Terjerat Hasrat Ceo Cantik

Terjerat Hasrat Ceo Cantik
81


__ADS_3

"Wah masakannya banyak sekali bu!" seru Diana, dia menemani Bu Darmi memasak, kebetulan malam ini Bu Darmi memasak lumayan banyak.


"Ibu mau berkunjung ke rumah Eliana, kan kakak kamu sudah pulang dari rumah sakit." Bu Darmi nampak semangat sekali, dia merasa lega Erland baik-baik saja.


"Ibu tidak marah kalau ternyata kak Erland anaknya orang om yang jahat itu?" tanya Diana.


Bu Darmi terdiam sejenak, saat Erland masih koma dia dikejutkan dengan nyonya Vera yang datang menangisi keadaan Erland, rupanya Tuan Mario sudah berkata jujur mengenai siapa anak kandungnya pada nyonya Vera.


Tentu saja Bu Darmi kaget bukan main, rupanya selama ini dia telah merawat anak dari orang yang telah mengambil anaknya secara paksa. Tapi Bu Darmi sadar Erland tidak tau apa-apa masalah ini, tidak pantas jika dia membenci Erland.


"Tidak, malah ibu beruntung memiliki putra seperti dia." Rasa sayang telah mengalahkan rasa bencinya.


"Hmm... ya juga, kak Erland gak tau apa-apa masalah ini." Diana bersyukur BU Darmi tidak membenci Erland.


"Biar Diana aja yang antar kesana Bu. Ibu kan masih capek jaga restoran."


"Ya udah, makasih ya sayang." Bu Darmi mengusap rambut Diana dengan lemnut.


Diana jadi teringat Juan, Juan juga kelihatannya suka sekali dengan masakan Bu Darmi. Selama dua minggu ini Diana belum bisa membawa Juan bertemu dengan Bu Darmi karena Bu Darmi sibuk keluar masuk rumah sakit untuk menjenguk Erland.


"Boleh aku ngirim makanan juga buat teman aku Bu?"


"Hmm...buat pangeran tampan itu?"


Diana menggaruk kepalanya sendiri, "Hehehe...ya begitu lah Bu."


Bu Darmi mengerti seusia Diana sudah memiliki ketertarikan pada lawan jenis, "Tentu saja boleh , kapan-kapan suruh dia makan kesini."

__ADS_1


"Iya Bu."


Diana memilih pergi ke apartemen Juan dulu yang jaraknya lumayan dekat, sudah lama dia tidak lihat si om jutek itu.


Saat itu gerimis berjatuhan, Diana memakai payungnya, dia berjalan menuju apartemen Juan. Semua orang disana berhamburan mencari tempat untuk berteduh, namun hanya ada satu orang yang malah berjalan dengan santai membiarkan hujan berjatuhan membasahinya.


Ternyata orang itu Juan.


Diana mempercepat jalannya menghampiri Juan. Juan kaget tiba-tiba ada yang memayunginya dari belakang, sampai bela-belain Diana menjinjitkan kakinya, apalagi dia sangat kewalahan membawa makanan yang dia bawa di dalam paper bag.


Juan hanya menoleh sebentar, dia melihat Diana tersenyum ceria padanya, "Om."


Juan hanya menghela nafas, dia berjalan lagi mengabaikan Diana. Namun Diana malah mengikutinya sambil memayungi Juan. "Om, ini hujan. Pakaian om basah lho."


Juan menghentikan langkahnya, Dia memperhatikan Diana, padahal Diana sendiri yang kehujanan gara-gara sibuk memayungi Juan.


Juan jadi tidak tega melihatnya. Dia merebut payung dari tangan Diana, dan menarik Diana untuk mendekatkan jaraknya agar mereka tidak kehujanan.


Diana merasakan ada perasaan aneh saat tubuhnya yang hampir saja mau menempel dengan pria dewasa itu. Oh perasaan apa ini...


"Dasar anak kecil!" Juan menambahkan perkataannya.


Diana tidak terima disebut anak kecil oleh Juan, "Anak kecil? Aku udah gede, tujuh belas tahun om."


"Hm... ya itu masih kecil namanya."


Juan terpaksa memayungi anak kecil itu, dia membawa Diana ke apartemennya. Juan melempar satu kaos pada Diana, "Coba pakai itu mungkin cocok untuk kamu."

__ADS_1


"Tidak perlu om, bajuku gak terlalu basah kok."


"Tapi kelihatan dalamnya. Warna hitam." Juan mengatakannya dengan santai sambil menyeruput coklat panas, dia meletakkan satu coklat panas untuk Diana.


Diana reflek menyilangkan tangan di dadanya, dia tidak menyangka Juan akan seberani itu menyebutkan warna branya. Dia terpaksa mengganti baju.


"Ternyata dia bisa berpikir m3sum juga." kata Diana sambil mengganti bajunya di kamar Juan.


Diana memperhatikan seluruh isi di kamar Juan, dia melihat ada lukisan yang baru setengah jadi, Diana berjalan ke arah lukisan itu, dia tertegun saat melihat rupanya Juan sedang melukis Bu Darmi. Juan belum memiliki keberanian untuk menemui ibunya, apalagi dia merasa bersalah karena telah menyakiti Bu Darmi dengan perkataannya.


Lalu pandangnya beralih ke lukisan yang satu lagi, Diana membulatkan matanya begitu melihat wajah kakak iparnya ada dilukisan itu.


"Kak El!"


Apa selama ini dia naksir kak Eliana?


Diana tidak ingin ikut campur walaupun ada beberapa pertanyaan ingin dia bicarakan pada Juan, tapi dia rasa dia tidak berhak untuk bertanya. Diana lebih memilih memberikan makanan untuk Juan.


"Apa ini termasuk permintaan ketiga kamu?" tanya Juan sambil makan, dia tidak bisa menolak untuk menikmati masakan Bu Darmi, karena rasanya begitu nagih.


"Bukan om, biar nanti aku hubungi om."


"Hmm...lalu dalam rangka apa kamu memberikan makanan ini?"


Diana kebingungan untuk menjawab pertanyaan Juan, "Emm...anu...ibuku masak terlalu banyak, makanya ibu bagi-bagi makanan, nah ini juga aku mau bagi ke yang lain." Diana menunjuk satu paper bag diatas meja.


"Hmm... ya sudah," Juan meneruskan makannya kembali.

__ADS_1


"Emm... terimkasih untuk kata-kata mu waktu itu walaupun kamu anak kecil tapi kamu bisa berpikir dewasa."


"Sebentar lagi aku dewasa om, bakal 18 tahun. Jadi jangan panggil aku anak kecil lagi."


__ADS_2