
Riko cekikikan melihat Eliana yang nampak ketakutan sekali, "Bagaimana rasanya menikah dengan anak dari pembunuh ayahmu?"
Eliana mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti dengan ucapan Riko. Menikah dengan anak dari pembunuh ayahnya? Dia menikah dengan Erland, apa maksud dia... Eliana menepis pikirannya, dia tidak boleh termakan ucapan pria mengerikan itu.
Riko menarik kursi sehingga dia bisa duduk dengan santai berhadapan dengan Eliana, dia memandangi Eliana yang dia ikat tangan dan kakinya.
"Dulu papamu telah menghancurkan perusahaan ayahku. Dan apa kamu tau bahwa papamu dan Mario telah bersekongkol untuk membunuh ayahku. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Mario membunuh ayahku." Riko mengatakannya dengan nafas yang begitu berat, menahan emosinya, dia menatap tajam pada Eliana.
Walaupun Eliana sangat ketakutan, dia mencoba untuk bersikap tenang, ya wanita itu kembali ke sifat yang sebenarnya, tidak ingin terlihat lemah didepan siapapun, "Aku mempercayai papaku, papaku tidak mungkin membunuh ayah kamu. Masalah perusahaan, di dalam dunia persaingan bisnis, kamu harus mengerti jika perusahaan kalah saing tentu saja akan mudah terhancurkan, mengapa harus membenci papaku padahal sudah tau resikonya persaingan bisnis seperti itu? Soal pembunuhan itu, itu urusanmu dengan om Mario karena papa tidak terlibat dengan masalah itu."
Riko tertawa kecil, dia merasa ucapan Eliana begitu menggelitikinya. "Tentu saja papamu bersalah karena telah berani mengusik keluargaku, karena itu dia pantas mati."
Eliana menahan segala rasa amarahnya, dia sangat marah mendengar ucapan Riko.
__ADS_1
"Dua tahun lalu, aku disewa oleh seseorang untuk membunuh papamu. Kamu tau siapa yang menyuruhku?"
Eliana terdiam, dia bisa menebak pasti Tuan Mario, hanya pria itu satu-satunya pria yang dia curigai.
"Dugaan kamu selama ini benar, Ya dia Mario. Dia bahkan rela membunuh sahabatnya sendiri demi ambisinya, karena itu aku ingin tau apa dia bisa membunuh anaknya demi ambisinya itu. Dan apa kamu tau siapa anak kandung Mario?"
Eliana tidak menjawab, dia hanya menatap tajam pada pria itu. Dia taunya Juan adalah anak Mario, tapi mengapa hatinya menjadi cemas saat mencoba menerka siapa anak kandung Mario yang sebenarnya.
"Dia suamimu, Erland Putra." Setelah mengatak itu Riko tertawa puas.
"Tidak mungkin! Erland bukan anak dari pria bajingan itu. Jangan berani membohongiku, aku pastikan akan membuat kamu menyesal disepanjang hidup kamu."
Riko terkekeh, wanita itu masih saja bersikap angkuh walaupun dirinya sedang berada dalam bahaya. "Kamu persis papamu, sangat angkuh. Tapi kamu harus menerima kenyataan bahwa suamimu adalah putra dari Mario, bagaimana rasanya? Mengejutkan bukan?"
__ADS_1
Eliana tidak ingin mendengarkan omong kosong itu, dia tetap akan menganggap ucapan Riko adalah sebuah kebohongan. "Gak mungkin. Sampai kapanpun aku tidak akan mempercayaimu. Erland bukan anak Om Mario. Lebih baik kamu diam, aku tidak ingin mendengar ucapan kamu lagi."
Riko meronggoh saku di jaketnya, dia membawa pisau lipat, memperlihatkan betapa tajamnya pisau yang ada di genggamannya, "Kalau begitu kamu tanyakan sendiri di neraka, karena saat ini dia pasti sudah mati ditangan ayahnya sendiri. Hahaha... permainan yang sangat menyenangkan."
Eliana terkejut mendengarnya, apa yang terjadi pada Erland? Dia sangat mencemaskannya. Dia tidak akan rela jika Erland mati meninggalkannya walaupun dia tidak tau bagaimana perasaan Erland padanya tapi dia cukup mengetahui tentang isi hatinya sendiri yang mencintai Erland.
Eliana gemetaran melihat betapa tajamnya pisau yang dipegang oleh Riko, dia sangat ketakutan walaupun dia berusaha untuk tetap bersikap tenang, tapi sungguh dia sangat ketakutan sekali saat ini.
Er, apakah kamu baik-baik saja? Ini pasti tidak benar kan, tidak mungkin kamu anak om Mario.
Braakkk...
Mereka dikejutkan dengan suara sebuah mobil menghancurkan pintu gudang, bahkan mobil itu masuk ke dalam dengan keadaan bonyok bagian depannya.
__ADS_1
"Sial!" Riko mengumpat, sungguh di luar dugaan, mengapa pertolongan itu datang, dia segera berlari ke arah mobil sambil memegang pisau tajam di tangannya, dia ingin menyerang orang itu.