...ini masakan ibu buat teman aku, kebetulan aku mau berkunjung ke rumah teman." Diana mengatakan itu sambil berdiri, dia tau Erland pasti bakal banyak tanya mengenai teman yang dia maksud.


"Nah iya dari pagi Diana sudah menyiapkan makanan itu." Bu Darmi ikut menjawab.


Erland curiga masakan itu untuk pacarnya Diana, bukan melarang pacaran, Erland ingin Diana fokus belajar apalagi saat ini Diana sudah kelas tiga SMA. Namun sebelum dia berkata lagi Diana malah buru-buru pergi.


"Hmmm.... ya udah, aku pergi dulu ya. Daahhh." Diana mengatakannya sambil setengah berlari membawa paper bag yang berisi makanan itu.


Diana mencoba untuk menelpon Juan. Kebetulan hari ini Juan pindah rumah, dia ingin tinggal di apartemen karena dia tahu perlahan akan terbongkar semuanya tentang jati dirinya, dia tidak mengharapkan apapun selain Eliana. Dia sangat merindukan kedekatan dia bersama Eliana, namun Eliana malah menjauhinya setelah kecelakaan tuan Adnan.


Juan memandangi audio recorder yang diberikan asisten Ken padanya, di dalamnya banyak percakapan Tuan Mario bersama Asisten Ken mengenai semua kejahatan yang Tuan Mario lakukan, bahkan ada sebuah baju yang bernodakan darah, Asisten Ken bilang baju itu yang pernah digunakan Tuan Mario saat membunuh ayahnya orang yang telah menculik Erland, dulu saat masih muda Tuan Mario begitu bringas, mampu membunuh dengan tangannya sendiri.


Asisten Ken berpihak padanya karena Juan telah berjasa terhadap keluarganya. Juan belum ingin menyerahkan semua itu pada polisi, dia ingin melihat Tuan Mario hancur sehancur-hancurnya.


Drrrttt...Drrrttt...


Beberapa kali ponsel Juan bergetar, padahal dia malas sekali untuk mengangkat panggilan telepon dari nomor tidak dikenal, tapi karena sudah ada 5 panggilan tidak terjawab , Juan terpaksa mengangkatnya. "Hallo, dengan siapa ini?"

__ADS_1


"Hallo om, aku orang yang hampir om tabrak itu, masih ingatkan?" terdengar suara seorang gadis di sebrang sana.


Juan menghela nafas begitu mengetahui siapa yang menelponnya tapi dia terpaksa harus menanggapinya karena dia memiliki hutang pada gadis itu "Ya, lalu?"


"Aku ingin bertemu dengan om, Kira-kira dimana ya?"


Juan terpaksa menyuruh Diana untuk datang ke apartemennya karena dia baru pindahan, masih sibuk membereskan barangnya. "Datang saja ke apartemenku, nanti aku kirim alamatnya."


Setengah jam kemudian, Diana sudah sampai di apartemen Juan, dia duduk di ruang tamu bersama Juan.


"Mau apa kamu ingin bertemu denganku? Apa kamu akan meminta ganti rugi?" tanya Juan dengan nada ketus memandangi Diana.


Kalau bukan karena Bu Darmi, Diana juga malas bertemu dengan pria sombong itu, walaupun ya dia akui Juan begitu tampan membuat dia hampir terpana. "Aku sudah memutuskan, aku ingin om membayar ganti rugi bukan dengan uang..."


"Lalu dengan apa?" potong Juan.


"Aku memiliki tiga permintaan."


Juan mengerutkan dahinya, dia menghela nafas, begini lah nasibnya jika berurusan dengan bocil. "Hmm... apa permintaannya?"


"Aku ingin om fokus dulu ke permintaan aku yang pertama. Aku ingin makan bersama om," Diana mengeluarkan semua makanan buatan Bu Darmi yang ada di dalam paper bag.


Entah karena belum makan atau karena capek habis membereskan barang, aroma makanan itu begitu menggoda, tapi Juan berusaha untuk bersikap elegan di depan anak kecil itu, "Tapi aman kan makanannya?"


"Amanlah, ibuku memasaknya dengan penuh cinta, walaupun dia bukan ibu kandungku tapi aku sangat menyayanginya."


"Ayo kita makan om." Suruh Diana, dia mengedipkan matanya sambil tersenyum manis, gadis itu memang terlihat ceria sekali.


Juan mencoba untuk mecicipinya, ternyata rasanya sangat enak, Juan nampak menikmati makanan buatan Bu Darmi, Diana tersenyum melihat Juan yang terlihat begitu lahap memakan masakan Bu Darmi.


"Ternyata masakan ibumu sangat enak." Juan tanpa sadar memuji masakan ibunya sendiri.


Ting-Tong...


Terdengar suara Bell berbunyi, Juan terpaksa menjeda makan siangnya, dia berjalan menuju pintu, dia terkejut begitu melihat di layar depan pintu memperlihatkan siapa yang datang ke apartemennya, ternyata dia Tuan Mario.


Juan segera berlari menarik Diana yang sedang makan, Tuan Mario tidak boleh tau ada Diana di apartemennya, dia pasti akan menyelidiki siapa saja yang dekat dengan Juan, dia tidak ingin gadis itu berada dalam masalah karenanya.


