
"Selama kamu menjadi suami aku, aku ingin kamu tidak terlibat lagi dalam pekerjaan kamu yang membahayakan itu," Eliana mengatakannya sambil memperhatikan Erland yang sedang serius membaca, Eliana sangat menyayangkan Erland rela mempertaruhkan masa depannya demi kekasihnya yang dulu.
Betapa bodohnya pria ini soal cinta, padahal dia begitu pintar tapi dia rela tidak melanjutkan kuliah demi mantan kekasihnya. Gumam hati Eliana. dia pura-pura tidak tau di depan Erland, padahal dia sudah menyelidiki semuanya tentang dia dan Chelsea.
"Mengapa melarangku bekerja disana? Itu tidak ada di dalam perjanjian pernikahan kontrak kita?" protes Erland.
Eliana tersenyum sinis, "Kamu lupa ya dengan point nomor 7, pihak B harus menuruti apa saja keinginan Pihak A." Eliana mengingatkan salah satu point di surat pernikahan kontrak mereka.
"Wah curang sekali!" sewot Erland.
"Tidak ada kata protes."
Eliana memang sangat menakutkan jika dia berubah menjadi mode macan betina, apalagi jika Eliana menatap Erland dengan tajam. Padahal Eliana memang tidak ingin melihat Erland terluka.
Sudah satu jam Erland membaca hampir setengahnya, dia merenggangkan tangannya dan menguap karena ngantuk. "Huammm!" Erland menutup mulutnya dengan tangan.
"Fokus!"
Kata itu mengagetkan Erland.
"Astaga. Ini sudah malam El, aku ngantuk sekali!"
Erland melihat Eliana menatap ke arahnya sambil menyilangkan tangan, Erland menghela nafas, dia terpaksa kembali fokus membaca, walaupun dia terus menguap.
Oke lebih baik begini saja dari, malah di kamar pun akan percuma, aku pasti gak akan bisa tidur.
Erland kembali membaca berkas-berkas perusahaan. Dia membaca tiap helai demi helai lembar, rasa ngantuknya mulai menghilang, entah mengapa dia menjadi tertarik mempelajari semuanya. Sampai tidak terasa dia bisa membaca semuanya dalam waktu dua jam.
__ADS_1
"Akhirnya aku susah membaca semu..." Erland tidak meneruskan perkataannya begitu menyadari ternyata Eliana sudah tertidur di atas sofa.
Eliana tertidur dengan masih menyilangkan tangannya di dada, dia menyandarkan kepala dan punggungnya ke dinding sofa. Saat tertidur pun gadis ini terlihat sangat elegan dan cantik.
Erland memandangi di setiap inci dari wajah cantik Eliana, Eliana memiliki bibir yang tipis, wajah yang tirus, hidup mancung, mata yang indah, rambut panjang berwarna kecoklatan, di tambah kulitnya yang putih dan bersih membuat gadis ini memang sangat terlihat sempurna.
Erland menggelengkan matanya begitu menyadari mengapa dia terus memandangi Eliana yang tengah tertidur.
Erland segera merapikan semua berkas yang ada di atas meja. Dia melihat jam dinding, rupanya sudah pukul 11 malam. Erland ingin membangunkan Eliana, "El..."
Tapi dia tidak tega membangunkannya, Eliana terlihat tidur begitu sangat pulas, mungkin dia kelelahan sekali.
"Padahal dia sangat kelelahan tapi mengapa dia mencoba untuk menggodaku?" gumam Erland sambil nyengir, "Dia itu selalu berlagak sok kuat,"
Erland memandangi wajah Eliana, "Ya walaupun sebenarnya dia memang terkadang sangat menakutkan."
Begitu sampai ke kamar, Erland membaringkan tubuh Eliana di atas kasur, dia menyelimuti gadis itu dengan selimut yang tebal.
Tiba-tiba Eliana memegang tangan kirinya, "Aku takut, aku ingin pulang." Eliana mengatakannya dengan mata terpejam.
"Ini ada di mansion kamu El." Erland ingin melepaskan tangan Eliana, tapi dari raut mukanya dia terlihat seperti sedang bermimpi buruk.
Erland terpaksa duduk di kursi yang ada di pinggir kasur, karena tidak tega melepaskan tangan Eliana.
Erland teringat dengan keluarganya, dia belum juga memberi kabar kepada mereka, dia meronggoh ponselnya lalu mengaktifkan ponselnya.
Erland memperhatikan wajah Eliana, dia seperti pernah mendengar kata-kata itu tapi kapan?
__ADS_1
Erland mencoba untuk mengingatnya, dia membulatkan mata begitu ingat dia pernah mendengar kata-kata itu saat 13 tahun yang lalu.
Mengapa kata-kata nya dan nada bicaranya mirip sekali dengan anak yang ku tolong waktu itu? Ah dasar bodoh, kata-kata seperti itu tidak mungkin cuma dia yang mengatakannya.
Tapi dia takut apa? Apa dia memiliki trauma di masa lalu?
Entah mengapa Erland menjadi penasaran pada Eliana.
Drrrttt...Drrrttt...
Ponselnya bergetar.
Membuyarkan lamunan Erland.
Dia mendapatkan pesan dari Diana.
[Kak, besok datang kesini ya bersama kak Eliana, ibu mau masak yang enak buat kak Eliana]
Erland ingin membalas pesan dari Diana.
[Ya_
Tapi dia tidak jadi membalas pesan dari adik angkatnya itu begitu dia mendapatkan pesan lagi dari seseorang, seseorang yang sulit untuk dilupakan.
[Kak, kita harus bicara, aku mohon. Bisa kan kita bertemu besok?]
Erland memandangi pesan dari Chelsea, dia tidak mengerti mengapa Chelsea ingin bertemu dengannya.
__ADS_1