
Pagi ini di kantor utama Alaska Corp, Eliana akan mengadakan meeting dadakan, para karyawan pikir Eliana sedang menikmati bulan madunya dengan suami tercinta, ternyata tidak.
Erland terus saja mengekori Eliana di perusahaan itu.
Di kantor bagian depan, para karyawan berjajar dengan rapi menyambut datangnya sang nona, mereka menyapa Eliana dengan sedikit membungkukan badan pertanda hormat.
"Selamat pagi Nona Direktur!"
Eliana terlihat acuh, berjalan dengan pandangan lurus tanpa melihat ke arah mereka.
"Pagi..." Erland membalas sapaan mereka.
"Wah suaminya ramah juga." kata karyawan 1.
"Nah iya bukan hanya ramah, tapi juga sangat tampan." kata karyawan 2.
Eliana memasuki lift khusus para atasan, di susul oleh Erland dan Miss Bona.
"Nona, kenapa tidak ngambil libur untuk bulan madu?" tanya Miss Bona, Miss Bona juga tidak tau Eliana akan masuk hari ini.
"Saya orangnya tidak mau membuang-buang waktu." jawab Eliana dengan nada ketus. "Hari ini akan di adakan meeting, beritahu mereka!"
"Baik, nona!"
Ya Eliana di kantor selalu menggunakan mode macan betina. Erland memilih diam saja karena dia belum paham mengenai pekerjaannya Alaska Corp.
Eliana mengantarkan Erland ke ruangannya, di ruangan itu tertulis Manager Lapangan.
"Ini ruangan kamu." kata Eliana dengan pandangan yang dingin, dia duduk santai di kursi sambil menatap Erland.
"Emm... oke, tapi apa tidak berlebihan. Aku hanya lulusan..."
__ADS_1
Eliana memotong perkataan Erland, "Tidak, aku yakin kamu bisa menjalankan tugas kamu."
"Mengapa kamu percaya padaku untuk memberi jabatan ini?"
"Karena kamu seseorang yang bekerja keras."
Erland teringat dengan Eliana yang sepertinya semalam dia bermimpi buruk sampai dia mengigau. "Apa semalam kamu bermimpi buruk?"
Erland duduk di samping Eliana.
"Memangnya kenapa?" Eliana malah balik nanya.
"Semalam kamu mengigau dan menggegam erat tanganku. Sepertinya kamu ketakutan sekali."
Eliana menghela nafas, rasanya pasti memalukan buat Eliana karena dia tidak ingin terlihat lemah di depan siapapun tapi dia malah bisa memperlihatkan sisi terlemahnya pada Erland.
"Emm... lupakan saja!" Eliana tidak ingin Erland membahas masalah itu.
Eliana malah nyengir, "Mengapa kamu mengatakan itu? Apa kamu kasihan padaku karena aku terlihat begitu kesepian."
"Bu-bukan, bukan begitu..."
"Lupakan saja jika kamu merasa kasihan. Aku tidak suka jika melihat tatapan seperti itu." Eliana menatap kedua bola mata Erland.
Eliana beranjak dari duduknya "Setengah jam lagi aku tunggu di ruang meeting." Setelah mengatakan itu Eliana segera meninggalkan Erland di ruangan itu.
Erland hanya bisa menghela nafas, "Apa aku salah bicara? Dia benar-benar macan betina sekarang, sangat berbeda sifatnya dengan semalam." Erland jadi membayangkan Eliana yang sedang menggodanya dengan tersenyum manis dengan menggunakan lingerie.
"Aish!" Erland menghalau pikiran m3sumnya.
Setengah jam kemudian, meeting pun telah di mulai. Eliana mengenalkan suaminya pada semua staf jajaran tertinggi di Alaska Corp.
__ADS_1
"Perkenalkan pria ini adalah suamiku, Erland Putra, karena posisi Manager Lapangan sedang kosong, saya ingin suamiku yang menduduki posisi itu. Dia seorang yang pekerja keras dan cukup pintar, jadi saya harap kalian semua menyetujui keputusanku." Eliana duduk di kursi khusus CEO, dia memang merangkap dua jabatan itu, berada di kursi paling tengah membuat dirinya menjadi pusat perhatian semua orang.
Gadis itu terlihat begitu cantik dan elegan.
Sekarang Erland mengerti mengapa banyak pria yang menyukai Eliana, hampir saja dia tersihir akan pesonanya.
Ada yang setuju, ada juga yang tidak setuju dengan keputusan Eliana.
Juan hanya memandangi Erland dengan tatapan sinis.
"Bukannya dia cuma lulusan SMA, saya tidak setuju dengan keputusan ini." Tuan Mario menolak Erland untuk menduduki jabatan manager lapangan itu.
Eliana nyikapinya dengan tenang, "Mengapa?"
"Anda tau sendiri kan manager lapangan dulu lulusan apa? Tidak setara dengan penggantinya sekarang, bahkan yang dulu saja tidak becus melakukan tugasnya, apalagi yang hanya lulusan SMA." Tuan Mario rupanya ingin menjatuhkan Erland di depan semua orang yang hadir di meeting room itu, secara tidak langsung dia menjatuhkan harga diri Eliana.
"Lulusan SMA? Mengapa Nona Direktur asal-asalan sekali menujuk orang buat menduduki jabatan itu."
"Ya lah, karena dia suaminya."
"Bisa-bisa ancur perusahaan ini jika ada yang menempati jabatan tidak sesuai dengan kemampuannya."
Orang-orang yang ada disana terus berbisik seperti itu.
"Apa kamu tau proyek hutan di daerah kota D? Manager Lapangan yang dulu tidak sanggup mengatasinya, apalagi masyarakat disana sangat tidak setuju dengan membuat hotel disana." Tuan Mario masih terus memojokkan Eliana, dia merasa puas karena banyak orang yang sependapat dengannya. "Sebuah proyek yang gagal total, bahkan anda pun tidak bisa mengatasi proyek itu nona El."
Eliana mengepalkan tangannya memandangi Tuan Mario, ingin sekali rasanya dia mencakar pria tua itu.
Juan berusaha untuk membela Eliana, "Saya rasa proyek itu memang tidak bisa di lanjutkan, karena..."
Perkataannya di potong oleh Erland, "Kita bisa melanjutkan proyek itu, aku akan berusaha keras untuk menjalankan tugasku. Dan aku jamin Nona Direktur tidak akan pernah menyesal telah memilih aku sebagai manager lapangan."
__ADS_1
Eliana memandangi Erland dengan tatapan takjub, apalagi saat Erland berdiri, dia mencoba untuk menerangkan apa saja idenya mengenai proyek itu, itu karena Erland benar-benar mempelajari semua tugasnya semalam.