"Ehh... om, mau bawa aku kemana?" Diana terkejut begitu Juan menarik tangannya, dia membawa Diana ke kamarnya.


"Ada ayahku, dia tidak boleh melihat kamu. Jadi kamu tetap disini, jangan boleh keluar tanpa seizinku." Setelah mengatakan itu Juan menutup pintu kamarnya.


Diana pasrah saja, dia juga penasaran mengapa Juan harus menyembunyikan Diana, apakah ayah angkatnya Juan itu jahat? Apa mungkin selama ini Juan juga tidak bahagia tinggal bersama orang tua angkatnya?


Juan pun membuka pintu, dia sedikit membungkuk hormat pada Tuan Mario, "Papa."


"Siapa yang menyuruhmu pindah rumah?" Tuan Mario mengatakannya dengan nada tinggi. Dia tidak ingin Juan berada di luar pengawasannya apalagi istrinya sangat menyayangi Juan.

__ADS_1


"Aku ingin belajar mandiri, Pah."


"Kamu tidak boleh pindah. Pulang ke rumah secepatnya."


Kali ini Juan tidak ingin selalu menuruti perintah dari tuan Mario, "Tidak Pah, aku tidak ingin tinggal lagi bersama papa. Selama ini aku hanya dijadikan boneka, papa tidak pernah menganggap aku anak!"


Plak....


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Juan, saking kerasnya Diana yang ada di dalam kamar pun mendengar suara tamparan dan obrolan mereka.


Juan memegang pipinya yang terasa begitu perih.


"Berani kamu menentangku!"


Juan hanya diam, dia tidak ingin berkata-kata apapun lagi.


Tuan Mario mencoba untuk mengontrol emosinya sampai tangannya bergetar, dia menatap Juan dengan begitu tajam, "Baiklah untuk sementara kamu bisa tinggal disini, setelah itu kamu harus pulang." Setelah mengatakan itu Tuan Mario segera pergi dari apartemen Juan.


Tuan Mario menelpon seseorang, pria itu bernama Zerad, Zerad adalah sosok pria yang akan menggantikan Asisten Ken karena selain memiliki otak yang pintar Zerad juga bisa berkelahi, Tuan Mario akhir-akhir ini merasa curiga dengan Asisten Ken yang tak bisa mendapatkan informasi mengenai putranya, apalagi dia kepikiran dengan ucapan Erland yang bilang tau dimana putranya. "Tolong kamu selidiki tentang Erland Putra."


"Baik, Tuan." jawab Zerad, singkat.


...****************...


Diana merasa iba melihat Juan yang pipinya begitu merah bekas tamparan Tua Mario, entah mengapa hatinya begitu tersentuh, mungkin kah selama ini Juan sangat kesepian? Dia mau mengobatinya tapi dia tau tipe Juan tidak ingin dikasihani orang lain. Karena itu dia memilih untuk menghibur Juan.


"Sekarang aku mau permintaan yang kedua, om." ucap Diana. "Bagaimana kalau kita menonton film?"


Juan menolak permintaan Diana yang itu, "Tidak bisa, aku mau istirahat."


"Ayolah hanya sebentar om, hanya nonton." pinta Diana dengan nada manja selayak usianya.


Akhirnya setelah sekian menit antara menolak dan maksa, pemenangnya tentu saja yang maksa. Sampai akhirnya Diana pergi ke bioskop bersama Juan. Tadinya Diana ingin memilih menonton film komedi untuk menghibur Juan, tapi dia rasa yang Juan butuhkan bukan hiburan tapi sesuatu yang bisa membuatnya bisa melepaskan kesedihannya, karena itu Diana memilih menonton film yang sad.


Suasana begitu redup saat lampu bioskop di matikan, membuat orang-orang yang menonton disana menangis tanpa perlu merasa malu ada yang melihatnya karena filmnya begitu menyedihkan, tentang seorang ibu yang telah lama berpisah dengan anaknya.


Mata Juan berkaca, dia jadi teringat dengan Bu Darmi, jika memilih dia lebih baik tidak dilahirkan ke dunia ini karena sesungguhnya dia tidak bahagia dengan kehidupannya yang sekarang. Tanpa terasa air mata mengalir, dia segera menghapus air matanya karena tidak ingin ada yang melihatnya menangis.


Diana pura-pura fokus menonton film, padahal dia dari tadi memperhatikan Juan.


Setelah selesai menonton film, Juan mengantar Diana sampai ke halte bus karena Diana tidak ingin dulu Bu Darmi melihat Juan, waktunya belum tepat, saat ini Juan terlihat banyak pikiran, dia tidak ingin Juan malah membuat Bu Darmi menangis lagi.


"Mengapa tidak sekalian saja kamu meminta permintaan ketigamu." tanya Juan saat Diana akan keluar dari mobilnya. Dia tidak ingin memiliki hutang lagi pada Diana.


"Nanti saja, aku hubungi om lagi. Aku ingin makan bersama om direstoran ibu aku, aku kabari om kapannya."


"Hmm... ya sudah." Juan tidak keberatan karena permintaan Diana hanya makan bersama direstoran saja.

__ADS_1


Setelah Diana keluar dari mobil Juan. Dia memandangi mobil Juan yang berlalu. Entah mengapa dia merasa kasihan pada pria dewasa itu. Sepertinya hidupnya penuh tekanan dan tidak bahagia.


__ADS_2