Terjerat Hasrat Ceo Cantik

Terjerat Hasrat Ceo Cantik
90


__ADS_3

Dengan ragu-ragu Erland menemui Tuan Mario di paviliun.


Saat itu Tuan Mario berniat mengakhiri hidupnya sendiri, dia mengarahkan pistol ke kepalanya sendiri. Dia rasa hidupnya sudah tidak ada artinya sekarang. Anak dan istrinya begitu membencinya. Apalagi jika mengingat Erland yang hampir mati karena ulahnya.


Namun dia mengurungkan niatnya begitu mendengar suara langkah seseorang, dia langsung menyimpan pistol ke dalam saku celananya.


Erland melihat Tuan Mario sedang berada di belakang paviliun, Tuan Mario pura-pura menaburi makanan ke dalam kolam ikan, tapi pandangnya kosong, seakan dia tidak fokus dengan apa yang dia lakukan.


Tuan Mario hanya diam ketika Erland duduk di kursi satu lagi di dekatnya.


Tuan Mario menoleh sebentar, lalu menaburi makanan ikan lagi ke dalam kolam. Erland ikut menaburi makanan ikan itu ke dalam kolam.


"Emm... ikannya banyak sekali." Erland mulai membuka mulutnya, sambil memperhatikan banyak ikan di dalam kolam sana.


Tuan Mario tidak langsung menanggapi, dia masih sibuk memberi makan ikan. Setelah 10 menit terdiam, lalu dia menanggapi perkataan Erland, "Hmm... iya." Hanya mengatakan itu saja rasanya gugup sekali.


"Kebetulan aku juga sangat menyukai ikan, saat masih kecil ibu membuat kolam kecil di belakang rumah." Erland menceritakan masa kecilnya dengan begitu canggung.


Tuan Mario menoleh sebentar ke arah Erland, lalu memfokuskan dirinya kembali untuk memberi makan ikan "Apa dia memperlakukan kamu dengan baik?"


Tuan Mario tau ibu yang di maksud Erland adalah Bu Darmi.


"Tentu saja, sangat baik. Ibu yang sudah menolong aku saat aku masih kecil. Dan menyayangiku dengan sepenuh hati."


Tuan Mario sudah mengetahui itu semua dari Zerad, bahwa Bu Darmi telah merawat Erland dari usia 11 tahun, bahkan Bu Darmi dan suaminya lah yang telah menolong Erland waktu itu.


Apa ada rasa bersalah pada Bu Darmi? Tentu saja ada. Walaupun Tuan Mario masih mengkedepankan sikap tinggi hatinya yang anti meminta maaf dan rasa egoisnya.


Sementara selama ini dia telah banyak menekan Juan untuk bisa tampil sempurna sesuai keinginannya. Beruntung nyonya Vera sangat menyayangi Juan.


"Awalnya, aku merasa tersiksa, mengapa harus anda yang menjadi ayahku. Tapi aku tidak bisa lari dari kenyataan, karena ditubuhku ini begitu nyata mengalir darahmu." Erland mengatakan itu dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Begitu juga Tuan Mario, dia hanya bisa diam mendengarkan apa yang di ucapkan Erland.


"Bagaimana pun keadaannya nanti, sampai kapanpun Anda adalah papaku. Dan aku sudah menerima kenyataan itu. Tapi..." Tanpa terasa Erland menitiikan air matanya, dia segera menghapus air mata itu.


"Tapi aku harap papa bisa mempertanggungjawabkan apa yang papa lakukan di masa lalu dan masa sekarang."


Tuan Mario terdiam, seharusnya dia marah karena Erland malah menyuruh dia untuk menyerahkan diri ke polisi, tapi semua emosi itu telah terasa hilang begitu saja. Dia malah merasa dirinya begitu lemah.


"Hubungi aku jika papa mau meminta aku untuk mengantar papa ke kantor polisi." Setelah berkata begitu Erland berdiri dan sedikit membungkukkan badan pertanda hormat.


Tuan Mario tidak mengatakan sepatah katapun, dia hanya terdiam seribu bahasa.


Dengan perasaan sedih dia menatap punggung Erland yang pergi meninggalkannya.


...****************...


Jam 4 sore, Eliana memutuskan untuk pulang. Tiada hentinya dia meracau di depan Miss Bona.


"Apakah Nona ingin saya memberikan pelajaran padanya?" Maksud Miss Bona dengan cara memboikot nama Chelsea di semua perusahaan agar tidak ada yang boleh menerima Chelsea bekerja atau dengan cara yang lebih sadis lagi.


"Tidak perlu." Eliana merasa kasihan juga kepada wanita itu.


"Hmm... aku sedang hamil."


"Wah benarkah nona!" seru Miss Bona.


"Ya, saat ini aku senang karena memiliki keluarga yang akan lengkap. Karena itu kau juga sama, kau harus menikah Miss Bona."


"Ah ya ampun, nona, aku masih belum berpikiran kesana." Miss Bona malah tersipu malu.


"Jangan buat aku terlihat menjadi nona yang jahat, membiarkan asistennya menjadi perawan tua."

__ADS_1


Miss Bona hanya mengusap dada mendengar perkataan Eliana, "Emm... iya nona, saya usahakan secepatnya menikah."


"Memang ada calonnya?"


Miss Bona hanya menjawab dengan sebuah senyuman.


Eliana dan Miss Bona terkejut begitu melihat Erland yang ada di basement menunggu Eliana. Miss Bona memilih pulang lebih dulu, dia tidak ingin menjadi nyamuk diantara mereka berdua.


"Er, kenapa kamu disini? Seharusnya kamu istirahat di rumah." Eliana malah mengomel.


Melihat Eliana yang mengomel seperti itu justru Eliana terlihat menggemaskan bagi Erland. Eliana adalah obat baginya, sebuah penawar rasa sakit di semua lukanya. Erland tersenyum manis padanya dan menarik Eliana ke dalam pelukannya.


Memeluk Eliana dengan erat.


"Aku merindukanmu El."


"Ya ampun, padahal cuma 8 jam kita gak ketemu." Eliana membalas pelukan Erland.


"El..."


"Kenapa?"


"Aku hari ini sangat sedih. Aku butuh kamu untuk menghiburku." Tumben sekali pria itu bersikap manja padanya.


"Menghibur? Tapi aku gak bisa jadi badut dan gak bisa melawak." Eliana nampak kebingungan harus menghibur Erland dengan cara apa.


Perkataan Eliana malah membuat Erland tertawa, "Ya pakai cara yang lain saja, gak perlu pakai itu."


"Lalu mau dengan cara apa?"


Erland berbisik pada Eliana. Eliana membulatkan matanya begitu mendengar bisikan dari Erland.

__ADS_1


__ADS_2