Terjerat Hasrat Ceo Cantik

Terjerat Hasrat Ceo Cantik
76


__ADS_3

Riko menyerang Erland, Erland dengan cepat menghindar, lalu memukul punggung Riko dengan keras.


"Shiitt!" Riko mengumpat, dia berlari untuk menusuk Erland, lagi-lagi Erland bisa menghindarinya, malahan Riko mendapatkan hadiah bogem mentah beberapa kali diwajahnya.


Eliana terus memperhatikan Erland yang sedang berkelahi dengan Riko, kecemasan melanda dirinya, membuatnya tidak tenang, apalagi melihat keadaan Erland yang terluka, dia meringis melihatnya.


Riko melihat ada darah di baju Erland, dia tersenyum sinis begitu tau perut Erland bagian kiri terluka, dia menendang luka itu dengan begitu keras.


"Arrrggghhh!" Erland meringis, darah bercucuran kembali, membuat dia kehilangan keseimbangan dan ambruk ke lantai.


Riko cekikikan, dia mengijak luka itu di perut Erland "Jangan sok jagoan. Kamu bukan tandinganku!"


"Erland!" teriak Eliana, dia menangis melihat Erland kesakitan, dia tak peduli lagi jika dia terlihat menjadi wanita lemah, memang begitu kenyataannya.


Dengan cepat Riko mengarahkan pisau ke arah dada Erland. Erland menahannya dengan telapak tangannya. Dia menendang kaki Riko, sampai Riko sedikit mundur ke belakang, Erland menjegal kaki Riko sampai tubuh Riko ambruk ke lantai dan pisau dari tangannya terlempar.


Erland duduk di perut Riko, dia melayangkan beberapa pukulan di wajah Riko. "Kau harus mati, karena sudah menyakiti Eliana."


Bugh...


Bugh...


Bugh...


Mengapa Erland semarah itu? Apakah Erland menyukainya? Hati Eliana penuh tanda tanya, bahkan Erland rela terluka karenanya. Tapi bagaimana jika benar Erland adalah anak dari Tuan Mario?


Tidak mungkin.

__ADS_1


Erland pria yang baik. Sementara Tuan Mario adalah manusia berhati iblis, tidak mungkin Erland anak Tuan Mario. Riko pasti membuat cerita kebohongan agar Eliana membenci Erland. Itulah yang ada di pikiran Eliana.


Wajah Riko terluka dan merasakan kepalanya sangat pusing karena beberapa kali mendapatkan pukulan dari Erland.


Riko mencoba menahan pukulan itu, dia melawan, berhasil melayangkan tinjunya ke wajah Erland. Sampai mereka sama-sama bangkit dan terus saling memukul. Akhirnya Erland berhasil mengangkat tubuh Riko membanting tubuhnya ke lantai.


"Arrrggghhh!" Riko merasakan tubuhnya seakan remuk tak berdaya, dia nampak kesulitan untuk bangkit lagi, punggungnya terasa ngilu.


Erland segera berlari menghampiri Eliana, dia membuka semua tali yang mengikat kaki dan tangan Eliana.


"Er...." Eliana tak bisa menahan tangisnya, dia terisak. Dia tidak peduli harus terlihat lemah di depan Erland.


Mata Erland berkaca-kaca melihat kepala Eliana terluka, dia tak tega melihatnya. "El, kamu terluka."


"Aku tidak apa-apa." Walaupun terasa sakit, tapi Eliana tidak ingin Erland mengkhawatirkannya, seharusnya dia yang mengkhawatirkan Erland.


Eliana hanya diam dengan tatapan kebingungan, apa mungkin setelah kecelakaan di hutan itu dia mengalami amnesia? Tapi dia tidak ingat apa saja yang dia lakukan selama dia amnesia, dia hanya mengingat di hutan tiba-tiba ada yang mendorongnya bahkan kamera digital yang dia pegang terlampar jauh darinya dan dia jatuh kebawah.


Eliana mengangguk pelan.


Erland merasa lega akhirnya Eliana mengingat semuanya, tentu saja dia bahagia karena sangat merindukan sosok Eliana yang dulu.


Eliana terkejut saat melihat ada Riko berjalan ke arah mereka sambil memegang pisau. "Er, awas!"


Erland segera bangkit, dia membalikan badan untuk melindungi Eliana.


Dorr...

__ADS_1


Terdengar suara tembakan.


"Argghhh!" Riko meringis kesakitan karena kakinya terkena peluru, membuatnya tak berdaya untuk bangkit lagi.


Rupanya sebelum tiba di gudang, Erland menelpon polisi terlebih dahulu, karena itu Zerad memilih memutar arah begitu melihat ada tiga buah mobil polisi pergi ke arah gudang. Ini akan menjadi masalah besar bagi Tuan Mario jika Riko mengatakan yang sebenarnya tentang kejahatan Tuan Mario.


"Saudara Riko anda kami tahan atas penyekapan nona Eliana!" Salah satu polisi memborgol kedua tangan Riko, Riko tak bisa menahannya karena kakinya mendadak lumpuh.


Pandangan Erland mulai kabur, dia merasakan pusing yang luar biasa mungkin karena banyak darah yang keluar dari tubuhnya. Sampai dia tidak kuat untuk berdiri, dia berlutut ke lantai.


"Er, kamu gak apa-apa kan?" Eliana terkejut melihatnya, dia terbelalak begitu menyadari perut Erland terluka parah.


"Pe-perut kamu kenapa Er? Kita harus ke rumah sakit!"


Eliana mencoba untuk membantu Erland bangkit, dia nampak panik sekali. Namun Erland menahannya, dia memeluk Eliana dengan erat, "Aku cinta kamu Eliana, kamu adalah cinta pertamaku. Aku tidak akan memaafkan diri aku sendiri jika kamu terluka."


Eliana terdiam, hatinya bergetar mendengar pengakuan Erland. Setelah mengatakan itu Erland tak sadarkan diri, sementara tubuhnya masih memeluk Eliana.


"Erland!"


Namun tak ada jawaban.


Eliana baru sadar Eliana memejamkan matanya, dia semakin panik, dan menangis histeris.


"Erland, bangun!"


"Erland!"

__ADS_1


__ADS_2