
Setelah berhasil menemukan kalung Eliana di kamar hotel, Erland bergegas melangkah dengan cepat, kembali ke basement, karena dia tidak ingin terlalu lama meninggalkan Eliana.
Namun dia dikejutkan dengan ketidakberadaan Eliana di dalam mobil, "El!"
Hati Erland begitu gelisah, dia sangat kalap karena tidak mendapati Eliana di sekitar sana, dia terus mencari Eliana di basement, "Eliana!"
Dia mencari keberadaan sang istri sambil terus mengedarkan pandangannya.
Drrrttt...Drrrttt...
Ponsel Erland bergetar, dia mendapatkan pesan dari nomor tidak dikenal. Erland melihat ada sebuah video yang dikirim oleh seseorang.
Erland sangat emosi, wajahnya merah padam menahan amarah yang begitu dalam, saat melihat video Eliana yang sedang terbaring pingsan di bagasi mobil dengan kepalanya yang terluka.
"Bajingan!" Erland mengumpat dengan segala amarahnya, dia langsung menelpon orang yang telah mengirimnya pesan.
Terdengar suara cekikikan seorang pria mengangkat telepon darinya, "Hahaha... hallo nak, kita bertemu lagi."
Erland sangat tau itu suara Riko, amarahnya semakin menjadi. "Keparat! Cepat lepaskan Eliana! Bertarunglah secara jantan denganku. Lepaskan dia!"
__ADS_1
Riko malah terkekeh geli, sepenting itu kah Eliana bagi Erland, "Haruskah aku membunuhnya saja?"
Emosi Erland semakin berapi-api, dia mengepalkan tangannya, dia tidak akan sanggup kehilangan Eliana, "Jika sampai kamu menyakiti Eliana, aku akan merobek tubuhmu. Cepat katakan dimana kamu? Jangan berani kamu menyakiti Eliana!"
Riko sama sekali tidak takut dengan ancaman Erland, "Jangan pernah mencoba melapor pada polisi, aku jamin kamu akan melihat mayat Eliana jika berani menghubungi polisi."
"Brengsek! hhh...hhhh..." Nafas Erland begitu berat menahan amarahnya, ingin sekali dia membunuh Riko pada saat itu juga.
Klik!
Namun sayangnya Riko malah mematikan panggilan telepon, membuat amarah Erland semakin menjadi-jadi.
Erland mencoba untuk menelpon Riko lagi namun sayangnya ponsel Riko sudah tidak aktif.
"Brengsek! Arrrggghhh!" Erland sangat kehilangan akal, dia meninju mobilnya beberapa kali untuk melampiaskan amarahnya, tak peduli walau tangannya terluka.
Satu-satunya yang bisa dia dapatkan info keberadaan Eliana tentu saja dari ayah kandungnya sendiri, Tuan Mario, karena dia adalah dalang dari semua ini.
Erland bergegas mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kediaman Tuan Mario, begitu sampai dia dihalangi oleh beberapa anak buah Tuan Mario yang menjaga mansionnya. Erland tak peduli, dia memilih melawan, sampai perkelahian itu terjadi.
__ADS_1
Bughh...
Bughh...
Lalu ada beberapa orang berlari membawa pipa besi, sampai beberapa kali pipa besi itu mengenai tubuh Erland, bahkan kepalanya.
Erland tak peduli dengan luka yang ada ditubuhnya, dia terus melawan, berusaha untuk masuk ke dalam, walaupun darah bercucuran di pelipisnya.
"Tuan Mario! Cepat keluar!" Erland berteriak.
"Dimana Eliana?"
Bughh...
Pipa besi itu mengenai punggung Erland kembali, tubuhnya terasa begitu remuk. satu lawan 20 orang, mustahil baginya untuk menang. Namun Erland masih berusaha untuk bangkit walaupun seluruh tubuhnya kesakitan.
Tuan Mario yang mendengar teriakan Erland bergegas pergi keluar. Kebetulan nyonya Vera sedang tidak ada disana, malam ini dia pergi mengunjungi Juan untuk mengantarkan makanan untuknya. Ini bisa dijadikan kesempatan bagi Tuan Mario untuk membunuh Erland karena ini adalah di Mansionnya, dibawah kekuasaannya.
Tuan Mario tertawa kecil melihat Erland yang terluka, Eliana ada di tangan Riko, dan Erland di tangannya. Sungguh luar biasa baginya. "Bagus sekali kamu datang kesini, itu artinya dengan sukarela kamu menyerahkan nyawamu!"
__ADS_1
Tuan Mario menodongkan pistol ke arah kepala Erland. Dia menekan pelatuknya....